Pernyataan The Fed Dorong Penguatan Rupiah

Oleh Arthur Gideon pada 18 Feb 2019, 11:00 WIB
Diperbarui 19 Feb 2019, 18:14 WIB
Rupiah Menguat Tipis atas Dolar

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadaap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan di awal pekan ini. sentimen dari luar mendorong penguatan rupiah.

Mengutip Bloomberg, Senin (18/2/2019), rupiah dibuka di angka 14.117 per dolar AS, emnguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.154 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak menguat di kisaran 14.104 per dolar AS hingga 14.117 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah menguat 1,99 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.106 per dolar AS, menguat tipis jika dibandingkan dengan Jumat lalu yang ada di angka 15.116 per dolar AS.

Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail mengatakan, pelemahan dolar AS didorong oleh pernyataan Presiden The Fed wilayah San Fransisco Mary Daly yang mengatakan bahwa The Fed kemungkinan tidak akan menaikkan tingkat suku bunga tahun ini.

Daly menilai, Fed Fund Rate tidak akan naik karena inflasi yang hanya 1,9 persen serta pertumbuhan ekonomi AS yang diperkirakan hanya dua persen tahun ini.

"Rupiah kemungkinan menguat seiring pelemahan dolar AS tersebut," ujar Ahmad dikutip daari Antara.

Ia memperkirakan, pada hari ini rupiah kemungkinan menguat ke level 14.000 per dolar AS hingga 14.090 per dolar AS.

2 of 3

Faisal Basri: Rupiah Masih akan Bergejolak di Tahun Politik

Rupiah Tetap Berada di Zona Hijau
Teller tengah menghitung mata uang rupiah dan dolar di Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (10/1). Hingga hari ini, US$ 1 dibanderol Rp 14.020. Rupiah menguat 0,71% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ekonom Faisal Basri mengatakan bahwa kestabilan nilai tukar rupiah masih akan menghadapi tantangan di tahun politik. Bahkan rupiah dinilai masih mengalami pelemahan di 2019 ini.

Faisal mengatakan, meski di awal tahun waktu rupiah sempat menguat ke level 13.000 per dolar AS, tetapi saat ini rupiah kembali ke 14.000 per dolar AS.

"Rupiah tidak menguat secara signifikan, masih akan naik turun. Secara psikologis dan historis rupiah masih akan melemah," ujar dia dalam Market Outlook 2019 Mandiri Manajemen Investasi di Jakarta, pada Rabu 13 Februari 2019. 

Tekanan terhadap rupiah masih bersumber dari defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Oleh sebab itu, penting bagi pemerintah untuk menurunkan CAD agar rupiah bisa menguat dan stabil di 2019.

"Karena masih CAD, kalau current account ini defisit ya rupiah melemah. Karena CAD ini terdiri dari ekspor impor barang dan jasa. Nah kalau utang tidak setiap bulan. Jadi (penguatan) rupiah yang mengandalkan utang tidak akan sustainable. Tapi kalau mengandalkan CAD bisa sustain," kata dia.

Selain itu, meski ekspor dan impor merupakan kegiatan yang wajar dilakukan oleh sebuah negara, namun Indonesia harus bisa menekan impor khususnya untuk barang-barang yang sebenarnya bisa diproduksi di dalam negeri dan menggenjot ekspor nonmigas.

"Ekspor-impor sebetulnya suatu hal yang lumrah dilakukan oleh suatu negara. Kalau kita tidak bisa bikin suatu produk, ya terpaksa impor. Tapi kita juga harus jual produk kita ke pasar negara lain. Ini supaya seimbang," tandas dia.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓