Kerap Dikritik Prabowo, Seberapa Besar Impor Pangan RI?

Oleh Septian Deny pada 17 Feb 2019, 16:28 WIB
Diperbarui 18 Feb 2019, 13:02 WIB
20151112-Beras Vietnam-Pelabuhan Tanjung Priok-Jakarta

Liputan6.com, Jakarta Pangan menjadi salah satu topik pembahasan debat kedua calon presiden (capres) yang berlangsung pada malam ini. Selama ini, Prabowo Subianto kerap mengkritik kebijakan impor pangan Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Hal serupa kemungkinan kembali berulang pada debat capres kali ini. Seperti diungkapkan Direktur Debat dan Materi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Sudirman Said, capres Prabowo Subianto akan membawa catatan statistik di debat capres pada Minggu 17 Februari 2019. Catatan yang dibawa itu terkait dengan impor.

"Ya statistik detail, siapa tahu diperlukan ya. Itu perlulah. Misalnya pertumbuhan ekonomi, kemudian data data impor beras, impor BBM. Itu barangkali data data yang siapapun bisa mendapatkan," kata Sudirman di media center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya I No 35, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (16/2/2019).

Peneliti Indef Rusli Abdulah mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sejak 2000, tren impor pangan terutama beras yang dilakukan Indonesia berfluktuatif.

Impor pernah naik tajam, tetapi juga turun. Namun pada 2018 lalu, secara volume menjadi impor beras tertinggi kedua sejak rahun 2.000.

"Impor kecenderungannya meningkat. Impor beras di 2018 jadi yang tertinggi kedua sejak 2000. Tertinggi pertama yaitu pada 2011," kata dia.

Adapun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), besaran impor komoditas  pangan Indonesia bervariasi.

Untuk komoditas beras, besaran impor per tahun yakni:

Beras:

Tahun 2000 sebesar 1,35 juta ton, 2001 sebesar 644 ribu ton, 2002 sebesar 1,8 juta ton, 2003 sebesar 1,4 juta ton, 2004 sebesar 236 ribu ton, 2005 sebesar 189 ribu ton, 2006 sebesar 438 ribu ton, 2007 sebesar 1,4 ribu ton, 2008 sebesar 289 ribu ton, 2009 sebesar 250 ribu ton, 2010 sebesar 687 ribu ton, 2011 sebesar 2,75 juta ton, 2012  sebesar 1,81 juta ton, 2013 sebesar 472 ribu ton, 2014 sebesar 844 ribu ton, 2015 sebesar 861 ribu ton, 2016 sebesar 1,28 juta ton 2017 sebesar 305 ribu ton, 2018 sebesar 2,25 juta ton

Jagung

2008 sebesar 275 ribu ton, 2009 sebesar 338 ribu ton, 2010 sebesar 1,52 juta ton, 2011 sebesar 3,2 juta ton, 2012 sebesar 1,69 juta ton, 2013 sebesar 3,19 juta ton, 2014  sebesar 3,25 juta ton, 2015 sebesar 3,26 juta ton, 2016 sebesar 1,13 juta ton, 2017 sebesar 517 ribu ton, 2018 sebesar 737 ribu ton dan Januari 2019 sebanyak 84 ribu ton.

 

Garam

2008 sebesar 1,6 juta ton, 2009 sebesar 1,7 juta ton, 2010 sebesar 2 juta ton, 2011  sebesar 2,83 juta ton, 2012 sebesar 2,22 juta ton, 2013 sebesar 1,92 juta ton, 2014  sebesar 2,26 juta ton, 2015 sebesar 1,86 juta ton, 2016 sebesar 2,14 juta ton, 2017        sebesar 2,55 juta ton, 2018 sebesar 2,83 juta ton dan Januari 2019 sebanyak 10 ribu ton. 

2 of 2

Gula, Kedelai dan Daging

Gula Pasir
Ilustrasi Foto Gula Pasir (iStockphoto)

Gula

  • 2008 sebesar 1,01 juta ton, 2009 sebesar 1,37 juta ton, 2010 sebesar 1,78 juta ton, 2011 sebesar 2,5 juta ton, 2012 sebesar 2,76 juta ton, 2013 sebesar 3,34 juta ton, 2014 sebesar 2,96 juta ton, 2015 sebesar 3,37 juta ton, 2016 sebesar 4,76 juta ton, 2017 sebesar 4,48 juta ton dan 2018 sebesar 5,02 juta ton.

Kedelai

  • 2010 sebesar 1,74 juta ton, 2011 sebesar 2,08 juta ton, 2012 sebesar 1,92 juta ton, 2013 sebesar 1,78 juta ton, 2014 sebesar 1,96 juta ton, 2015 sebesar 2,25 juta ton, 2016 sebesar 2,26 juta ton, 2017 sebesar 2,67 juta ton, 2018 sebesar 1,15 juta ton dan Januari 2019 sebanyak 255 ribu ton.

Daging

  • 2010  sebesar 140 ribu ton, 2011 sebesar 102 ribu ton, 2012 sebesar 40 ribu ton, 2013 sebesar 54 ribu ton, 2014 sebesar 109 ribu ton, 2015 sebesar 50 ribu ton, 2016 sebesar 146 ribu ton, 2017 sebesar 160 ribu ton, 2018 sebesar 207 ribu ton dan Januari 2019 sebanyak 10 ribu ton.
Lanjutkan Membaca ↓