Wika Targetkan Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Capai 55 Persen

Oleh Septian Deny pada 08 Feb 2019, 14:33 WIB
Diperbarui 08 Feb 2019, 14:33 WIB
IBD Expo dan Banking Expo 2017
Perbesar
Pengunjung melihat miniatur kereta cepat di pameran Indonesia Business and Development Expo (IBD Expo) di Jakarta, Rabu (20/9). Pameran IBD Expo berlangsung dari 20-23 September 2017. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - PT Wijaya Karya Tbk (Wika) menargetkan kemajuan pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung mencapai 55 persen hingga akhir 2019. Pada akhir tahun lalu, proses pembangunannya mencapai sekitar lima persen.

Direktur Utama Wika, Tumiyana mengatakan, pihaknya optimistis hingga akhir tahun ini pembangunan kereta cepat tersebut mencapai 55 persen. Hal ini didukung oleh pembebasan lahan yang sebagian besar sudah rampung dilakukan.

"Target progres (akhir 2019) 55 persen," ujar dia di Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (8/2/2019).

Dia menjelaskan, pada 2019, ada sejumlah fokus pengerjaan yang akan dilakukan, yaitu pembangunan fondasi, pembuatan terowongan dan pemasangan track. Namun untuk track, baru bisa dikerjakan setelah fondasi selesai dibangun.

"Ya track, semua. Tunnel, baru track. Urutannya, kita kerja mulai fondasi, habis itu dudukan rel, rel lewat terowongan, terowongannya rampung rel masuk," kata dia.

Meski demikian, lanjut Tumiyana, Wijaya Karya akan bekerja seefektif dan secepat mungkin untuk mengejar target selesainya proyek ini pada 2021.

"Jadi semua dikejar (diselesaikan). Pokoknya (di 2019) 55 persen," ujar dia.

 

2 dari 2 halaman

Mesin Bor Raksasa Tiba, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Dikebut

Melihat Pameran Alat Transportasi di JIExpo Kemayoran
Perbesar
Model berpose di sisi miniatur kereta cepat saat pameran INAPA 2017 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (29/3). Pameran ini berlangsung di Hall B1 JIExpo Kemayoran. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Sebelumnya, pelaksanaan Konstruksi Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung dikebut dengan hadirnya Tunnel Boring Machine (TBM) yaitu alat bor yang didatangkan khusus dari Negeri Tirai Bambu dan telah mendarat di Lokasi Tunnel #1 Halim Km 3+600, Jakarta.

TBM KCJB tersebut berangkat dari Zhanghuabang Wharf, Shanghai, China, dengan kapal 'Phoenix Pine' ke Tanjung Priok.

Proses administrasi dan pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh Bea dan Cukai Kantor Pelayanan Utama, Tanjung Priok, mendukung tibanya TBM di lokasi Tunnel #1 Halim dengan tepat waktu.

“Tunnel Boring Machine ini nantinya mampu membuat terowongan untuk dua jalur kereta cepat sehingga saya yakin, progres pembangunan kereta cepat yang ditargetkan 60 persen dapat tercapai,” tegas Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Chandra Dwiputra, Kamis 31 Januari 2019.

Metode Shield Tunneling dengan Tunnel Boring Machine di Tunnel #1, Tunnel boring machine super besar yang berbobot 3.649 ton dengan diameter 13,19 m dan panjang mencapai 105 m ini akan beroperasi di daerah Halim.

Cara kerja mesin bor ini menggunakan Metode Shield Tunneling untuk pengerjaan konstruksi terowongan sepanjang 1.885 m yang merupakan bagian dari 22 titik penting pekerjaan konstruksi KCJB.

Pengerjaannya menggunakan metode Shield Tunneling dikarenakan titik kritis ini berlokasi di Km 3+600 melewati jalan tol Cikampek dan overpass jalan arteri Jatiwaringin yang notabene merupakan titik terpadat mobilisasi warga Jakarta ke daerah Bekasi dan Bandung.

Penggunaan TBM ini diyakini oleh Chandra sama sekali tidak akan menghambat lalu lintas tol Jakarta – Cikampek karena tingkat keamanan metode pengerjaan Shield Tunneling jauh lebih tinggi dibandingkan dengan metode Drill, blasting atau metode lainnya.

Metode ini bekerja seperti cacing bawah tanah dimana pengerjaannya dilakukan tanpa mengganggu aktivitas yang ada diatasnya. Selain itu, TBM juga digunakan pada titik ini karena sesuai dengan aturan Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP) Bandara Halim Perdanakusuma yang mengatur ketinggian bangunan dan kemungkinan mengganggu operasional penerbangan.

Perakitan alat TBM akan memakan waktu sekitar 45 hari dengan target di bulan Maret akan segera dilanjutkan dengan operasi.

“TBM akan bekerja secara signifikan dengan pengeboran selama 24 jam tanpa henti. Optimalisasi pengeboran pada titik ini rata-rata sebesar 8 – 10 meter per hari sehingga diharapkan dapat mempercepat pekerjaan di titik ini,” ungkap Chandra.

Dia juga menegaskan komitmen perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung ini pada tahun 2021.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓