Pengusaha Truk Keluhkan Tingginya Tarif Tol Trans Jawa

Oleh Liputan6.com pada 06 Feb 2019, 14:30 WIB
Diperbarui 06 Feb 2019, 15:16 WIB
Lima ruas bagian dari Tol Trans Jawa yang dikerjakan oleh Jasa Marga dan Waskita Karya siap diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). (Dok Kementerian BUMN)

Liputan6.com, Jakarta Pengusaha truk mengeluhkan tarif Tol Trans Jawa yang dinilai terlalu mahal. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Nofrisel menyebutkan tarif Tol Trans Jawa sangat berpengaruh terhadap pengeluaran perusahaan.

Bahkan jika diakumulasikan, tarif tol meningkat pesat dibanding sebelumnya. "Sebenarnya bukan kemahalan. Kita membacanya bukan rate tarifnya. Kita membacanya bahwa penerapan tarif itu berpengaruh terhadap struktur cost kita, dari sisi pengusaha truk," kata dia di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (6/2/2019).

Dia mengungkapkan, bila melalui jalur Tol Trans Jawa, biaya operasional truk kian membengkak. Padahal, tarif tol mengambil perann cukup besar dari total pengeluaran logistik.

"Kita dengan komponen seperti itu, maka kita merasakan adanya implikasi cost yang naik di struktur cost kita. Jadi kita merasa bahwa komponen tol cukup signifikan pengaruhnya terhadap struktur cost kita," ujar dia.

Dia mengungkapkan, semula biaya untuk jalan tol hanya berkisar antara Rp 500 hingga Rp 600 ribu. Sekarang tarif tersebut membengkak hingga dua kali lipat.

"Cukup signifikan ya (pengaruhnya), kalau sekarang tarif tol hampir sejuta lebih, belum fuel, orang yang bolak-balik. Dua kali lipat," ujarnya.

Dia menyatakan pihaknya berharap tarif tol Trans Jawa dapat ditinjau ulang dengan mempertimbangkan banyak aspek. Diharapkan tarif tol Trans Jawa bisa diturunkan hingga 20 persen.

"Jadi kita berharap bisa dipertimbangkan untuk tarif tol, di-adjust, ditinjau kembali. Sementara yang dilakukan teman-teman Aptrindo ya sebagian tidak lewat jalan tol. Mereka memilih jalur pantura biasa," tutup dia.

Konektivitas di Pulau Jawa kini semakin berkembang. Terutama dengan banyak dibukanya ruas-ruas jalan tol baru yang menghubungkan banyak daerah. Namun kondisi tersebut masih menyisakkan satu permasalahan. Yaitu tarif yang tidak murah.

 

Reporter: Yayu Agustini Rahayu

Sumber: Merdeka.com

2 of 2

Tekan Biaya Logistik

Lima ruas bagian dari Tol Trans Jawa yang dikerjakan oleh Jasa Marga dan Waskita Karya siap diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). (Dok Kementerian BUMN)
Lima ruas bagian dari Tol Trans Jawa yang dikerjakan oleh Jasa Marga dan Waskita Karya siap diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). (Dok Kementerian BUMN)

Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menyebutkan persoalan tarif tersebut membuat tujuan utama pembangunan tol yaitu menekan biaya logistik menjadi tidak tercapai.

Dia menyebutkan, tarif tol yang tinggi tidak akan menjadi masalah bagi pengguna kelas menengah ke atas yang menggunakan mobil pribadi. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi truk-truk logistik.

"Tarif tol dari Jakarta - Surabaya andaikan itu mencapai lebih dari Rp 300.000 sekali jalan, buat kelas menengah masih affordable. Pertanyaan pentingnya sebenarnya yang harus lebih dilihat adalah tuntutan dari jasa logistik yang mengeluh karena tarif tol yang lebih mahal dan berkali-kali lipat itu terjadinya lebih parah pada transportasi logistik. Karena dipisahkan yang mobil pribadi sama yang logistik dan harganya lebih mahal," kata Bhima belum lama ini.

Bhima mencontohkan, saat tol Cipali beroperasi berdasarkan data sebanyak 30 persen truk logistik malah beralih menggunakan jalan arteri atau jalan umum dalam perjalanannya.

Bhima mengungkapkan, ada hal lain selain tarif yang menjadi penyebab kondisi tersebut. Yaitu adanya faktor sosial budaya yang luput dari perhatian pemerintah saat membangun jalan tol.

"Kenapa truk dibikinin jalan tol masih lewat jalan arteri? yang pertama kalau soal tarif mahal itu masih rasional. Yang kedua miss di culture, di sini supir truk itu mau mampir bentar - bentar di Pantura. Dan sopir truk itu bukan sopirnya Lamborghini atau Ferrari yang butuh kecepatan 100 km per jam atau 200 km per jam, truk itu jalannya 15 sampai 20 km per jam. Jadi buat apa saya masuk jalan bebas hambatan kalau speed-nya sama dengan jalur arteri," ujar Bhima.

Kemudian yang terjadi adalah jalan tol yang harusnya mampu menekan logistic cost tidak dapat tercapai. Jalan tol hanya dinikmati oleh kaum menengah ke atas yang melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi.

"Sudah susah payah dipaksakan harus membangun jalan tol, tetapi penikmat yang harusnya diprioritaskan itu angkutan logistik tidak mendapatkan kenikmatan, malah akhirnya kembali kepada jalan arteri. Dan saya masuk pada paham yang lebih radikal, jangan-jangan yang kita butuhkan di Indonesia khususnya menyambungkan Jawa itu bukan jalan tol, justru memperbesar jalur arteri itu multiplier efectnya lebih besar," ujarnya.

Bhima mengungkapkan, ada alternatif solusi mahalnya jalan tol bagi kendaraan logistik. Yaitu adanya subsidi dari APBD. Sebab pengelola jalan tol tidak mungkin menurunkan tarif karena mereka mengejar waktu balik modal atau break event point secepat-cepatnya.

"Kecuali skemanya adalah APBD subsidi angkutan yang masuk ke jalan tol diskon 50 persen subsidinya masuk ke dalam APBD setiap daerah yang dilintasi jalan tol. Itu salah satu juga bagaimana konsep untuk menurunkan tarif tol," tutupnya.

 

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait