Perang Dagang Surutkan Kedatangan Turis China ke Bali?

Oleh Tommy Kurnia pada 06 Feb 2019, 07:45 WIB
Pantai Kelingking, Nusa Penida

Liputan6.com, Jakarta - Pada liburan Imlek 2019 atau Tahun Baru China 2570 wilayah Bali masih menjadi destinasi primadona para turis mancanegara dan lokal. Turis-turis dari China terutama masih mendominasi.

Namun, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China tampak memberi dampak pada kedatangan turis China. Ini terlihat dari pertumbuhan kedatangan turis yang tak sebaik tahun-tahun sebelumnya.

"Memang betul kelihatannya ada pengaruhnya, apalagi juga dari China, terutama yang sangat dominan tahun lalu tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya," ujar Ketua Bali Hotel Association Ricky Putra ketika dihubungi Liputan6.com, seperti dikutip Rabu (6/2/2019).

Sementara, Ricky menjelaskan kedatangan dari negara-negara lain terpantau normal. Bulan Februari pun sebetulnya masuk kategori low-season yang peningkatannya digenjot Imlek. Sayangnya, tahun ini tak sebaik tahun-tahun sebelumnya.

"Kita masih low-season, tapi biasanya ada peningkatan karena Chinese New Year. Ada peningkatan tapi tak sebagus tahun-tahun sebelumnya," tegas Ricky.

Hal senada juga dijelaskan Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani, ia menyebut awal Februari terhitung low-season. Pada Imlek pun tujuan utama biasanya tetap Bali.

"Hitungannya awal Februari, itu low-season. Tetapi kalau bicara Imlek, ini sebetulnya hari kejepit, jadi destinasi wisata ya ramai, tapi kota sepi. Masih biasa paling ke Bali. Daerah-daerah yang memang sudah biasa mereka datangi," jelasnya.

Selain turis China, Ricky menjelaskan turis asing yang berlibur di Bali kala Imlek berasal dari Australia, India, Inggris Raya, lalu Jepang. Turis domestik juga berlibur di Bali meski okupansi mereka tidak menunjukkan perubahan atau pengurangan.

Untuk kedatangan, Ricky menyebut turis sudah meramaikan Bali sejak H-3 Imlek dan diperkirakan menetap di Pulau Dewata hingga Minggu. "Dari tiga hari yang lalu, H-3, sampai kira-kira sekarang sampai hari minggu biasanya," paparnya.

 

2 of 2

Sehari Jelang Imlek, Penjualan Cemilan di Pasar Petak Sembilan Turun

Barongsai Hibur Penumpang Commuter Line
Barongsai menghibur penumpang kereta api di stasiun Jakarta-Kota, Selasa (5/2). Di Tahun Baru Imlek ini PT KAI menghadirkan hiburan Barongsai serta meluncurkan KMT tematik dan pemberian fortune cookies bagi pengguna jasa KRL. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Perayaan Imlek 2019 turut menjadi berkah penjual makanan ringan (snack) di Pasar Petak Sembilan, Glodok, Jakarta. Meski demikian, beberapa pedagang menyatakan terjadi penurunan omzet atau penjualan beberapa hari jelang perayaan yang jatuh pada 5 Februari 2019.

Seperti yang diungkapkan Nini (25), pengelola keuangan yang juga anak pemilik Toko Kuh Koh yang terletak di dalam Pasar Petak Sembilan. Angka penjualan tertinggi saat Imlek terjadi sekitar dua pekan sebelum hari raya berlangsung. 

"Puncak keramaian pembeli biasanya ada pas seminggu-dua minggu sebelum Imlek. Sehari sebelum Imlek sisa-sisa doang," ucap dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Pasar Petak Sembilan, Jakarta, Senin, 4 Februari 2019.

Nini mengaku, pendapatan saat hari puncak bisa menyentuh Rp 70 juta. "Omzet hari puncak kisarannya antara Rp 50-70 juta," sebutnya.

Dia menyampaikan, kacang mede kiloan merupakan komoditas favorit pembeli dalam perayaan Imlek kali ini. Secara harga jual, ia mematok angka Rp 300 ribu dengan opsi tawar.

"Per kg antara Rp 200 ribu-Rp 300 ribu. Kalau nawar bisa dapat pengurangan Rp 20 ribu per kg. Lebih banyak beli lebih bisa nawar harga," kata dia.

Pedagang lain Yoseph (20) menuturkan, kehadiran Imlek tiap tahun pasti membawa berkah peningkatan transaksi kuliner cemilan khas hari besar umat keturunan Tionghoa tersebut.

"Setiap Imlek pasti bakal meningkat. Biarpun omzet meningkatnya enggak banyak, pasti tiap tahun meningkat. Kacangmede paling favorit. Kedua, sumpia," tutur dia.

Namun begitu, ia melanjutkan, kegiatan transaksi telah berkurang sejak dua hari lalu. "(Transaksi) 21 hari sebelum Imlek udah pasti naik. Tiga hari sebelum Imlek biasa turun," ucapnya

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait