Ingin Mulai Investasi pada 2019? Yuk Simak Tipsnya

Oleh Bawono YadikaAgustina Melani pada 06 Feb 2019, 06:00 WIB
Suku Bank Bank

Liputan6.com, Jakarta - Tahun Baru China atau disebut Imlek 2019 jatuh pada Selasa, 5 Februari 2019. Biasanya menyambut perayaan tahun baru China ini ada sejumlah tradisi yang dilakukan, seperti berkumpul bersama keluarga, memberikan angpao, dan lainnya.

Selain itu, setiap merayakan tahun baru, ada sejumlah harapan dan resolusi yang ingin dilakukan. Misalkan salah satunya dengan membenahi keuangan. Bila selama ini, Anda tidak ketahui, uang dikeluarkan untuk apa saja. Mungkin ini waktunya untuk memperbaiki kebiasaan dan keuangan. Salah satunya dengan investasi.

Ingin tahu bagaimana untuk mulai investasi di tahun baru ini? Atau ingin pilih investasi apa saja yang dapat jadi pertimbangan Anda? Yuk simak ulasan ini:

Perencana Keuangan, OneShildt Financial Planning, Muhammad Andoko menuturkan, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan saat berinvestasi. Pertama, lamanya investasi. Seseorang mesti tahu penggunaan penghasilan untuk investasi dalam jangka pendek dan panjang.

"Jika uang investasinya digunakan misalkan untuk menikah, pendidikan anak sebaiknya ditempatkan di deposito, obligasi. Jangan ke pasar modal yang naik turun secara harian," ujar Andoko saat dihubungi Liputan6.com, seperti ditulis Selasa (5/2/2019).

Kedua, profil risiko. Andoko menuturkan, ketika seseorang ingin mulai investasi juga perlu mengetahui profil risikonya, apakah dia konservatif dan moderat. "Pelajari dulu profil risiko seseorang," kata dia.

Ketiga, jenis investasi. Adapun hal tersebut tergantung dari profil risiko dan jangka waktu investasi. Keempat, imbal hasil. Menurut Andoko, seseorang juga perlu memperhatikan kinerja imbal hasil masing-masing aset investasi. Ini sebagai alat perbandingan dan informasi mengenai aset investasi. Kelima, tujuan investasi.

Seseorang harus mengetahui tujuan investasinya untuk apa. Keenam, Andoko mengingatkan agar tidak menempatkan aset investasi dalam satu keranjang. Jadi perlu diversifikasi investasi agar menopang aset lain bila alami koreksi.

 

2 of 4

Emas

20151109-Ilustrasi-Logam-Mulia
Ilustrasi Logam Mulia (iStockphoto)

Adapun pilihan investasi yang dapat jadi pertimbangan pada 2019 ini pun beragam. Investasi tersebut mulai dari emas, reksa dana, saham, properti, dan lainnya.

Pada 2019, investasi di logam mulia, seperti emas dinilai ada potensi menguat.  Diperkirakan harga emas dapat berada di kisaran USD 1.325-USD 1.350 per ounce.

"Kelihatannya emas masih positif pada 2019," tutur Analis PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjenda.

Ia menuturkan, emas dapat positif pada 2019 lantaran kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve lebih longgar sehingga menekan dolar AS. Ini bisa menjadi momen beli dolar AS sehingga harga pun dapat menguat.

Selain itu, IMF menurunkan proyeksi ekonomi global sehingga ada kekhawatiran perlambatan ekonomi global. "Pertumbuhan ekonomi diturunkan dari 3,7 persen menjadi 3,5 persen sehingga emas jadi aset safe haven,” kata dia.

Sentimen lainnya yaitu mulai dari proses brexit, shutdown atau sebagian penutupan penerbangan AS. ekonomi China melambat, bahkan hingga sentuh level terendah dalam 28 tahun juga tetap perlu diapresiasi.

Untuk sentimen yang perlu dicermati pelaku pasar yaitu, rapat the Federal Reserve atau bank sentral AS yang akan dilakukan delapan kali. Dalam rapat ini, pelaku pasar akan mencari sinyal bagaimana arah kebijakan moneter the Fed ke depan.

 “Rapat ini patut dicermati. Karena dari 8 pertemuan the Federal Reserve, empat rapat the Federal Reserve perlu dicermati yaitu Maret, Juni, September dan Oktober. Bila tiba-tiba ada revisi pandangan the Fed ke depan, ” ujar dia.

Ariston pun merekomendasikan untuk buy on weakness pada saat harga emas di kisaran USD 1.240. Selain itu, bisa hold pada 2019.

Sementara itu, Andoko menuturkan, investasi emas peluang cocok sebagai aset investasi yang aman dipegang untuk menjaga inflasi.

 

3 of 4

Reksa Dana

20151113-Ilustrasi Investasi
lustrasi Investasi Penanaman Uang atau Modal (iStockphoto)

Selain emas, salah satu investasi yang bisa jadi pertimbangan yaitu reksa dana. Direktur PT Panin Asset Management, Rudiyanto menuturkan, ada sejumlah hal yang patut dicermati untuk investasi di reksa dana antara lain, profil risiko, tujuan investasi dan kondisi keuangan.

Rudiyanto menambahkan, bila investasi jangka panjang, sebaiknya berinvestasi di reksa dana saham. Sedangkan investasi jangka menengah dan pendek, sebaiknya menempatkan alokasi dana di reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang.

Saat berinvestasi di reksa dana juga perlu mencermati kondisi  global dan domestik. Pada 2019 merupakan tahun politik. Rudiyanto menuturkan, kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) dan obligasi biasanya mencatatkan hasil positif. Pada 2014, IHSG tumbuh 22,29 persen ke posisi 5.226,36 IHSG tumbuh 86,98 persen ke posisi 2.534,36.

Pada 2019, Rudiyanto menuturkan, pihaknya prediksi, IHSG dapat tembus posisi 7.200-7.400. Ada sejumlah faktor pengaruhi pergerakan IHSG pada 2019.

Salah satunya pemilihan umum (Pemilu). Rudiyanto mengatakan, pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) berjalan baik pada 2019 juga dapat menjadi katalis positif untuk pasar keuangan di Indonesia.

Sentimen lainnya yang perlu dicermati juga langkah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Diperkirakan, BI menaikkan suku bunga hanay satu kali pada 2019. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga perlu dicermati. Tekanan terhadap rupiah semakin berkurang sehingga diperkirakan, rupiah bergerak di posisi 14.200 per dolar AS.

"Rupiah bisa menguat atau tidak tergantung kebijakan bank sentral terutama Amerika Serikat,” kata dia.

Rudiyanto menambahkan, kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat yang merupakan sentimen eksternal yang perlu dicermati. Ditambah perkembangan negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat dan China.

 

4 of 4

Saham

20160801-IHSG-Melesat-Jakarta-AY
Pekerja melintas di layar sekuritas di Jakarta, Senin (1/8). IHSG mengakhiri perdagangan hari ini ditutup di teritori positif. Seharian, IHSG bergerak di zona hijau dan ditutup melesat hingga nyaris 3%. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi dapat menembus ke level 7.000 pada tahun ini. Kondisi pasar dinilai mendukung bagi IHSG untuk mencapai rekor terbarunya kembali pada 2019.

"Kita expect IHSG di tahun ini yaitu by the end of the year sih sekitar 7.000. Jadi ada kenaikan sekitar 10 sampai 12 persen dari tahun lalu. Itu sesuai dengan ekspektasi market sendiri," ujar Deputy Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Tjandra Lienandjaja di Plaza Mandiri, Jakarta Selatan, Senin 21 Januari 2019.

Untuk beberapa sektor yang diunggulkan, lanjut dia, perbankan dan industri barang konsumsi (consumer goods) menjadi salah dua yang direkomendasikan pada tahun ini.

"Yang kita promosikan masih di Food and Beverages (F&B), consumer, banking dan property companies, healthcare juga termasuk," imbuh dia.

Untuk yang tidak perform (unggul), sektor komoditas merupakan salah satu industri yang dipercaya tidak begitu gemilang menurutnya.

"Industri komoditas, karena komoditas masih belum begitu bagus. Tapi ada satu dua yang capaiannya lebh dari yang lain. Sedangkan untuk prospek batu bara, mungkin dibandingkan tahun lalu memang tidak bagus, tapi adalah satu dua yang pencapaiannya lebih bagus dibandingkan dari perusahaan lain," ujarnya.

Adapun emiten properti yang menawarkan harga terjangkau diramal bakal laris pada tahun ini.

"Properti yang pick up duluan yang lebih ke bawah ya, yang lebih end user. Kalau lihat sekarang kan perkembangannya company-company yang memproduksi rumah rumah yang lebih afordable itu yang lebih bisa mencapai sasaran mereka," pungkasnya.

 

 Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

 

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait

Live Streaming

Powered by