Usai Merger, Intip Komposisi Pemegang Saham Bank BTPN

Oleh Agustina Melani pada 01 Feb 2019, 20:43 WIB
Diperbarui 02 Feb 2019, 01:17 WIB
Layanan Digital Bank

Liputan6.com, Jakarta - Bank BTPN, bank hasil penggabungan (merger) antara PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI) beroperasi pada 1 Februari 2019.

Adapun penggabungan bank tersebut membuat ada perubahan kepemilikan pemegang saham. Sumitomo Mitsui Banking Corporation pun ditunjuk sebagai pembeli siaga untuk membeli saham BTPN sehubungan dengan penggabungan usaha.

Berdasarkan data RTI, 30 Januari 2019, transaksi saham BTPN mencapai Rp 14,3 triliun. Harga pembelian saham 4.282 kali dengan frekuensi satu kali perdagangan saham. Volume perdagangan saham 3.334.326.344.

Usai transaksi tersebut, komposisi kepemilikan saham baru Bank BTPN antara lain Sumitomo Mitsui Banking Corporation sebesar 96,89 persen, PT Bank Central Asia Tbk 1,03 persen, publik kurang dari lima persen sebesar 2,08 persen.

Sebelumnya komposisi kepemilikan lama saham BTPN antara lain Sumitomo Mitsui Banking Corporation sebesar 39,92 persen, Summit Global Capital Management sebesar 19,96 persen, PT Bank Central Asia Tbk sebesar 1,03 persen dan publik sebesar 39,09 persen.

Melihat komposisi PT Bank Central Asia Tbk (BCA) masih mempertahankan kepemilikannya. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menuturkan, pihaknya telah berhubungan baik dengan SMBC. Oleh karena itu, pihaknya meneruskan kepemilikan saham tersebut.

"Dari saat SMBC Indonesia kita ada satu persen sekarang diteruskan saja. Karena sudah hubungan baik dengan SMBC dan mereka sudah sebagai partner aliansi sesuai kebijakan LN BCA, tidak buka cabang LN (luar negeri-red) tapi beraliansi untuk galang bisnis," ujar Jahja saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat.

 

2 dari 2 halaman

Bos Bank BTPN Beberkan Strategi Bisnis Usai Merger

Layanan Digital Bank
Nasabah memanfaatkan layanan digital Banking BTPN, Jenius, di Jakarta, Jumat (26/1). Generasi millennial di usia 18-35 tahun merupakan segmen utama pengguna layanan digital yang membutuhkan kecepatan layanan dan serba praktis. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, PT Bank BTPN Tbk (Bank BTPN) resmi beroperasi sebagai bank baru, hasil penggabungan usaha (merger) antara PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI).

Direktur Utama Bank BTPN, Ongki Wanadjati Dana, mengatakan pasca merger Bank BTPN akan memiliki bisnis yang lebih lengkap dan dapat melayani nasabah yang lebih luas dari mass markets sampai korporasi.

"Bank hasil merger merupakan perpaduan yang ideal antara BTPN yang fokus pada mass marketdan UMKM dan SMBCI yang fokus pada korporasi. Kedua bank memiliki segmen dan model bisnis berbeda tapi saling melengkapi," kata dia, di Menara BTPN, Jakarta, Jumat 1 Februari 2019.

Menurut dia, Bank BTPN hasil merger akan fokus mengembangkan bisnis utama BTPN dan SMBCI sebelumnya. BTPN akan mengembangkan bisnis pensiunan, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta terus mendorong perbankan digital lewat BTPN WOW! dan Jenius. Sekaligus menggarap bisnis korporasi SMBCI.

"Dengan modal yang lebih besar bisnis korporasi BTPN akan memiliki kemampuan pembiayaan yang lebih besar. BTPN bisa melakukan penjualan silang dan usaha kecil menengah untuk kebutuhan nasabah korporasi," urai dia.

"Kita akan terus kembangkan Jenius dan akan tambahkan fitur-fiturnya jadi terobosan baru ya tambah bisnis baru, pinjaman, gimana Jenius," imbuhnya.

Selain itu, BTPN akan terus mengembangkan segmen pasar yang belum disentuh korporasi menengah dan segmen komersial, dan mecakup bisnis ritel.

"Memiliki skala bisnis yang lebih besar, BTPN menjadi salah satu dari 10 bank yang memiliki aset besar di indo. Bank BTPN memiliki kemampuan dan peluang memberikan pembiayaan pada industri yang lebih luas, pelayanan lebih baik dan kontribusi pada perekonomian nasional," tandasnya.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓