Bulog Dapat Izin Impor Jagung Tanpa Kuota

Oleh Liputan6.com pada 29 Jan 2019, 18:57 WIB
Diperbarui 31 Jan 2019, 18:13 WIB
Panen Raya, Petani Tuban Hasilkan 33,7 Ton Jagung

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Jokowi-JK kembali membuka keran impor jagung, setelah sebelumnya jagung impor telah masuk ke dalam negeri sebesar 130 ribu ton. Bedanya, kali ini pemerintah memperbolehkan Badan Urusan Logistik (Bulog) mengimpor tanpa kuota.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, izin impor tanpa kuota diberikan kepada Bulog seiring dengan habisnya jagung yang telah didatangkan ke dalam negeri. Sementara di pasaran harga jagung masih tinggi.

"Kita kan tak bisa mengimpor pada waktu panen nanti terjadi, sehingga yang kita berikan adalah kita beri plafonlah pada Bulog. Anda boleh impor, tapi tidak boleh masuk lebih dari pertengahan Maret," ujar Menko Darmin di Kantornya, Jakarta, Selasa (29/1/2019).

Menko Darmin mengatakan, keputusan menambah impor ini merupakan hasil rapat tingkat menteri bersama Bulog pada Kamis lalu. Alasan kuat melakukan impor adalah, permintaan tinggi namun persediaan sudah menipis.

"Itu rapat Selasa lalu itu kita tugaskan Bulog untuk cek. Hari kamis kita rapat lagi, mereka kemudian turun ke lapangan saya juga minta bantuan Gubernur Jatim juga saya minta turun ke lapangan. Ada semua angka-angkanya bahwa di Jawa Barat panen jagung tuh belum ada," jelasnya.

"Jadi panen belum ada, dan paling-paling panennya itu Maret pertengahan. Jatim malah April, padahal permintaan-permintaan dari peternak kecil menengah, baik petelor atau pedaging itu masuk terus ke Bulog," sambungnya.

 

2 dari 2 halaman

Langsung Disalurkan

Kementan
Bambang Sugiharto menyatakan bahwa berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) disimpulkan produksi dan pasokan jagung tahun 2018 surplus sebesar 12 juta ton pipilan kering (PK).

Mantan Direktur Jenderal Pajak tersebut menambahkan, jagung impor nantinya akan langsung disalurkan kepada petani menengah kecil. Paling lambat, jagung impor yang baru akan sampai pada minggu kedua Maret mendatang.

"Pokoknya yang diutamakan kecil dan menegah karena dibatasi sampai masuk barangnya itu paling lambat minggu ke dua Maret 2019. Jangan terjadi dulu panen raya di April," tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓

Video Pilihan Hari Ini

Kue Mirip Tisu Toilet Laku Dijual di Jerman