Kemenkeu Andalkan Generasi Milenial dan Ibu Rumah Tangga Biayai Defisit

Oleh Liputan6.com pada 29 Jan 2019, 16:30 WIB
Diperbarui 29 Jan 2019, 17:17 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memantau langsung Program Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) di Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (16/1/2018). (Reza Efendi/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memiliki strategi untuk mencari pembiayaan guna menambal defisit Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) 2019. Salah satunya, melakukan pendalaman pasar investor terutama kelompok millenial dan ibu rumah tangga.

"Kami terus melakukan strategi untuk melakukan pendalaman market, bersama-sama OJK dan BI, kita masuk ke retail juga, itu dikaitkan juga dengan keinginan untuk mendapatkan investor base dari surat-surat berharga negara," ujar dia di Kemenkeu, Jakarta, Selasa (29/1/2019).

"Karena kalau investornya makin banyak terutama di kelompok milenial, kita sudah buat komunitas investor di Indonesia yang lebih kuat, sehingga tidak mudah terombang-ambingkan apabila ada sentimen global. Opsi terakhir kita juga melihat growing part berasal dari millenial selain ibu rumah tangga," lanjut dia.

Sri Mulyani mengatakan, pertumbuhan investor generasi milenial cukup agresif dalam beberapa waktu belakangan. Hal ini menggambarkan edukasi investasi semakin baik.

"Dari segmen usia, millenial tumbuhnya cukup tinggi dari sisi jumlah investornya, mereka growing, ini menggambarkan bahwa edukasi investasi semakin baik dan kemauan diversifikasi dari tabungan mereka juga baik," jelasnya.

 

 Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Sri Mulyani pada rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Bali
Sri Mulyani pada rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Bali. Dok: am2018bali.go.id

Sri Mulyani melanjutkan, upaya lain untuk menambal defisit APBN adalah dengan mengamati kondisi masrket dalam negeri dan luar negeri. Kemudian, pemerintah juga melakukan diversifikasi instrumen pembiayaan agar tetap mampu merefleksikan kebutuhan dalam negeri dan kewajiban pembayaran.

"Kita harus melihat kondisi market dalam negeri maupun luar negeri. Dari sisi pertama, trend cost of fund-nya, The Fed sudah naikkan suku bungs dan BI lakukan adjustmen, kami tentu harus melakukan strategi bagaimana mendapatkan pendanaaan yang paling aman dan yang paling murah," tandasnya.