Penjelasan Dirut Bulog Soal Wacana Ekspor Beras

Oleh Liputan6.com pada 22 Jan 2019, 19:21 WIB
Diperbarui 22 Jan 2019, 20:18 WIB
Tampil Brewokan, Buwas Bahas Anggaran Bulog di DPR

Liputan6.com, Jakarta Direktur Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Budi Waseso mengatakan, pihaknya akan mengekspor beras jika masa panen raya tiba pada Februari hingga Maret tahun ini. Langkah ini dilakukan untuk menghindari banjir produksi mengingat cadangan beras di gudang masih cukup besar.

"Antisipasi panen raya nanti mulai akhir Februari, Maret, April itu akan nyerap sebanyak mungkin 1,8 juta dan stok 2,1 juta di gudang. Jadi tidak bisa nyerap lebih banyak lagi. Jadi bagaimana kita bisa produksi bukan untuk disimpan tapi untuk dijual ke negara lain," ujarnya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (22/1/2019).

"iya ini antisipasi kita, prediksi panen raya akan menghasilkan jumlah yang cukup besar. Sedangkan kita tidak mampu menyerap keseluruhan juga, jangan sampai petani dirugikan," lanjut dia.

Pria yang akrab disapa Buwas tersebut mengatakan, saat ini pihaknya sudah menjajaki beberapa negara di Asia sebagai tujuan ekspor beras. Hal ini pun sudah dikomunikasikan dengan beberapa kementerian terkait.

"Justru ini saya koorodinasi dengan beberapa kementerian perdagangan, perindustrian. Bulog tidak serta merta bisa seenaknya ekspor, karena ini negara kita. Komunikasi juga dengan Kemenlu," jelasnya.

Untuk mengantisipasi panen raya, Bulog bersama pemerintah akan menyiapkan dryer atau pengering sebanyak 900.000 unit. Dryer ini juga akan digunakan untuk pengeringan panen jagung dibeberapa sentra penghasil jagung.

"Cadangan ini cadangan dari dalam negeri. Kita upaya mudah-mudahan tidak perlu impor lagi jadi kita serap dalam negeri supaya bisa maksimal, kualitas kita jaga. Supaya kualitas bagus kerjasama Kementan dengan cuaca hujan siapkan dryer 900.000," jelasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

2 of 2

Respons Menko Darmin Soal Rencana Bulog Ekspor Beras

20160608-Gudang Bulog-Jakarta- Johan Tallo
Pekerja memanggul karung Beras milik Badan Urusan Logistik (Bulog) di Gudang Bulog kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (7/6). Bulog memiliki stok beras sebanyak 2,1 juta ton. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Pengamat Pertanian Dwi Andreas Santosa menilai penyataan Kandidat Calon Presiden Prabowo Subianto soal cadangan beras yang hanya mampu bertahan selama 3 minggu tidak tepat.

Dwi mengungkapkan, jika berbicara cadangan beras maka harus dilihat dari stok beras yang ada di Perum Bulog dan pengusaha swasta pada awal tahun serta perkiraan produksi hasil panen. Pada awal 2019, dia memperkirakan masih ada stok sekitar 4 juta ton.

"Kalau cadangan beras dihitung dari stok awal tahun serta panen pada bulan berjalan dan bulan-bulan ke depan. Stok awal tahun ini kita perkirakan ada 4 juta ton kurang sedikit," ‎ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Selasa (15/1/2019).

Dengan stok sejumlah itu, lanjut Dwi, maka masih akan mencukupi hingga 1,5 bulan ke depan. Sebab, rata-rata konsumsi beras nasional per bulan sekitar 2,5 juta ton.

"Untuk konsumsi bulan 2,5 juta ton. Kalau dibilang hanya beberapa minggu ya tidak benar. Ya paling tidak sekitar 1,5 bulan. Ini belum ditambah dengan panen yang akan terjadi. Tahun ini aman karena ada stok dari impor. Stok di Bulog kan masih ada 2,1 juta ton," kata dia.

Dia mengungkapkan, pada Januari hingga Februari 2019 akan ada tambahan beras sekitar 1,5 juta ton dari hasil panen dalam negeri. Hal ini turut membantu menambah stok beras nasional.

"(Panen) Januari pasti 500 juta ton, Februari mungkin di atas 1 juta ton. Jadi sampai Februari stok beras nasional mungkin ada sekitar 6 juta ton. Mungkin masih memadai terkait dengan konsumsinya," tandas dia.

Lanjutkan Membaca ↓