OJK: 100 Emiten Baru Berpotensi Terlahir Pada 2019

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 11 Jan 2019, 20:31 WIB
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso

Liputan6.com, Jakarta - Tahun politik 2019 rupanya tak menyurutkan jumlah perusahaan yang membuka diri kepada publik di pasar modal. Begitu perkiraan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang memprediksi banyak emiten baru bermunculan pada tahun ini.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyatakan, tahun politik ini berpotensi melahirkan hingga 100 emiten baru dengan emisi antara sekitar Rp 200-250 triliun.

"Untuk pasar modal, kami perkirakan akan ada 75 sampai 100 emiten baru di 2019," jelas dia dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2019 di Grand Ballroom Ritz-Charlton Hotel, Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Keberadaan emiten baru itu dikatakannya mampu mendongkrak jumlah emisi di pasar modal hingga pada kisaran Rp 200 triliun hingga Rp 250 triliun.

Sebagai catatan, Wimboh turut membandingkan capaian pasar modal pada 2018 yang disebutkannya lebih besar dari tahun sebelumnya, yakni 62 emiten berbanding 46 emiten. Jumlah tersebut terpantau lebih tinggi dibanding laporan Bursa Efek Indonesia (BEI), dimana tercatat ada 57 emiten baru pada tahun lalu.

"Di pasar modal, jumlah emiten baru sepanjang 2018 tercatat 62 emiten, lebih tinggi dibandingkan 2017 sebanyak 46 emiten, dengan nilai penghimpunan dana sebesar Rp 166 triliun," jelasnya.

"Adapun total dana kelolaan investasi mencapai Rp 746 triliun, meningkat 8,3 persen dibandingkan akhir tahun 2017," dia menambahkan.

Berdasarkan perhitungan Wimboh tersebut, total perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) per 11 Januari 2019 ini menjadi sekitar 627 emiten.

"Tahun lalu, minat perusahaan menghimpun dana melalui pasar modal terus meningkat. Jumlahnya lebih tinggi dibandingkan tahun 2017. Jadi memang banyak emiten baru," ungkap dia.

2 of 2

BEI Yakin Lebih dari 57 Perusahaan Bakal IPO di Tahun Politik

IHSG
Pekerja beraktivitas di BEI, Jakarta, Selasa (4/4). Sebelumnya, Indeks harga saham gabungan (IHSG) menembus level 5.600 pada penutupan perdagangan pertama bulan ini, Senin (3/4/2017). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djayadi yakin jumlah emiten baru yang akan melakukan Penawaran Umum Perdana saham (Initial Public Offering/IPO) sepanjang tahun 2019 bisa mencapai lebih dari 57 perusahaan.

Menurutnya, pesta demokrasi yang dilakukan secara bersamaan tahun ini yakni pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres), tak akan menyurutkan langkah beberapa perusahaan untuk mencatatkan saham di BEI. Kendati begitu, dia belum mau mengungkapkan berapa banyak perusahaan yang bisa diajakk untuk melantai di bursa saham Indonesia. 

"Kami harapkan lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2018, kami capai 57 perusahaan yang listing. Kami harapkan tahun ini bisa lebih dari itu. Berapa tepatnya? Belum bisa bilang, tapi arahnya lebih dari itu (57)," jelas dia di Gedung BEI, Rabu (2/1/2019).

Inarno menjelaskan, untuk mencapai target emiten baru tersebut, BEI telah menyiapkan sejumlah strategi. Itu antara lain adalah melalui program sosialisasi dan edukasi berkesinambungan ke berbagai perusahaan.

"Selain itu, kita juga akan bekerjasama dengan para pemangku kepentingan seperti perusahaan penjamin emisi efek (underwriter), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, dan Menteri Negara (Meneg) Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kita bisa coba, this is the time untuk masuk ke publik," ujarnya.

Sebagai informasi, pada 2018, jumlah korporasi yang melakukan IPO saham meningkat 54 persen menjadi 57 perusahaan ketimbang 37 perusahaan di tahun 2017.

Adapun total dana publik yang berhasil dihimpun dari aksi pencatatan perdana saham tersebut mencapai Rp 16,01 triliun sepanjang tahun lalu. Angka itu meningkat 68 persen dibandingkan Rp 9,5 triliun pada 2017.

"Jadi ini merupakan jumlah pencatatan perdana saham tertinggi selama kurun waktu 26 tahun terakhir sejak swastanisasi Bursa Efek Indonesia pada tahun 1992. Jumlah pencapaian ini juga merupakan yang terbanyak di antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2018," tandasnya.

Lanjutkan Membaca ↓