Kementan: Kualitas Kedelai Lokal Lebih Bagus Ketimbang Impor

Oleh Septian Deny pada 11 Jan 2019, 18:30 WIB
20160106-2016, Produksi Kedelai Dalam Negeri Sulit Meningkat

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan, kedelai produk dalam negeri justru memiliki kualitas lebih baik ketimbang kedelai impor.

Salah satunya yang berasal dari Grobogan, Jawa Tengah. Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Sumarjo Gatot Irianto menyatakan Indonesia memang memiliki sejumlah wilayah yang menjadi sentra tanaman kedelai. Untuk satu wilayah, luas wilayah tanam kedelai berkisar 350 ribu-400 ribu hektare (ha).

"Yang paling sentral itu kalau kita lihat di Jawa Tengah, Cilacap, Kebumen, Purworejo, Grobogan, sampai ke Timur. Kita bilang itu sabuknya Jawa. Kemudian di Sukabumi terus ke selatan terus sampai di daerah Garut‎. Misalnya Grobogan, Lamongan, Kebumen, itu selalu setelah musim padi, air enggak cukup, dia nanam kedelai," ujar dia di Kantor Kementan, Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Menurut dia, produksi kedelai nasional di 2018 sebesar 2,2 juta ton. Namun, sayangnya jumlah tersebut masih belum mencukupi kebutuhan di dalam negeri sehingga harus diimpor.

"Kalau kita saat ini, itu sekitar 2,2 juta ton untuk tahun 2018. Impornya masih lumayan besar. kalau kedelai saat ini memang harus ada upaya khusus. Kita belum tahu ini 2019 kebijakannya seperti apa, ada pemerintahan baru, kebijakan baru. Nah itu tergantung dukungan pada kegiatan kedelai tersebut," ujar dia.

Namun demikian, jika dibandingkan dengan kedelai impor, kualitas kedelai lokal sebenarnya jauh lebih bagus. Hanya saja, hal ini belum banyak diketahui oleh masyarakat.

"Kedelai Grobogan jauh lebih bagus dibanding kedelai impor lebih gede lebih bagus rasanya juga lebih enak," tandas dia.

 

2 of 2

Alasan Sulit Tingkatkan Produksi Kedelai di Indonesia

Rupiah Melemah, Harga Kedelai Merangkak Naik
Pekerja menunjukkan kedelai untuk membuat tempe, Kemayoran, Jakarta, Kamis (6/9). Harga kedelai untuk produksi tempe meningkat dari Rp 6.500 menjadi Rp 7.700 pascanilai tukar dolar mengalami kenaikan terhadap rupiah. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) akan berupaya khusus untuk meningkatkan produksi kedelai di dalam negeri. Hal tersebut guna mengurangi ketergantungan impor terhadap kedelai pada 2019.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Sumarjo Gatot Irianto menyatakan, pada tahun ini, Kementan menggelontorkan sejumlah bantuan untuk para petani kedelai.

Salah satunya berupa bantuan benih di sejumlah wilayah yang menjadi sentral tanaman kede‎lai.

"Kedelai di 2019 bantuannya ada satu juta hektar tetapi di luar itu ada namanya Swadaya. daerah-daerah yang biasa menanam kedelai itu ada atau tidak ada bantuan dia tetap menanam kedelai. Kita menggunakan bantuan langsung dan sekarang transfer benih dari pusat ke petani sehingga kita pastikan benihnya bagus dan bisa berproduksi dengan baik," ujar dia di Kantor Kementan, Jakarta, Jumat 11 Januari 2019.

Menurut dia, selama ini upaya untuk mendorong produksi kedelai di dalam negeri kera menemui beragam kendala. Salah satunya soal ketersediaan lahan tanam.

"Karena arealnya Amerika ini punya 30 juta hektar kedelai, kita ini kalau bisa mencapai setengah juta sudah Swasembada. Masalahnya lahan kita untuk kedelai yang sesuai sangat terbatas. Tapi kalau insentif ini harganya baik petani akan bergerak. Tantangan berikutnya adalah hamanya itu ada 27-29 jenis, sehingga itu menambah biaya produksi," kata dia.

Gatot menyatakan, kedelai tidak bisa ditanam di sembarang tempat. Lahan yang digunakan untuk tanaman ini memiliki spesifikasi tertentu.

"Lahan yang cocok untuk kedelai biasanya PH-nya netral. Kemudian dia mempunyai kedalaman minimal 20 cm. Biasanya daerah-daerah yang di luar Jawa itu tanahnya masam sehingga butuh dinetralkan PH-nya. Itu tambah input," tandas dia.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓