Sri Mulyani Kaji Dampak Penguatan Rupiah terhadap APBN

Oleh Merdeka.com pada 08 Jan 2019, 16:07 WIB
20161109- Donald Trump Unggul Rupiah Terpuruk-Jakarta-Angga Yuniar

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat sejak 4 Januari 2019. Pada pembukaan perdagangan Selasa pekan ini, rupiah dibuka pada level Rp 14.059 per USD menguat jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebesar Rp 14.082 per USD. 

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah masih akan melihat sejauh mana dampak penguatan rupiah terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Meski demikian, dia menegaskan, tidak hanya rupiah yang memberi pengaruh terhadap APBN.  "Nanti kita akan lihat semua dinamika keseluruhan faktor ekonomi menjadi salah satu bagian yang harus dikelola karena pengaruh nya tidak single," ujar Sri di Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (8/1/2019).

Sri menjelaskan, dinamika terhadap ekonomi tidak hanya dilihat dari fluktuasi kurs. Akan tetapi, dari sisi kondisi ekonomi dunia, perang dagang, semuanya harus disimak dan diperhitungkan.

"Semua kita simak dan terus kalkulasi dampaknya terhadap keseluruhan perekonomian kita. Instrumen APBN adalah instrumen untuk mengelola perekonomian, tidak hanya pengaruh-nya ke APBN tapi ke mengelola perekonomian," tutur dia.

Penguatan nilai tukar rupiah pada hari ini hanya sementara. Pada perdagangan Selasa sore, berdasarkan data Bloomberg, rupiah bergerak ke posisi 14.140 per dolar AS. Sepanjang Selasa ini, rupiah bergerak di kisaran 14.002-14.140 per dolar AS.

 

Reporter: Anggun P.Situmorang

Sumber: Merdeka.com

 

2 of 2

Sri Mulyani: Tekanan Terhadap Rupiah Berkurang

Persiapan Uang Tunai Bi
Petugas mengecek lembaran uang rupiah di Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (21/12). Guna memenuhi kebutuhan uang tunai selama perayaan Natal dan Tahun Baru 2018, Bank Indonesia (BI) menyiapkan uang kartal sebanyak Rp 193,9 triliun. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, menjelaskan bahwa dana asing sudah mulai masuk kembali ke Indonesia (capital inflow) sehingga neraca pembayaran menjadi lebih positif. Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga sudah terlihat semakin mengurang.

“Kami akan jaga terus bersama Bank Indonesia dari sisi persepsi karena kemarin dengan APBN yang kita sampaikan sangat positif, primary balance nya sudah mendekati nol, defisitnya jauh lebih kecil,” kata Sri Mulyani dikutip dari laman Setkab, Selasa 8 Januari 2019.

Kondisi itu menyebabkan kepercayaan terhadap surat-surat berharga di Indonesia menjadi meningkat. Sehingga saat Federal Reserve (Bank Sentral AS) mengumumkan bahwa mereka akan bersabar itu memberikan tenaga terhadap posisi Indonesia.

“Jadi ini yang akan kami coba terus perbaiki di dalam rangka untuk bisa meningkatkan positive sentiment pada awal tahun,” terang Sri Mulyani.

Untuk diketahui, mengutip Bloomberg, Selasa (8/1/2019), rupiah dibuka di angka 14.059 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.082 per dolar AS. Menuju siang, rupiah terus menguat hingga menyentuh 14.002 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di rentang 14.002 per dolar AS hingga 14.059 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah menguat 2,43 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.031 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang di angka 14.105 per dolar AS.

Untuk data kurs Reuters, rupiah dibuka di 14.075 per dolar dan sempat menyentuh level 13.986 per dolar AS. Namun kemudian rupiah kembali ke kisaran 14.050 per dolar AS.

Mengenai arahan Presiden Joko Widodo, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, bahwa melaksanakan apa yang sudah di dalam APBN 2019 itu penting. Karena kemarin penyerapan sudah bagus 99 persen tapi itu ditolong dengan belanja-belanja tambahan seperti Asian Games yang ditambahkan, kemudian anggaran bencana yang juga kita pindahkan ke K/L, itu menyebabkan penyerapan lebih baik.

Tapi tentu, lanjut Menkeu, kita fokusnya jangan sampai menunggu terlalu lama karena kita juga lihat sampai 2019 itu penyerapannya juga menunggu pada bulan Desember.

“Jadi kalau bisa juga seawal mungkin karena banyak yang sudah disiapkan,” ujarnya.

Pemerintah, menurut dia, juga fokus terhadap stabilitas harga pangan yang dijaga oleh seluruh Kementerian/Lembaga terkait. Kemudian juga untuk bagaimana meningkatkan positif terhadap kesempatan kerja.

“Itu yang menjadi salah satu yang akan kita fokuskan,” ucapnya.

 

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓