Lippo Group Berikan 5 Ton Beras untuk Korban Tsunami

Oleh Nurmayanti pada 07 Jan 2019, 19:42 WIB
Diperbarui 07 Jan 2019, 19:42 WIB
Pengungsi Terdampak Tsunami Selat Sunda di Lapangan Tenis Indoor Kalianda

Liputan6.com, Jakarta Grup Lippo memberikan sejumlah bantuan bagi masyarakat yang terkena musibah bencana alam tsunami Selat Sunda. Salah satunya bantuan beras sebesar 5 ton.

Presiden Lippo Group, Theo L Sambuaga bersama Palang Merah Indonesia (PMI) berkolaborasi membantu masyarakat. Lokasi yang didatangi yakni Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, yang merupakan salah satu daerah terdampak parah akibat bencana alam tsunami,

Theo L Sambuaga mendorong PMI untuk segera mendatangkan bantuan lima ton beras yang sangat dibutuhkan masyarakat. Bantuan beras itu merupakan bagian dari bantuan-bantuan tanggap darurat sebelumnya. PMI bekerja sama dengan pihak swasta, seperti Lippo Group. Bantuan-bantuan itu sudah disalurkan PMI sejak hari pertama bencana.

"Grup Lippo memiliki komitmen tinggi, untuk membantu masyarakat yang tertimpa bencana. Kami sudah menyalurkan bantuan melalui PMI. Lippo Group siap membantu sepenuhnya langkah pemerintah, termasuk PMI dalam meminimalkan dampak bencana," ujar dia, Senin (7/1/2019).

Dalam kunjungan Lippo Group bersama PMI, sejumlah bantuan lain seperti memberikan bantuan pembangunan instalasi air bersih, perbaikan sejumlah perahu nelayan, perbaikan gedung sekolah yang rusak, serta bantuan peralatan belajar.

 

Ilustrasi tsunami
Ilustrasi tsunami (Unsplash.com)

Ketua Umum Pengurus Pusat PMI, Ginandjar Kartasasmita mengatakan, PMI bersinergi dengan pengusaha dan swasta bersama sama meminimalkan dampak bencana.

Selain memberi bantuan, PMI mengadakan pertemuan dengan seluruh pengurus PMI Provinsi Banten dan kabupaten/kota di Serang, yang dipimpin oleh Sekretaris PMI Banten, Rachmat .

Pertemuan dilaksanakan di kantor PMI Banten itu membahas upaya yang dilakukan petugas PMI di lapangan serta kendala yang dihadapi serta langkah-langkah untuk mengatasinya.

Untuk diketahui, Masyarakat pesisir pantai itu didominasi oleh komunitas nelayan. Saat tsunami melanda Kecamatan Sumur, tercatat 37 orang meninggal dunia ratusan bangunan dan barang, seperti rumah, sekolah, instalasi air, dan perahu nelayan rusak berat.