Kelar di 2019, Bendungan Bendo akan Pasok Air 7.700 Ha Lahan Pertanian

Oleh Bawono Yadika pada 05 Jan 2019, 11:14 WIB
embangunan Bendungan Bendo yang berlokasi di Desa Ngindeng, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur (Jatim). Dok Kementerian PUPR

Liputan6.com, Jakarta Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono meninjau progres pembangunan Bendungan Bendo yang berlokasi di Desa Ngindeng, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur (Jatim), kemarin.

Bendungan multiguna dengan total luas genangan sebesar 169,64 hektar dibangun untuk meningkatkan suplai air irigasi seluas kurang lebih 7.700 hektar lahan pertanian. Lahan tersebut berada di Kabupaten Ponorogo dan Madiun sebagai salah satu sentra pertanian Jatim.

Jokowi mengatakan, dengan daya tampung 43,14 juta m3, Bendungan Bendo diharapkan dapat meningkatkan intensitas tanam dari sekali menjadi hingga tiga kali tanam dalam satu tahun.

"Bendungan ini sangat penting sekali selain untuk pengairan sawah-sawah, tetapi juga untuk pemenuhan kebutuhan air baku warga sekitar," tuturnya di sela-selan peninjauan Bendungan Bendo, Jatim dalam keterangan tertulis, Sabtu (05/01/2019).

Jokowi menambahkan, selain Bendungan Bendo, pemerintah melalui Kementerian PUPR juga tengah membangun sejumlah bendungan lain di Provinsi Jatim. Adapun Bendungan itu antara lain Bendungan Tukul, Tugu, Bagong, Semantok, dan Gongseng.

"Banyak sekali dibangun di Jawa Timur karena memang diperlukan sebagai lumbungnya pangan Indonesia," ujarnya.

 

2 of 2

Target Selesai

embangunan Bendungan Bendo yang berlokasi di Desa Ngindeng, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur (Jatim). Dok Kementerian PUPR
embangunan Bendungan Bendo yang berlokasi di Desa Ngindeng, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur (Jatim). Dok Kementerian PUPR

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya Air Kementerian PUPR Hari Suprayogi menuturkan, pembangunan Bendungan Bendo ditargetkan selesai akhir tahun 2019 dimana progresnya saat ini sudah 77 persen.

“Pekerjaan telah dimulai sejak tahun 2013 sempat tertunda karena masalah pembebasan lahan. Namun saat ini progres pembebasan lahannya sudah mencapai 94 persen, sudah bebas seluas 277 hektare dari 295 hektar lahan yang dibutuhkan," imbuhnya.

Bendungan setinggi 71 meter dengan tipe urugan ini membendung Sungai Keyang yang merupakan anak sungai Bengawan Madiun. Pembiayaan menggunakan APBN sebesar Rp 716,58 miliar yang dikerjakan oleh PT. Wijaya Karya, PT. Hutama Karya dan PT. Nindya Karya (KSO).

Turut mendampingi Menteri Basuki, Dirjen SDA Kementerian PUPR Hari Suprayogi, Direktur Sungai dan Pantai Jarot Widyoko, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo Charisal Akdian Manu, Direktur Operasi I PT. Wika Agung Budi Waskito dan Kepala Biro Komunikasi Publik Endra S. Atmawidjaja.

Lanjutkan Membaca ↓