Gubernur BI: Kita Harus Optimistis Sambut 2019

Oleh Septian Deny pada 02 Jan 2019, 16:07 WIB
Diperbarui 02 Jan 2019, 16:07 WIB
BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 6 Persen
Perbesar
Gubernur BI Perry Warjiyo (tengah) bersiap memberi keterangan pers mengenai kenaikan suku bunga acuan di Jakarta, Kamis (15/11). Selain itu, BI juga memutuskan menaikkan Lending Facility menjadi 6,75 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar silaturahmi awal tahun baru 2019. Silaturahmi ini digelar dalam rangka bertemu sapa dan memperkuat sinergi antara BI, OJK dan mitra kerjanya.

Dalam sambutannya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pada 2018 Indonesia mampu dilewati dengan sangat baik. Meski di tahun kemarin banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Indonesia.

"Terima kasih kepada seluruh mitra kerja, dewan gubernur atas kolaborasi, sinergi, kerja keras di 2018. Alhamdulillah ikhtiar kita melewati tahun 2018 yang menantang dengan capaian kerja yang membanggakan," ujar dia di Gedung BI, Jakarta, Rabu (2/1/2018).

Menurut Perry, sinergi ini menjadi kunci utama ekonomi Indonesia bisa tumbuh dengan baik.‎ "Saya juga terima kasih khususnya kepada OJK, Pak Wimboh Santoso. Sinergi dengan para mitra kerja itu kunci kesuksesan kita di 2018," lanjut dia.

Untuk 2019, Perry mengajak OJK dan mitra kerjanya untuk optimis menyambut 2019. Dia berharap ekonomi Indonesia di tahun ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

"Saya ajak mari kita perkuat sinergi dan optimisme menyonsong 2019 dengan kinerja yang lebih baik, pertumbuhan ekonomi labih tinggi, stabilitas eko makro yang lebih kuat. Oleh sebab itu dukungan mitra kerja, dengan OJK dan lain-lain Insya Allah, Allah berikan keberkahan bagi ekonomi Indonesia yang lebih baik di 2019 dan tahun-tahun ke depan," tandas dia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2019 Diperkirakan 5,4 Persen

Investasi Meningkat, Ekonomi Indonesia Kuartal 1 Tumbuh 5,06 Persen
Perbesar
Suasana pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Senin (7/5). Pertumbuhan ekonomi kuartal 1 2018 tersebut lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada periode sama dalam tiga tahun terakhir. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Sebelumnya, Kepala Pusat Lembaga Ilmu Pengetahuan Ekonomi (LIPI), Agus Eko Nugroho, memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 sebesar 5,4 persen. Proyeksi ini lebih tinggi dari asumsi pertumbuhan ekonomi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019 sebesar 5,3 persen.

Agus mengatakan, angka tersebut dapat tercapai apabila tren perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China bisa dilalui dan dipecahkan pada tahun depan. Maka dari itu, ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi secara nasional. 

"Bagaimana proyeksi 2019? Tren ekspetasi kami bahwa kita menuju pada tren perbaikan ekonomi global, jadi artinya kita berharap bahwa perang dagang akan bisa terlampaui di 2019, harapannya akan menjaga dan mendorong ekonomi global yang semakin membaik. Jadi growthakan ada dikisaran 5,2 hingga 5,4 persen itu optimistis moderat dari proyeksi," katanya pada Kamis 20 Desember 2018.

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang ditaksir mencapai hingga 5,4 persen, maka pihaknya juga memprediksi inflasi di tahun depan berada di kisaran 3,5 persen sampai 3,9 persen. Angka ini lebih tinggi daripada inflasi yang dipatok pemerintah melalui APNN 2019.

"Tantangannya selain kita menjaga harga bahan pangan, juga menjaga stabilitas dibahan bakar itu tantangan utama," katanya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya