BPS: Inflasi Sepanjang 2018 Tercatat 3,13 Persen

Oleh Merdeka.com pada 02 Jan 2019, 11:16 WIB
Diperbarui 02 Jan 2019, 11:16 WIB
Jelang Ramadan, Kemendag Jamin Pasokan Sembako Aman
Perbesar
Aktivitas perdagangan di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Jumat (20/4). Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengklaim harga pangan terkendali. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada Desember 2018 sebesar 0,62 persen. Dengan demikian, inflasi tahunan (year on year) selama 2018 mencapai 3,13 persen.

"Pada Desember inflasi tercatat 0,62 persen. Dengan inflasi ini berarti inflasi tahun kalender sebesar 3,13 persen," ujar Kepala BPS Suhariyanto di Kantornya, Jakarta, Rabu (2/1/2019).

Suhariyanto mengatakan, inflasi tahunan sebesar 3,13 persen berada di bawah target pemerintah sebesar 3,5 persen plus minus 1. Dia pun berharap hal yang sama dapat terjadi di 2019.

"Dengan target 3,5 persen berarti inflasi 2018 berada di bawah target. Kita harap 2019 harga pangan dan bahan makanan sudah stabil sehingga inflasinya berada pada target," jelasnya.

Suhariyanto melanjutkan, dari 82 kota IHK yang dilakukan pemantauan pada Desember 2018, sebanyak 80 kota mengalami inflasi. Sedangkan 2 kota lainnya mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Kupang sebesar 2,09 persen, sedangkan terendah yaitu Banda Aceh sebesar 0,02 persen. Sementara untuk deflasi tertinggi dialami Sorong sebesar -0,15 persen dan deflasi terendah di Kendari sebesar -0,09 persen.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

2 dari 3 halaman

Prediksi Ekonom

Jelang Ramadan, Kemendag Jamin Pasokan Sembako Aman
Perbesar
Aktivitas perdagangan di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Jumat (20/4). Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengklaim harga pangan terkendali. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Ekonom memperkirakan inflasi Desember 2018 diperkirakan mencapai 0,5 persen. Oleh karena itu, inflasi sepanjang 2018 diharapkan berada di kisaran 3,01 persen.

"Inflasi Desember 2018 0,5 persen month to month. Angka ini lebih rendah dari inflasi 2015-2017. Kalau sepanjang 2018 sebesar 3,01 persen. Inflasi tersebut didorong dari volatile food atau kenaikan harga pangan," ujar Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (2/1/2019).

Josua menuturkan, inflasi Desember 2018 itu disumbangkan dari kenaikan harga pangan antara lain harga beras naik sekitar tiga persen, telur sekitar 10 persen, bawang merah sekitar 17 persen dan cabai rawit sekitar 5 persen. 

Meski demikian, ia menilai inflasi 2018 yang diperkirakan 3,01 persen masih terkendali. Inflasi 2018 tersebut masih sesuai dengan target Bank Indonesia (BI) di kisaran 3,5 persen plus minus satu persen. Josua menilai, inflasi yang terkendali menunjukkan koordinasi baik antara pemerintah pusat dan daerah untuk menjaga inflasi.

Inflasi terkendali tersebut didukung tidak ada kenaikan tarif yang dilakukan oleh pemerintah terutama tarif listrik dan harga bahan bakar minyak (BBM). “Sepanjang 2018 tidak ada penyesuaian harga baik listrik dan BBM. Ini kondisi berbeda saat 2017. 2018 lebih didorong oleh kenaikan harga pangan,” kata Josua.

Menurut Josua, kenaikan harga pangan pada 2018 didorong dari sejumlah bencana alam yang terjadi membuat suplai pangan terganggu. Hal itu mendorong kenaikan harga pangan. Namun, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) mampu turut menjaga inflasi dengan melakukan operasi pasar.

Selain itu, menurut Josua, BI juga menaikkan suku bunga acuan sekitar 175 basis poin menjadi 6 persen untuk menghadapi gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). "Inflasi inti juga masih berada di kisaran 3 persen," kata dia.

Seperti diketahui, inflasi Desember 2017 tercatat 0,71 persen. Hal itu mendorong inflasi tahunan 2017 di 3,61 persen.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓