Pemerintah AS Tutup Sampai Donald Trump Dapat Duit Bangun Tembok

Oleh Tommy Kurnia pada 26 Des 2018, 18:03 WIB
Donald Trump

Liputan6.com, Washington D.C. - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump belum berniat menandatangani anggaran pemerintahan federal sampai ia mendapat uang untuk membangun tembok. Akibatnya, pegawai negeri di sana terkena dampak.

"Kita tidak bisa melakukannya tanpa sebuah perisai. Kita tak bisa melakukannya tanpa sebuah tembok," ujar Trump di Oval Office, seperti dikutip ABC.

Trump pun menegaskan, ia tetap ingin dapat dana federal untuk membantu pembangunan tembok demi alasan keamanan. Dana yang ia minta sebesar USD 5 miliar atau setara Rp 72,9 triliun (USD 1 = Rp 14.599).

Menurut Donald Trump, uang sebesar itu relatif kecil dibandingkan biaya yang harus ditanggung oleh AS akibat imigrasi ilegal, yaitu USD 200 miliar per tahun. Pembangunan tembok pun dipandanganya sebagai langkah penghematan.

Trump tidak bisa memastikan kapan pemerintah AS akan dibuka lagi. Sejauh ini, Trump menyatakan siap bernegosiasi dengan Partai Demokrat agar dana tembok diloloskan.

"Saya tak bisa memberi tahumu kapan Pemerintah akan dibuka. Saya bisa memberitahumu bahwa ini tak akan terbuka sampai kita mendapat sebuah tembok atau pagar, terserah mereka mau memanggilnya apa," ujar Donald Trump.

Penutupan pemerintah AS adalah penutupan parsial karena tiadanya pendanaan beberapa departemen dan lembaga pemerintah. 800 ribu pegawai federal pun kena dampak dalam pengupahan.

2 of 2

Apa Dampaknya ke Indonesia?

Presiden Amerika Serikat ke-45 Donald Trump (AP/Nicholas Kamm)
Presiden Amerika Serikat ke-45 Donald Trump (AP/Nicholas Kamm)

Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi melakukan shutdown atau tutup pemerintahan usai permintaan dana untuk pembangunan tembok perbatasan Meksiko-AS tidak disetujui oleh Senat. Adapun keputusan sepihak ini telah diberlakukan Donald Trump sebanyak tiga kali.

Ekonom Insitute For Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, pemberlakuan shutdown oleh Trump tersebut mungkin kecil secara dampak untuk dirasakan ke Indonesia. Meski demikian, aliran modal investasi diperkirakan terganggu untuk masuk ke dalam negeri. 

"Di sektor keuangan shutdown meningkatkan ketidakpastian bagi investor global sehingga mengalihkan dana dari pasar modal ke safe haven. Ini terlihat oleh penguatan Yen sebesar 1,36 persen dalam sepekan terakhir terhadap dolar AS. Aliran modal investasi yang masuk berkurang juga ke indonesia," ucapnya kepada Liputan6.com, Sabtu (22/12/2018).

Ia pun menyebutkan, efek ketidakpastian shutdown turut dapat membawa pengaruh bagi fluktuasi mata uang rupiah di tahun mendatang.

"Rupiah beresiko kembali melemah pada awal 2019 di kisaran 14.650-14.800," ujarnya.

Meski dampaknya lebih dirasakan kepada investor global, Bhima berharap momen shutdowntidak mempengaruhi lalu lintas perdagangan RI, terutama kegiatan ekspor-impor Indonesia.

"Jika shutdown berlanjut harapannya tidak mengganggu operasional ekspor impor dengan Indonesia. Karena yang di tutup sebagian adalah layanan pemerintahan yang tidak esensial jadi bukan yang berkaitan dengan ekonomi perdagangan," tandasnya.

Sependapat, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullahmenjelaskan, dampak shutdown lebih bersifat internal dan akan dirasakan kepada negara terkait atau Amerika sendiri. Jika pun sentimen shutdown mempengaruhi perekonomian Indonesia, dipastikan hal tersebut hanya bersifat sementara saja.

"Selama ini shutdown government itu lebih bersifat internal Amerika dan dampaknya sendiri itu minimal ke global khususnya ke indonesia. Terutama lagi kondisi ini dapat dipastikan jangka pendek," tandasnya. 2 dari 3 halaman

Lanjutkan Membaca ↓