RI Kuasai Freeport, Dahlan Iskan Puji Menteri Jonan dan CEO Inalum

Oleh Fitriana Monica Sari pada 23 Des 2018, 21:55 WIB
Diperbarui 23 Des 2018, 21:55 WIB
Lama Menghilang, Dahlan Iskan Ternyata Mengidap Aorta Dissection (liputan6)

Liputan6.com, Jakarta Indonesia melalui PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) berhasil mengakuisisi saham PT Freeport Indonesia. Kini, kepemilikan saham pemerintah Indonesia pada perusahaan tambang tersebut menjadi 51,23 persen.

Atas keberhasilan tersebut, Dahlan Iskan mengucapkan selamat kepada Menteri ESDM Ignatius Jonan dan CEO Inalum Budi Sadikin.

Dia juga mengucapkan selamat kepada Presiden Jokowi, Menteri Keuangan, Menteri BUMN, dan Menteri Lingkungan Hidup. Hal itu disampaikannya melalui sebuah tulisan di laman www.disway.id/freeport/.

"Saya kirim ucapan selamat. Untuk Ignatius Jonan. Menteri ESDM. Juga untuk Budi Sadikin. CEO Inalum. Tentang Freeport. Yang berhasil dikuasai Indonesia 51 persen. Sejak minggu ini.

Pun sebetulnya saya akan berbuat serupa. Dari Lebanon ini. Mengirim ucapan selamat kepada Bapak Presiden, Menteri Keuangan, Menteri BUMN dan Menteri Lingkungan Hidup. Tapi saya tidak punya nomor telepon beliau-beliau itu. Hanya Jonan dan Budi Sadikin. Yang nomor HP-nya ada di HP saya.

Itu pun nomor lama. Yang saya masih memilikinya. Sejak ketika saya masih jadi atasan mereka. Semoga ucapan selamat itu masih sampai pada mereka. Dan diteruskan kepada mereka," tulisnya.

Selain ucapan terima kasih, dalam tulisannya tersebut, Dahlan juga mengucapkan selamat kepada SBY, yang mana saat di zamannya, telah menjadikan PT Inalum dikuasai 100 BUMN dan diambil alih dari Jepang.

Di mana pada saat itu, Inalum dalam posisi perusahaan sangat jaya, memiliki kondisi fisik yang prima, operasionalnya istimewa, dan tabungan uang kontannya banyak.

Dahlan mengibaratkan Inalum bak Land Cruiser, yang mana sanggup diajak menanjak tinggi sampai pegunungan Jayawijaya, membeli Freeport di sana.

Lanjut Dahlan, keadaan Inalum yang seperti itu sangat dipercaya untuk mencari dana global USD 4 miliar untuk membeli saham mayoritas Freeport.

 

2 dari 2 halaman

Kekhawatiran Dahlan Iskan

ESDM
Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, meninjau PLTB Tolo 1 di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Tak lupa, Dahlan mengucapkan selamat pada MacMoran Amerika yang sudah 50 tahun menguasai Papua, yang pernah keuangannya mengalami kendala hingga minta bantuan Rio Tinto Australia. Di mana akhirnya perjanjian antara dua perusahaan global itu bisa menimbulkan celah untuk dimasuki Indonesia.

Dahlan mengatakan bahwa celah yang ada itu tidak ada yang bisa melihatnya, termasuk dirinya. Hanya Menteri Jonan yang berhasil mengintip celah itu.

"Tidak ada yang bisa melihatnya. Selama ini. Tidak juga saya. Hanya orang seperti Jonan yang berhasil mengintipnya. Yang justru menteri ESDM yang tidak ahli tambang itu," katanya.

Dahlan melanjutkan, lewat celah itulah negosiasi bisa mendapat jalannya. Lalu juga berkat didukung oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani lewat celah perpajakan dan Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya lewat kerusakan alam.

Menurut Dahlan, sudah sejak lama Indonesia ingin menguasai Freeport. Namun selalu saja tersandung batu berupa perjanjian yang tidak bisa dilanggar begitu saja.

Melihat Freeport yang kini berhasil dikuasai Indonesia, membuat Dahlan Iskan mengapresiasi Menteri Jonan dan CEO Inalum, Budi Sadikin.

"Kalau pun selama ini salah: itu karena tidak ada yang bermata sejeli Jonan. Dalam melihat celah tersembunyi itu.Mungkin saja pandangan mata itu seperti hati. Bisa memandang jauh. Kalau kondisinya bersih. Bersih mata. Bersih hati. Bersih kepentingan.

Dalam proses Freeport ini memang luar biasa. Menteri ESDM-nya, Jonan, bukan ahli tambang. Ia justru orang keuangan. CEO Inalum-nya, yang cari uang, dari teknik. Ia lulusan ITB. Budi Sadikin," tulisnya.

Di akhir tulisannya, Dahlan mengakui bahwa masih ada satu kekhawatirannya di Freeport, di bidang partisipasi lokal. Namun Dahlan percaya bahwa Jonan-Budi bisa mengatasinya dengan skema yang berjenjang.

"Sebenarnya, di Freeport itu, masih ada satu kekhawatiran saya. Di bidang partisipasi lokal. Yang 10 persen. Yang kelihatannya kecil. Tapi justru bahaya. Misalnya. Begitu yang kecil itu memihak ke sana selesailah. Sananya jadi mayoritas. Tapi Jonan-Budi adalah orang pintar. Mengatasinya dengan skema yang berjenjang. Tentu masih akan ada kritik. Tapi saya tidak melihat yang lebih baik dari yang telah dilakukan ini," tutupnya.

Lanjutkan Membaca ↓