Inalum Tidak Beli Tanah Air Sendiri dalam Divestasi Freeport

Oleh Cahyu pada 23 Des 2018, 17:26 WIB
Diperbarui 23 Des 2018, 17:26 WIB
Tambang PT Freeport Indonesia di Papua. Foto: Liputan6.com/Ilyas Istianur P
Perbesar
Divestasi Freeport tidak beli barang sendiri. (Foto: Liputan6.com/Ilyas Istianur P)

Liputan6.com, Jakarta Holding Industri Pertambangan PT Inalum (Persero) telah sah menjadi pemilik mayoritas PT Freeport Indonesia (PTFI). Namun, masih banyak beredar tuduhan jika perusahaan tersebut membeli tanah air sendiri. Apakah benar demikian?

Inalum pada Jumat (21/12/2018) meningkatkan kepemilikannya di PTFI dari 9.36 persen menjadi 51 persen dengan membayar 3,85 miliar dollar AS atau Rp 55 triliun. Juga menjadi pengendali perusahaan yang memiliki tambang Grasberg di Papua dengan kekayaan emas, perunggu, dan perak sebesar Rp 2,400 triliun hingga 2041.

“Kami menyayangkan adanya beberapa pengamat yang tidak membaca data dan Kontrak Karya (KK) PTFI sebelumnya, namun berani membuat  analisa yang menyesatkan publik seolah-olah kami membeli tanah air sendiri,” ujar Kepala Komunikasi Korporat dan Hubungan Antar Lembaga Inalum, Rendi A. Witular, dalam keterangan tertulisnya. 

PTFI melakukan eksplorasi dan penambangan berdasarkan KK dengan pemerintah Indonesia yang ditandatangani pada 1967 di zaman Soeharto dan diperbarui melalui KK pada 1991 di zaman Presiden yang sama dengan masa operasi hingga 2021. 

Terkait dengan masa operasi tersebut, Perusahaan Amerika Serikat Freeport McMoRan (FCX), pengendali PTFI, dan pemerintah memiliki interpretasi yang berbeda atas isi pasal perpanjangan. Pengertian FCX adalah bahwa KK akan berakhir pada 2021, tetapi mereka berhak mengajukan perpanjangan dua kali 10 tahun (hingga 2041). Pemerintah tidak akan menahan atau menunda persetujuan tersebut secara "tidak wajar". 

Interpretasi yang berbeda terkait kata “tidak wajar” tersebut harus diselesaikan di pengadilan internasional (arbitrase). Jika ambil jalur arbitrase, dampaknya operasional PTFI akan dikurangi atau bahkan dihentikan. Ini akan berakibat pada runtuhnya terowongan bawah tanah, sehingga biaya untuk memperbaikinya bisa lebih mahal dari harga divestasi. Tambang Grasberg adalah yang terumit di dunia. 

Dampak kedua adalah ekonomi Mimika akan terhenti karena sekitar 90 persen ekonomi mereka digerakkan oleh kegiatan PTFI. Tidak ada jaminan pula Indonesia dapat menang di arbitrase yang sidangnya dapat berlangsung bertahun-tahun, dan jika kalah bisa pemerintah diwajibkan membayar ganti rugi jauh lebih besar dari harga divestasi.

Di KK itu pun tidak ada pasal yang mengatakan jika kontrak berakhir, pemerintah bisa mendapatkan PTFI dan tambang Grasberg secara gratis. KK PTFI tidak sama dengan kontrak yang berlaku di sektor minyak dan gas dimana jika kontrak berakhir langsung dimiliki oleh pemerintah.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, menjelaskan bahwa karena sistemnya adalah KK yang sah, maka Freeport selalu mengancam akan membawa ke arbitrase jika dipaksa mendivestasikan saham 51 persen kepada Indonesia. 

“Meski bisa dihadapi tetapi tetap tidak ada jaminan menang bagi Indonesia jika ke arbitrase,” ucapnya.

 

 

(*)