Harga Minyak Turun Lebih dari 11 Persen dalam Sepekan

Oleh Arthur Gideon pada 22 Des 2018, 06:30 WIB
Diperbarui 23 Des 2018, 09:15 WIB
Ilustrasi tambang migas

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak jatuh ke level terendah sejak kuartal III 2017 pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi waktu Jakarta). Penurunan harga minyak pada Jumat ini menambah kerugian yang telah dicetak sepanjang pekan ini yang menuju lebih dari 11 persen.

Penyebab utama penurunan pada perdagangan hari ini dan juga sepanjang pekan ini adalah ketakutan akan pasokan yang berlebih.

Mengutip Reuters, Sabtu (22/12/2018), harga minyak mentah Brent turun 53 sen atau hampir 1 persen menjadi USD 53,82 per barel, setelah sebelumnya sempat jatuh ke level USD 52,79 per barel, terlemah sejak September 2017.

Untuk harga minyak mentah AS turun 29 sen menjadi USD 45,59 per barel, setelah sebelumnya menyentuh level USD 45,13 per barel.

Kedua kontrak minyak ini turun lebih dari 11 persen dalam seminggu.

Sejak mencapai level tertinggi pada awal Oktober, kedua patokan harga minyak ini telah kehilangan lebih dari sepertiga nilainya dalam penurunan tertajam selama tiga tahun.

Harga minyak mentah telah kehilangan kekuatan seiring dengan pelemahan pasar saham karena investor resah mengenai kekuatan ekonomi global di tahun depan.

Prospek kemungkinan penutupan pemerintah di Amerika Serikat, konsumen minyak terbesar dunia, telah menambah kekhawatiran investor.

 

2 of 2

Pasokan Berlimpah

ilustrasi tambang migas
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Pasar minyak telah mengalami tekanan di tengah kekhawatiran tentang kelebihan pasokan, meskipun ada rencana pengurangan produksi oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

"Orang-orang OPEC tidak melakukan pekerjaan yang baik untuk meyakinkan komunitas minyak internasional bahwa mereka akan menjadi pendukung kuat program pengurangan pasokan mereka," kata Bob Yawger, analis Mizuho, New York, AS.

Penurunan harga diperburuk oleh volume perdagangan yang tipis dan penghindaran risiko menjelang liburan Natal dan Tahun Baru.

Produsen minyak besar di OPEC, yang didominasi oleh negara-negara Timur Tengah yang bergantung pada ekspor energi, telah sepakat untuk mengurangi produksi untuk mencoba mendorong harga.

Pengurangan tersebut akan dibantu oleh negara-negara di luar OPEC termasuk salah satunya adalah Rusia.

Tetapi pengurangan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari tersebut baru akan mulai di tahun depan sementara itu persediaan global tumbuh cepat.

Lanjutkan Membaca ↓