Jadi Pemegang Saham Minoritas, Freeport Tetap Jadi Operator Tambang

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 21 Des 2018, 19:50 WIB
Pemerintah telah menerbitkan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) PT Freeport Indonesia, setelah disepakatinya poin-poin negosiasi yang panjang. (Wicak/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) telah menjadi pemegang saham mayoritas PT Freeport Indonesia dengan kepemilikan sahan 51,23 persen‎. Meski begitu, tambang tembaga Grasberg di Papua, tetap diopertori Freeport McMoran.

Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin mengatakan, ‎tambang bawah tanah Papua yang sedang dikembangkan Freeport sepanjang 700 kilometer (km) terumit di dunia. Sebab itu pengoperasianya masih diserahkan Freeport.

"Operatornya siapa. Ini tambang terumit di dunia. Pak Tony dan Pak Richard sudah gali 700 km dan akan tambah,"‎ kata Budi, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (21/12/2018).

Menurut Budi, Freeport McMorant merupakan operator tambang bawah tanah terbesar di dunia‎. Sebab itu Indonesia perlu belajar untuk mengelola tambang tembaga bawah tanah di Papua tersebut. Dia menyatakan, hal tersebut bukan berarti teknisi Indonesia tidak mampu mengolanya.

"kita perlu belajar dan Freeport McMoran The best operator for underground mining. Ini kesempatan besar untuk besar sehingga putra putri Indonesia bisa belajar," tuturnya.

Resminya pengalihan saham tersebut ditandai dengan proses pembayaran dan terbitnya Izin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi (IUPK), sebagai pengganti Kontrak Karya (KK) PTFI yang telah berjalan sejak 1967 dan diperbaharui pada 1991 dengan masa berlaku hingga 2021.

Dengan terbitnya IUPK ini, maka PTFI akan mendapatkan kepastian hukum dan kepastian berusaha, dengan mengantongi perpanjangan masa operasi 2 x 10 tahun hingga 2041, serta mendapatkan jaminan fiskal dan regulasi. PTFI juga akan membangun pabrik peleburan (smelter) dalam jangka waktu lima tahun.

2 of 3

Jokowi: Momen Bersejarah, RI Kuasai 51 Persen Saham Freeport

Jokowi Bicara Perkembangan Fintech di IMF-Bank Dunia 2018
Presiden Joko Widodo saat berpidato dalam Bali Fintech Agenda IMF-WB 2018 di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10). Jokowi mengaku mengacu pada kebijakan Amerika Serikat (AS) yang merupakan negara kelahiran internet. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa saham PT Freeport Indonesia sudah dikuasai Indonesia sebesar 51,2 persen dan resmi beralih ke PT Inalum, induk holding pertambangan.

"Saya baru saja menerima laporan dari seluruh menteri yang terkait dari dirut PT Inalum dan dari CEO PT freeport. Disampaikan bahwa saham PT Freeport sudah 51,2 persen sudah beralih ke PT Inalum dan sudah lunas dibayar," kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Jumat (21/12/2018). 

Menurut Jokowi, hari ini juga merupakan momen yang bersejarah, setelah PT Freeport beroperasi di Indonesia sejak 1973 dan kepemilikan mayoritas ini digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

"Bahwa nantinya income pendapatan baik pajak, non-pajak, royalti lebih baik. Dan inilah kita tunggu. Mendapat laporan terkait lingkungan yang berkaitan dengan smelter telah terselesaikan dan sudah disepakati. Artinya semuanya sudah komplit dan tinggal bekerja saja," jelas dia.

Jokowi menegaskan, masyarakat di Papua juga akan mendapatkan 10 persen dari saham yang ada. "Dan tentu saja papua dapat pajak daerahnya," tegas dia.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by