Wall Street Anjlok Usai Pertemuan The Fed

Oleh Agustina Melani pada 20 Des 2018, 05:09 WIB
Perdagangan Saham dan Bursa

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street tertekan usai the Federal Reserve (the Fed) prediksi sedikit kenaikan suku bunga pada 2019. Sebelumnya investor mengharapkan kebijakan moneter lebih lembut atau dovish.

Usai gelar pertemuan dua hari, The Federal Open Market Committee menyatakan risiko terhadap ekonomi kurang seimbang tetapi akan terus memantau perkembangan ekonomi dan keuangan global, serta menilai implikasinya terhadap prospek ekonomi.

Pada pertemuan digelar dua hari ini, the Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan 0,25 persen menjadi 2,25 persen-2,5 persen. Namun, The Federal Reserve memangkas menaikkan suku bunga acuan menjadi sebanyak dua kali pada 2019 dari ditargetkan semula tiga kali.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu (Kamis pagi WIB), indeks saham Dow Jones melemah 351,98 poin atau 1,49 persen menjadi 23.323,66. Indeks saham S&P 500 tergelincir 35,48 poin atau 1,39 persen menjadi 2.510,68. Indeks saham Nasdaq terpangkas susut 140,80 poin atau 2,08 persen menjadi 6.643,11.

Investor melihat pernyataan pimpinan the Federal Reserve Jerome Powell tidak mengubah kebijakan menjag neraca keuangannya pada autopilot mengangkat kekhawatiran pengetatan kondisi keuangan yang menempatkan tekanan lebih lanjut di pasar keuangan.

"Powell tetap teguh dalam pernyataannya. Dia tidak melihat pengetatan apa pun yang berasal dari pengabaian neraca keuangan. Kami melihat kondisi keuangan yang lebih ketat dan pertumbuhan melemah,” tutur Quincy Krosby, Chief Market Strategis Prudential Financial, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (20/12/2018).

Sementara itu, Chief Market Strategist Leuhold Group menilai, reaksi pasar akan berlebihan terhadap the Fed. Akan tetapi, Powell menyatakan tidak melihat ada masalah dengan neraca. “Itulah yang menyakitkan, itu adalah jalur lain yang tidak disukai oleh dovishness,” tutur dia.

Adapun bank sentral mengizinkan USD 50 miliar untuk menjalankan neraca, membeli obligasi untuk meransang ekonomi selama dan setelah krisis keuangan.

“Saya pikir dari neraca keuangan telah lancar dan memenuhi tujuannya. Saya tidak melihat perubahan itu,” tutur dia.

 

2 of 2

Seluruh Sektor Saham Tertekan

Perdagangan Saham dan Bursa
Ilustrasi Foto Perdagangan Saham dan Bursa (iStockphoto)

Seluruh sektor saham tertekan  yang masuk indeks S&P 500. Sektor saham utilitas, real estate, dan konsumen mencatatkan penurunan terkecil. Sepanjang tahun berjalan 2018, sektor saham utilitas dan perawatan kesehatan berada di zona positif.

Sejumlah saham dari berbagai sektor tertekan usai pengumuman the Fed termasuk perusahaan konsumen antara lain Target, Newell Brands dan Norstrom yang semuanya turun lebih dari tiga persen. Bank-bank termasuk Citigroup dan Wells Fargo masing-masing terpangkas lebih dari 1,5 persen.

Produsen pesawat Boeing turun 2,5 persen, saham 3M terpangkas 2,3 persen, dan saham United States Steel Corp tergelincir enam persen.

Saham FedEx susut 12,2 persen, dan membukukan koreksi terbesar dalam 10 tahun usai perusahaan logistik memangkas prediksi 2019. Saham Micron Technology Inc merosot 7,9 persen.

Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun berada di titik terendah dalam 10 tahun ke posisi 2,79 persen, dan ini merupakan level terendah sejak 30 Mei. Obligasi di bawha 30 tahun, imbal hasilnya di bawah tiga persen. Pelaku pasar obligasi tampaknya percaya kalau the Fed telah memperlambat ekonomi.

“The Fed masih melihat fondasi yang kuat untuk ekonomi berdasarkan angka-angka dan masih melihat kenaikan suku bunga sebanyak dua kali pada 2019. Yang dibutuhkan pasar, pernyataan the Fed untuk membuktikan benar, kalau data ekonomi yang lebih kuat,” kata Krosby.

Volume perdagangan saham di wall street tercatat 10,81 miliar saham. Angka ini di atas rata-rata 20 hari perdagangan saham 8,22 miliar saham.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓