Harga Minyak Terjungkal karena Kekhawatiran Pasokan yang Melimpah

Oleh Arthur Gideon pada 19 Des 2018, 05:36 WIB
Diperbarui 20 Des 2018, 11:15 WIB
Ilustrasi tambang migas

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak jatuh pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu lagi waktu Jakarta). Pendorong penurunan harga miyak karena adanya laporan pembengkakan persedian di AS dan juga produksi Rusia yang terus bertambah di tengah pelemahan permintaan.

Mengutip Reuters, Rabu (19/12/2018), harga minyak mentah AS turun USD 2,78, atau 5,5 persen dan diperdagangkan di angka USD 47,10 per barel. Harga minyak AS ini sempat diperdagangkan di angka USD 46,97 per barel yang merupakan harga terlemah sejak September 2017.

Sedangkan harga minyak Brent yang menjadi patokan global turun USD 2,54 atau 4,2 persen dan diperdagangkan pada USD 57,07 per barel. Harga minyak Brent sempat mencapai angka terendah dalam 14 bulan di USD 56,86 per barel.

Kepercayaan investor memburuk, dengan semakin banyak analis yang memperkirakan pertumbuhan global akan melemah selama 12 bulan ke depan. Prospek terburuk dalam satu dekade, menurut survei investor Bank of America Merrill Lynch pada bulan Desember.

"Ada banjir berita kombinasi dari pelemahan permintaan dan produksi yang meningkat sehingga membuat harga minyak tertekan di bawah USD 50 per barel dan itu memberikan sinyal jual yang kuat," kata Bob Yawger, Direktur Perdagangan Berjangka Mizuho, New York, AS.

Ladang minyak terbesar di Inggris mulai berproduksi kembali sehingga meningkatkan pasokan. Sementara pemerintah AS mengatakan bahwa produksi akan mencapai 8 juta barel per hari pada tahun ini dan data memperlihatkan bahwa persediaan minyak AS kembali naik pada minggu ini.

Kedua benchmark harga minyak telah turun lebih dari 30 persen sejak awal Oktober karena membengkaknya persediaan global.

Volume perdagangan pada Selasa cukup rendah karena menuju musim liburan dan menjelang berakhirnya kontrak berjangka minyak mentah AS bulan depan.

 

2 of 3

Pemotongan Produksi

lustrasi tambang migas
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen minyak lainnya pada bulan ini sepakat untuk memangkas produksi 1,2 juta barel per hari, setara dengan lebih dari 1 persen permintaan global. Langkah tersebut dilakukan dalam upaya untuk menguras tangki dan menaikkan harga.

Tetapi pemotongan tidak akan terjadi hingga bulan depan dan produksi telah mencapai atau mendekati rekor tertinggi di Amerika Serikat, Rusia dan Arab Saudi.

Produksi minyak Rusia mencapai rekor 11,42 juta barel per hari bulan ini, sumber industri mengatakan kepada Reuters.

Produksi minyak dari tujuh blok migas utama AS pada akhir tahun diperkirakan akan melampaui 8 juta barel per hari untuk pertama kalinya, kata the U.S. Energy Information Administration.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓