Indonesia Harus Siap Hadapi Resesi Dunia

Oleh Merdeka.com pada 17 Des 2018, 19:15 WIB
Sri Mulyani

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan kekhawatirannya mengenai kondisi ekonomi global di tahun 2019. Hal itu harus diwaspadai oleh semua pihak termasuk sektor properti.

Dia menyebutkan, menjelang tutup tahun 2018 masih harus terus menerus memperhatikan, melihat dan meneliti dinamika ekonomi global dan dalam negeri.

"Kami juga harus akui bahwa menjelang tutup tahun 2018 dan memasuki 2019 banyak sekali warning (peringatan) mengenai outlook ekonomi 2019 yang perlu diwaspadai bersama," kata Menkeu Sri Mulyani dalam acara Property Outlook 2019 bertema The Power of Property Industry to Boost Economic Growth, di Gedung Dhanapala Kemenkeu, Jakarta, Senin (17/12/2018).

Beberapa hal yang patut diwaspadai tersebut antara lain kemungkinan akan terjadinya resesi dunia. Dimana sepanjang tahun ini orang-orang melihat pertumbuhan ekonomi AS tumbuh tinggi. Bahkan kondisi tersebut terus berlanjut hingga akhir tahun ini.

"Pertanyaannya, apakah akan tetap berlangsung pada seluruh 2019? Mereka lihat dari sisi yield curve dari treasury yang memberikan indikasi kemungkinan tanda-tanda masa depan more barriers than present. Ini ditunjukkan dengan inverted yield curve. Kita melihat tanda-tanda kebijakan ekonomi, seperti trade policy AS yg menimbulkan dampak yang sangat luas di dunia," ujarnya.

"Ketegangan dengan RRT (China) tidak menurun, kita masih ada di proses 3 bulan waktu jeda untuk bisa menyelesaikan," dia menambahkan.

 

2 of 2

Geopolitik

Pemerintah rapat bersama Banggar
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberi paparan dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR di Gedung Nusantara II DPR, Kamis (31/5). Rapat terkait penyampaian kerangka ekonomi makro dan pokok kebijakan dalam RAPBN 2019. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Selain itu, faktor geopolitik juga turut mempengaruhi ketidakpastian ekonomi global.

"Jadi memasuki tahun 2019, sense ketidakpastian dalam G20 mereka merevisi outlook global economy 2019 dari 3,9 persen menjadi 3,5 persen. IMF menurunkan juga tahun ini dan tahun depan karena risiko down side mulai terjadi sehingga kemungkinan akan mengancam ekonomi," ujarnya.

Selain masalah confident atau kepercayaan terhadap pertumbuhan ekonomi dunia tahun depan, ada beberapa tren lainnya yang harus diwaspadai yaitu suku bunga.

"Meskipun The Fed (bank central AS) dapat tekanan naik ahir tahun ini atau tahun depan, likuiditas tightening. Sektor properti akan sangat dipengaruhi dua faktor ini (suku bunga, inflasi dan pengetatan likuiditas)," tutupnya.

Reporter: Yayu Agustini Rahayu

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by