Akuisisi Dua Perusahaan Perkebunan, Dharma Satya Rogoh Kocek Rp 2,1 Triliun

Oleh Agustina Melani pada 14 Des 2018, 14:44 WIB
20170210- IHSG Ditutup Stagnan- Bursa Efek Indonesia-Jakarta- Angga Yuniar

Liputan6.com, Jakarta - PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), perusahaan bergerak di industri kelapa sawit dan produk kayu menuntaskan pengambilalihan 100 persen saham PT Bima Palma Nugraha (BPN) dan PT Bima Agri Sawit (BAS) dengan total Rp 2,1 triliun.

Hal itu ditandai dengan penandatanganan perjanjian jual beli antara Perseroan dengan BPN dan BAS pada 12 Desember 2018. Sesuai perjanjian jual beli, grup DSN sepakat mengambilalih 100 persen BPN dan 100 persen BAS, dua perusahaan perkebunan milik BPG yang berlokasi di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Adapun penandatangan perjanjian terkait pengambilalihan 100 persen BPN dengan hasil perhitungan harga Rp 1,4 triliun. Kemudian 100 persen BAS dengan hasil perhitungan harga Rp 700 miliar.

Perseroan telah mendapatkan restu pemegang saham untuk melakukan aksi korporasi tersebut pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 10 Desember 2018.

Sekretaris Perusahaan grup DSN, Paulina Suryanti menuturkan, pengambilalihan BPN dan BAS sebagai langkah strategis bagi perseroan untuk berkembang melalui pengembangan lahan perkebunan baru secara anorganik. Selain itu juga berupaya melakukan penanaman baru di lahan milik sendiri.

"Hari ini menjadi salah satu milestone bagi grup DSN, sekaligus menunjukkan komitmen kami untuk terus berkembang dalam usaha perkebunan kelapa sawit," ujar Paulina, seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI, yang ditulis Jumat (14/12/2018).

Perseroan mengambilalih saham BPN dan BAS mempertimbangkan pengembangan perusahaan secara jangka panjang.

Saat ini, kedua perkebunan kelapa sawit itu sudah menghasilkan tanaman menghasilkan dengan usia tanam relatif muda. Setelah pengambilalihan, menurut Paulina, diperkirakan ada penambahan produksi CPO sekitar 14 persen.

Selain itu, akuisisi ini akan memberikan nilai tambah bagi perseroan karena kedua perusahaan perkebunan itu memiliki alokasi di Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Daerah tersebut merupakan lokasi terbesar kebun PT Dharma Satya Nusantara Tbk sehingga dapat memberikan sinergi dalam pengembangan usaha di masa mendatang. Perseroan mengharapkan akan meningkatkan nilai penjualan perseroan karena bertambahnya volume produksi CPO.

 

2 of 2

Kinerja Kuartal III

Terjebak di Zona Merah, IHSG Ditutup Naik 3,34 Poin
Pekerja bercengkerama di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). IHSG ditutup naik 3,34 poin atau 0,05 persen ke 5.841,46. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) mencatatkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 19,32 persen hingga akhir kuartal III 2018. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp 277,25 miliar hingga akhir kuartal III 2018 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 343,65 miliar.

Perseroan membukukan pendapatan lainnya turun menjadi Rp 11,22 miliar hingga akhir kuartal III 2018 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 22,41 miliar.

Perseroan alami kerugian penjualan aset tetap sebesar Rp 611 juta pada akhir kuartal III 2018 dari periode sama tahun sebelumnya untung Rp 396 juta. Beban penjualan naik menjadi Rp 187,34 miliar hingga akhir September 2018 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 181,07 miliar.

Penjualan perseroan turun 13,15 persen dari Rp 3,84 triliun hingga akhir September 2017 menjadi Rp 3,33 triliun hingga akhir September 2018.

Total liabilitas tercatat naik menjadi Rp 5,42 triliun pada 30 September 2018 dari periode 31 Desember 2018 sebesar Rp 5,15 triliun. Perseroan kantongi kas sebesar Rp 335,08 miliar pada 30 September 2018.

Pada perdagangan saham Jumat 14 Desember 2018, saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk naik 0,56 persen ke posisi Rp 356 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 32 kali dengan nilai transaksi Rp 224,4 juta.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓