Bos BI Ingin Pesantren Ajarkan Ilmu Kewirausahaan

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 11 Des 2018, 11:35 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) di Grand City, Surabaya, Selasa (11/12/2018).

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) berharap kepada seluruh pesantren di Indonesia untuk mulai mengajarkan ilmu kewirausahaan kepada para santri. Ilmu ini dinilai sangat bermanfaat bagi kemandirian ekonomi pesantren itu sendiri dan juga nasional.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, saat ini sudah mulai pesantren memiliki unit usaha. Unit usaha inilah yang kemudian berfungsi sebagai penopang ekonomi pesantren itu sendiri.

"Kalau bicara kemandirian itu berarti soal daya juang dan kewirausahaan. Para santri ini jelas daya juangnya tidak perlu ditanyakan dan kemampuan bersaingnya sudah teruji. Tinggal masalah kemampuan kewirausahannya. Itu yang saya kira perlu terus diajarkan dan ditingkatkan," kata Perry di Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) di Grand City, Surabaya, Selasa (11/12/2018).

Perry juga memaparkan bagaimana kuatnya ekonomi pesantren ini jika dikembangkan. Saat ini setidaknya ada sekitar 30 ribu pesantren di seluruh Indonesia dengan jumlah santri sekitar 5 juta. Basis sumber daya manusia yang cukup banyak ini menjadi modal utama.

Bahkan, Perry mengklaim, ekonomi pesantren ini bisa menjadi pendobrak baru dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa tahun ke depan.

"Karena pesantren itu dengan sendirinya membuat jaringan silaturahmi, baik antar pesantren, sanyrinya, hingga alumninya. Ini modal ekonomi yang sudah jadi," Perry menambahkan.

Banyak potensi yang bisa dijadikan pesantren sebagai basis pengembangan ekonomi mandiri, mulai dari agrobisnis hingga industri hilirisasi.

"Kalau sudah ada pesantren yang punya kemampuan ini, unit usahanya sudah maju, ini bisa ditularkan ke pesantren lain. Jadi ngaji fikih, ngaji sugih," tutup Perry.

2 of 3

Jokowi Targetkan Bangun 1.000 BLK di Pondok Pesantren

Jokowi Bicara Perkembangan Fintech di IMF-Bank Dunia 2018
Presiden Joko Widodo saat berpidato dalam Bali Fintech Agenda IMF-WB 2018 di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10). Jokowi mengaku mengacu pada kebijakan Amerika Serikat (AS) yang merupakan negara kelahiran internet. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi berjanji akan meningkatkan jumlah balai latihan kerja (BLK) di pondok pesantren. Bahkan, mantan Wali Kota Solo itu menargetkan perkembangam BLK di lingkungan pondok pesantren bisa mencapai 1.000 pada tahun depan.

Menurut Jokowi, tahun ini beberapa program untuk pemberdayaan sumber daya manusia telah masuk di sejumlah pondok pesantren. Program itu di antaranya bank wakaf mikro.

"Untuk program bank wakaf mikro memang baru kita mulai. Saat ini ada 33 pondok pesantren yang sedang kita coba," kata Jokowi di hadapan puluhan ribu santri yang memadati Benteng Vastenburg Solo dalam rangka Apel Akbar Santri Nusantara, Sabtu malam, 20 Oktober 2018.

Selain bank wakaf mikro, Jokowi juga menyebutkan sedang mencoba membuat BLK di sejumlah pondok pesantren. Bahkan, jumlah balai latihan kerja di pondok pesantren akan terus bertambah setiap tahun.

"Saat ini Balai Latihan Kerja khusus di pondok pesantren baru 50. Tetapi tahun depan insyaallah akan kita perbanyak lagi jumlahnya, kurang lebih 1.000 yang akan saya dirikan di pondok-pondok pesantren," harapnya.

Jokowi berjanji akan melipatgandakan jumlah balai latihan kerja khusus di pondok pesantren, karena jumlah pondok pesantren di Indonesia cukup banyak.

"Tahun depan insyaallah akan dilipatkgandakan lagi karena di negara kita ini punya 28 ribu pondok pesantren yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote," papar Jokowi.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓