Bos BEI: Kinerja Pasar Modal RI Tetap Baik di Tengah Gonjang-ganjing Global

Oleh Bawono Yadika pada 03 Des 2018, 10:46 WIB
BEI.

Liputan6.com, Jakarta Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djayadi mengatakan, Pasar Modal Indonesia mencatatkan kinerja yang baik meski dihempas sentimen ketidakpastian global.

Hal ini dia ungkapkan dalam acara CEO Networking 2018 yang turut dihadiri Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Senin (3/12/2018) pagi ini.

"Acara ini dalam rangka HUT pasar modal dengan tujuan untuk meningkatkan sinergi dan bertukar pikiran antara perusahaan dan pemerintah. Meski dinamika ekonomi global dan domestik mempengaruhi pasar modal Indonesia. Namun pasar modal mencatatkan kinerja yang baik," jelas dia di Ritz Carlton, Jakarta.

Inarno menjelaskan, kepercayaan investor pun bertambah di pasar modal. Itu antara lain disebabkan adanya beberapa upaya yang telah dilakukan BEI.

"Sepanjang 2018, 53 perusahaan go public. Ini pencapaian tertinggi sejak berdiri 1998 serta pasar modal tertinggi di Asia. BEI juga mengembangkan IDX incubator untuk mendukung startup-startup di indonesia. Semua sinergi ini telah mewujudkan peningkatan pasar ekonomi di Indonesia," jelas dia.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, Indonesia memang cukup baik merespon ketidakpastian global yang terjadi. Pertumbuhan ekonomi dapat dijaga dalam rentang yang terukur ditengah gejolak yang ada.

"Di tengah gejolak dan tekanan ekonomi dunia, Indonesia terlihat dan bisa ditandai dengan jelas bahwa ekonomi kita mampu bertahan dengan baik. Pertumbuhan ekonomi secara year-to-date itu mencapai 5,17 persen atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya walaupun ada gejolak dan tekanan," jelas dia.

Pemerintah pun terus berkomitmen mendorong perekonomian dalam negeri. Salah satunya melalui pembangunan sumber daya manusia (SDM) pada tahun depan.

"Pemerintahan Jokowi-JK memperkenalkan pendekatan yang agak berbeda dengan beberapa tahun terakhir ini. Kebijakan utama ditekankan pada supply side yakni infrastruktur, SDM, pertahanan, itu adalah supply side," jelasnya.

"Dan pada tahun depan bapak presiden memerintahkan memperbaiki SDM Indonesia. Kalau itu bisa kita jalankan, maka perbaikan dari supply side itu bisa jadi basis kita untuk keluar dari jebakan middle income trap," ia menambahkan.

2 of 2

Meredanya Perang Dagang AS-China Bawa Keuntungan Buat RI

3 Menteri Jokowi Umumkan Paket Kebijakan Ekonomi XVI
Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menkeu Sri Mulyani, Gubernur BI Perry Warjiyo, dan perwakilan OJK Nurhaida saat meluncurkan Paket Kebijakan Ekomomi XVI, Jakarta, Jumat (16/11). Paket ini diharap mendorong kenaikan investasi. (Liputan6.com/AnggaYuniar)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyambut baik keputusan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan China terkait perang dagang.

Darmin mengungkapkan, adanya perang dagang membuat ekonomi global mengalami ketidakstabilan. Indonesia turut merasakan dampak tersebut dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Namun beruntungnya, rupiah kembali mulai menguat.

"Perang dagang, perlu rupiah menguat meski sudah menguat di akhir Oktober lalu," ujar dia di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Senin (3/12/2018).

Dia mengungkapkan, saat ini rupiah mengalami penguatan paling besar dibandingkan dengan mata uang negara lain.

"Melihat negara-negara ASEAN dan emerging market yang besar-besar, maka sebulan terakhir ini rupiah mengalami peningkatan dan penguatan terdepan," kata dia.

Oleh sebab itu, dengan meredanya perang dagang, Darmin berharap rupiah bisa terus menguat. Selain itu, gencatan senjata di perang dagang ini akan membuat pemerintah lebih leluasa dalam menjalankan program-programnya.

"Oleh karena itu, perang dagang semakin mereda, kita akan bisa menjalankan program-program ekonomi yang lebih baik," tandas dia.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait