Menteri Jonan Minta PLN Gunakan CPO untuk Pembangkit Listrik

Oleh Septian Deny pada 26 Nov 2018, 19:15 WIB
Diperbarui 28 Nov 2018, 19:13 WIB
Menteri ESDM dan Mantan Menkeu Jadi Keynote Speech Transformational Business Day

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong PLN untuk menggunakan minyak sawit (CPO) sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Ada sejumlah keuntungan yang akan didapat dari penggunaan CPO ketimbang Solar.

"Tahun depan kita akan coba pembangkit listrik tenaga CPO. Ini saya sudah minta ke PLN," ujar dia di kawasan Kuningan, Jakarta, Senin (26/11/2018).

Dia mengungkap, dengan menggunakan CPO, akan menekan biaya produksi listrik yang harus dikeluarkan.

"Biaya produksi PLN itu rata-rata USD 15-20 sen per kWh. Kalau pakai CPO USD 13 sen, ya tidak sampai USD 15 sen," kata dia.

Selain itu, penggunaan CPO juga ramah lingkungan dan mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM). Hal ini yang selalu menjadi isu yang ramai dibicarakan.

"Selain ramah lingkungan juga kurangi impor BBMKarena orang bilang kok impor makin besar, iya orang kendaraannya makin lama makin besar. Tapi CPO ini akan kita coba," tandas dia.

2 of 3

Program B20 Bawa Nilai Tambah buat Minyak Sawit RI

Ilustrasi CPO 1 (Liputan6.com/M.Iqbal)
Ilustrasi CPO 1 (Liputan6.com/M.Iqbal)

Genap dua bulan sudah penerapan kebijakan pencampuran bahan bakar minyak (BBM) solar dengan minyak kelapa sawit (B20) sebesar 20 persen telah berlaku.

Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, dampak penerapan B20 sangat dirasakan perseroan. Kebijakan mandatori ini juga berdampak besar terhadap negara. 

"Awalnya kan B20 ini untuk kurangi impor. Tapi kalau dari Pertamina itu bulan kemarin kita sudah kurangi impor. B20 sudah terasa dampaknya, volume impor untuk solar itu menurun," ujar dia di Bontang, Kalimantan Timur, seperti dikutip Senin (29/10/2018).

Dirut Nicke menjelaskan, kebijakan perluasan B20 membawa penurunan konsumsi impor BBM sebanyak 20 persen.

"20 persen turunnya selama 2 bulan ini, kan campurannya 20 persen dikurangi dengan kami kan. Jadi 20 persen dari volume turunya," tutur dia.

Nicke melanjutkan, penerapan B20 bahkan mengkerek harga minyak sawit mentah di tingkat global.

"Untuk negara (B20) itu sangat membantu karena selama ini kan ekspor terbesar kedua untuk pendapatan negara datangnya dari CPO. Jadi bukan Dolar aja yang naik, harga CPO juga naik. Jadi kalau 20 persen itu bisa kita ganti dengan local resources kan tentu sangat membantu," kata Nicke.

Ia pun mengaku senang dengan hasil sementara dari penerapan kebijakan B20 yang tengah berjalan selama dua bulan terakhir. Terutama bagaimana penerapannya membawa nilai tambah bagi CPO.

"Jadi ketika kita manfaatkan local resources kita, maka itu sangat baik sehingga industri CPO kemudian bisa nambah lagi added value-nya," pungkas dia.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓