Pengusaha Paparkan 3 Tantangan Ekonomi RI di 2019

Oleh Septian Deny pada 26 Nov 2018, 18:45 WIB
Diperbarui 26 Nov 2018, 19:16 WIB
Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi 2

Liputan6.com, Jakarta Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani memaparkan tantangan yang akan dihadapi ekonomi Indonesia di 2019.

Tantangan pertama terkait perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China. Bahkan akibat isu ini, IMF telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,7 persen.

"IMF sudah menurunkan proyeksinya dari 3,9 persen menjadi 3,7 persen. Ada kekhawatiran perang dagang," ujar dia di kawasan Kuningan, Jakarta, Senin (26/11/2018).

Tantangan kedua, yaitu fluktuasi harga minyak. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap Indonesia mengingat masih ketergantungan terhadap impor. "Kemudian, fluktuasi harga minyak dunia," jelasnya.

Dan tantangan ketiga, kondisi politik di dalam negeri, khususnya jelang pemilihan presiden (pilpres) 2019. Akibatnya, para investor masih menunggu kondisi di dalam negeri serta kebijakan yang akan dikeluarkan pemerintah di tahun depan.

‎"Yang kita tunggu, transformasi di 2019 seperti apa, arah kebijakan pemerintahan dan kemungkinan yang memegang pimpinan kementerian dan lembaga akan berganti. Ini akan menentukan arah ekonomi kita seperti apa‎," tandas dia.

2 dari 2 halaman

Perang Dagang AS-China Bakal Untungkan Negara di Asia Tenggara

Kinerja Ekspor dan Impor RI
Aktivitas bongkar muat barang ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/7). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja ekspor dan impor Indonesia mengalami susut signifikan di Juni 2017. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China mendorong perusahaan global untuk kembali mempertimbangkan manufaktur dan pabriknya di China.

Berdasarkan laporan perusahaan konsultan Bain and Co, kondisi tersebut memberikan keuntungan bagi negara di Asia Tenggara. Managing Partner for Southeast Asia, Satish Shankar menuturkan, dalam jangka pendek, akan ada efek di wilayah untuk tujuan ekspor terutama Amerika Serikat.

"Segera ekspor ke China, kemudian ke Amerika Serikat. Ini berdampak terhadap industri seperti tekstil dan elektronik. Bagaimana pun juga jangka panjang, kami percaya ASEAN sangat menarik sebagai alternatif supply chain perusahaan yang mencari diversifikasi selain China,” tutur dia, seperti dikutip dari laman CNBC, seperti ditulis Minggu (25/11/2018).

Bain prediksi, perusahaan pertimbangkan memindahkan supply chain-nya ke Asia Tenggara. Perusahaan menengah dan usaha kecil di wilayah tersebut akan lebih mengadopsi lebih banyak teknologi dalam operasi hariannya. Ini dapat ciptakan kesempatan USD 1 triliun. 

AS menerapkan tambahan untuk daftar barang China sejak Juli. China pun merespons dengan barang impor AS meski Presiden China Xi Jinping mengecam proteksionisme.

Investor kini memantau pertemuan yang sangat dinanti-nantikan antara kedua negara ketika Xi Jinping bertemu Presiden AS Donald Trump pada KTT G20 yang berlangsung pada 30 November-1 Desember. Investor mencari petunjuk apakah ada terobosan untuk selesaikan perang dagang.

 

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait