Belum Menikah Jadi Alasan Milenial Tak Beli Rumah

Oleh Merdeka.com pada 23 Nov 2018, 20:01 WIB
Diperbarui 25 Nov 2018, 01:15 WIB
20160908-Properti-Jakarta-AY

Liputan6.com, Jakarta - Kaum milenial nampaknya masih betah tinggal di rumah orang tua. Kebanyakan dari mereka baru akan hidup mandiri jika sudah menikah. Kebudayaan timur juga ikut mempengaruhi keputusan seseorang untuk tinggal terpisah dari orang tua.

Rumah.com Property Affordability Sentiment Index melakukan survei terhadap 1.000 orang di kota-kota di Indonesia ditujukan untuk mengetahui respons pasar dari sisi permintaan sekaligus untuk menciptakan transparansi informasi untuk konsumen.

Dari total responden, sebanyak 63 persen di antaranya berada di golongan generasi milenial, yakni usia 22-35 tahun. Dari total responden milenial ini, sebanyak 51 persen mengaku masih tinggal di rumah orang tua.

Survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H2-2018 menunjukkan bahwa mayoritas responden milenial menetapkan rencana untuk keluar dari rumah orang tua pada rentang usia 25-30 tahun.

Ketika diminta untuk menyebutkan alasan-alasannya, sebanyak 59 persen menyertakan 'Belum Menikah' sebagai salah satu faktornya. Alasan lain yang banyak disertakan adalah belum punya uang (53 persen). Sementara alasan 'Menjaga Orang Tua' dicantumkan oleh 47 persen responden.

Head of Marketing Rumah.com, Ike Hamdan, berpendapat bahwa hasil survei ini menunjukkan bahwa keputusan untuk membeli rumah masih amat dipengaruhi oleh budaya ketimuran. Banyak orang melihat rumah adalah kebutuhan bagi orang yang sudah berkeluarga sehingga sebelum menikah, kebanyakan orang belum memikirkan untuk membeli rumah.

"Pemikiran ini perlu di-challenge kembali. Saat sudah menikah apa lagi punya anak, kebutuhan finansial akan semakin besar. Ketika menikah, masyarakat kita terbiasa untuk mengeluarkan banyak uang untuk resepsi. Betulkah ini yang diperlukan?" kata dia dalam keterangan tertulis, Jumat (23/11/2018).

"Justru di masa muda, saat masih lajang atau belum punya anak, beban penghasilan belum terlalu besar. Ada baiknya mulai mencicil membeli rumah. Untuk yang memiliki jenis pekerjaan formal, cicilan tetap dengan jangka panjang dapat dipilih. Untuk yang bekerja sektor informal atau musiman, bisa dengan mengumpulkan uang hasil proyek pekerjaan secara cermat." tambah dia. 

 

2 of 3

Budaya Lain

20160908-Properti-Jakarta-AY
Pengunjung melihat maket perumahan di pameran properti di Jakarta, Kamis (8/9). Dengan dilonggarkannya rasio LTV, BI optimistis pertumbuhan KPR bertambah 3,7%year on year (yoy) hingga semester I-2017. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Budaya Timur lain yang memengaruhi keputusan membeli rumah adalah kewajiban untuk menjaga orang tua di masa tua.

Berbeda dengan kebiasaan masyarakat Barat yang justru terbebani jika putra-putrinya tidak juga meninggalkan rumah orang tua ketika beranjak dewasa, kebudayaan Timur justru memandang tidak pantas jika orang tua dibiarkan hidup sendiri.

Banyak di antara masyarakat usia produktif sekarang yang terjebak menjadi sandwich generation: memikirkan masa depan untuk diri dan anak-anak, di saat yang bersamaan menjalankan bakti menjaga orang tua. Karena itu, kemampuan untuk mengelola prioritas dalam keuangan menjadi semakin penting untuk dikuasai.

"Meski bisa tinggal gratis di rumah orang tua, akan tetap lebih baik jika memiliki rumah sendiri untuk menghindari potensi konflik. Misalnya jika orang tua meninggal dan harta waris itu harus dibagi-bagi. Atau lebih baik lagi jika orang tua tinggal di rumah kita sendiri dan menyewakan rumah orang tua untuk mencukupi kebutuhan orang tua," jelas Ike.

Meskipun tergolong lama dalam memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tua, para milenial ini rupanya tetap menyadari pentingnya punya rumah sendiri. Sebanyak 87 persen responden milenial yang mengaku masih tinggal di rumah orang tua mengaku sudah merancang strategi untuk membeli rumah.

Saat ditanya strategi apa saja yang digunakan untuk membeli rumah di masa mendatang, sebanyak 65 persen responden menyertakan 'Menabung Bulanan' sebagai salah satu strateginya. Kemudian cara lain yang juga dipilih adalah berinvestasi, sebesar 32 persen. Meski demikian, masih ada 10 persen responden yang mengaku belum mulai menabung.

"Ketimbang menabung di rekening reguler, ada baiknya melakukan investasi. Instrumen investasi seperti deposito dan reksadana menawarkan bunga yang lebih tinggi dibanding rekening reguler dengan tingkat resiko yang rendah."

Reporter: Idris Rusadi Putra

Sumber: Merdeka.com

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by