BUMN Karya Sepakat Gunakan Baja Krakatau Steel

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 23 Nov 2018, 15:30 WIB
Krakatau Steel

Liputan6.com, Jakarta - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya sepakat menggunakan baja produk PT Krakatau Steel Tbk (KRAS).

Ini ditunjukkan dengan penandatanganan kesepakatan PT Krakatau Steel Tbk dengan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Hutama Karya (Persero), PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT PP (Persero) Tbk, dan PT Nindya Karya (Persero) pada Jumat (23/11/2018).

Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk, Silmy Karim mengatakan, ini merupakan bentuk sinergi sederhana antar BUMN dalam mengembalikan kejayaan industri baja nasional.

"Belakangan ini industri baja nasional sedang mendapat cobaan besar. Makanya Bu Menteri dan jajarannya ingin mengembalikan kejayaan industri baja nasional, khususnya Krakatau Steel," ujar Silmy di Gedung Kementerian BUMN, Jumat pekan ini.

Perjanjian ini disepakati bukan tidak ada berbagai pertimbangan. Silmy mengaku selama ini telah menerima banyak masukan dari para penngguna baja, khususnya BUMN karya. Masukan ini mulai dari kualitas hingga harga baja itu sendiri.

Selama ini, industri baja nasional dihantam dengan produk-produk baja induction furnist yang kualitasnya kurang baik tapi memiliki harga yang lebih murah dibandingkan produk baja KS.

"Mulai saat ini kita akan kompetitif dalam hal harga. Tentu tidak bisa turunkan harga seperti produk induction furnist, tapi kita bantu supaya lebih kompetitif," tegas Silmy.

Dengan ada kesepakatan ini, Silmy mengharapkan bisa mendorong penjualan baja PT Krakatau Steel Tbk yang ditargetkan mampu meningkat 15 persen pada 2018. Seperti diketahui, saat ini konsumsi baja nasional sekitar 18 juta ton baja.

Namun, kapasitas industri dalam negeri hanya sekitar 10 juta ton, dengan kapasitas KS saat ini sebesar 5 juta ton per tahun. (Yas)

 

2 of 2

Krakatau Steel Tekan Rugi hingga Kuartal III 2018

Krakatau Steel
(Liputan6.com)

Sebelumnya, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) mampu mencatatkan peningkatan volume penjualan sebesar 14,21 persen  pada kuartal III 2018 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu menjadi 1.595.260 ton. 

Kontribusi kenaikan ini disumbang oleh kenaikan penjualan baja lembaran panas dan long product sebesar 26,2 persen dan 12,92 persen menjadi 913.619 ton dan 216.738 ton dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan volume pendapatan ini, mendorong Perseroan meraih pendapatan bersih  sebesar USD 1.274,10 juta atau meningkat 22,71 persen dibanding kuartal III periode sama 2017.  

Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), Silmy Karim, mengatakan pendapatan bersih ini ditopang oleh kenaikan harga baja pada M9 2018. 

"Puncak kenaikan harga HRC terjadi pada awal bulan Juni 2018 yang mencapai USD 740 per ton. Memasuki M9 2018  harga jual rata-rata HRC naik 5,67 persen di kisaran harga USD 640-680 per ton dibanding harga pada periode yang sama tahun lalu di harga USD 599 per ton,” ujar Silmy kepada wartawan, Jumat (26/10/2018).

Beberapa peningkatan kinerja tersebut juga diiringi oleh menurunnya rugi dari entitas anak usaha dan afiliasi secara signifikan hingga kerugian pada September 2018 mencapai USD 7,73 juta dari yang sebelumnya USD 37,55 juta di tahun sebelumnya.

"Dari hasil ini kinerja Perseroan kembali membaik pada September 2018 ini. Rugi Perseroan kembali turun secara tajam 50,85 persen yakni USD 36,89 juta dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai USD 75,05 juta. Raihan ini kembali menumbuhkan optimisme di Perseroan untuk terus memperbaiki kinerjanya di masa mendatang,” ungkap Silmy.

Selain itu, dalam rangka melakukan ekspansi kapasitas produksi dilakukan dengan membangun pabrik baja lembaran panas #2 atau HSM#2, saat ini kemajuan konstruksi fisiknya sudah mencapai 86,83 persen per September 2018. Direncanakan proyek ini menambah kapasitas sebesar 1,5 juta ton per tahun yang akan rampung pada kuartal III 2019.

Kemajuan pembangunan blast furnace juga telah menunjukkan hasil yang menggembirakan, pada 16 Oktober yang lalu telah dilakukan pemanasan tungku blast stove yang merupakan tahapan penting dari beroperasinya keseluruhan pabrik Blast Furnace Complex. Pabrik ini akan melakukan produksi perdananya atau first blow in pada 20 Desember 2018.

Untuk peningkatan pemasaran, Perseroan kembali memperkuat pasar di wilayah Timur pulau Jawa dengan melakukan Long Term Supply Agreement (LTSA) dengan PT Sunrise Steel pada 3 Oktober lalu.

Sepanjang  2017, PT Krakatau Steel Tbk menyuplai baja lembaran dingin ke PT Sunrise Steel sebesar 62.000 ton dan diproyeksikan akan meningkat untuk pasokan pada 2018.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓