Wawancara Khusus Dirut Railink: Ke Bandara Pakai Kereta Cuma 15 Menit

Oleh Nurmayanti pada 21 Nov 2018, 10:24 WIB
Diperbarui 26 Nov 2018, 09:12 WIB
Kunjungan Dirut Railink Heru Kuswanto ke Kantor KLY

Liputan6.com, Jakarta - Kian mudah. Kata yang mungkin bisa mengungkapkan tujuan dari keberadaan kereta bandara. Maklum, kepadatan jalan kerap menyulitkan masyarakat mencapai bandara untuk terbang menuju wilayah tujuan dengan tepat waktu. 

Kini, selain moda transportasi bus, masyarakat memiliki pilihan lain untuk cepat sampai ke bandara, yakni dengan memanfaatkan jasa transportasi kereta api.

Pemerintah menugaskan PT Railink memberikan layanan kereta api bandara secara maksimal  kepada masyarakat. Railink merupakan perusahaan patungan antara PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Angkasa Pura II (Persero).

Sebagai langkah awal adalah pengoperasian Kereta Api Bandara Kualanamu yang resmi dibuka pada 25 Juli 2013. Pengoperasian kereta bandara ini bersamaan dengan peresmian operasional Bandar Udara Internasional Kualanamu.

Hingga kini, Kereta Bandara Kualanamu terus menunjukkan pertumbuhan penumpang. Dengan memiiki frekuensi 20 kali PP perjalanan dari Stasiun Medan ke Stasiun Bandara Kualanamu, berkapasitas 308 tempat duduk, dengan lama perjalanan 30 menit saat menuju bandara, dan 30-47 menit saat menuju Medan.

Usai itu, pada 26 Desember 2017, Kereta (KA) Bandara Internasional Soekarno-Hatta resmi dibuka untuk masyarakat umum. Kereta bandara ini berangkat dari Stasiun Sudirman Baru (BNI City). 

Railink sebagai pengelola kini terus berupaya mengembangkan inovasi guna menarik masyarakat memakai kereta bandara.

Lalu, strategi pengembangan apa saja yang dilakukan PT Railink untuk menarik minat masyarakat naik kereta bandara?.  Apakah perusahaan juga akan terus mencari lokasi pengembangan kereta bandara di lokasi atau wilayah lain?

Direktur Utama PT Railink Heru Kuswanto berkenan memaparkan rencana yang dilakukan perseroan untuk mengembangkan terus kereta bandara, secara jumlah penumpang, fisik, maupun layanan kepada masyarakat.

Simak wawancara beliau bersama Liputan6.com, berikut:

Seberapa besar pertumbuhan jumlah penumpang kereta Bandara Soekarno Hatta, apakah sudah sesuai target?

Perjalanan Kereta Api Bandara Soekarno Hatta ini didesain awal adalah per 15 menit sekali atau dalam sehari ada 124 KA dari dua arah, dengan rute awal Manggarai ke Bandara Soetta.

Untuk capaian saat ini kita baru mengoperasikan 70 KA atau per 30 menit. Jadi belum sampai ke per 15 menit. Ini karena berbagai hal, termasuk kapasitas track-nya, jalurnya.

Dari itu semua, sekarang ini pertumbuhan penumpang per hari kurang lebih 3 ribu. Memang masih belum seperti harapan, karena ada beberapa pekerjaan di kami, di KAI Group maupun AP II memang belum semuanya selesai, termasuk yang Manggarai.

Meski Manggarai saat ini sudah bisa untuk mendukung operasi KA Bandara karena depo kita ada di sana, staffing juga. Tapi untuk pelayanan penumpang memang belum. Padahal, Manggarai ini posisinya adalah sebagai hub nantinya. Di mana kereta Bandara bisa berintegrasi dengan KRL dan juga kereta jarak jauh ke depannya, tapi memang saat ini belum.

Baru mungkin kurang lebih Maret 2019, bisa buka layanan KA Bandara di sana (Manggarai) tapi secara integrasi juga belum semua KA jarak jauh berhenti di sana.

Kapan target 15 menit KA bandara akan terwujud?

Target untuk 15 menit ini masih memerlukan dukungan dari beberapa hal. Mungkin bisa setahun dua tahun ke depan dengan selesainya peremajaan persinyalan, penerapan ATP (automatic train protector). Dan hal-hal lain terkait dengan prasarana, sehingga nanti kapasitasnya meningkat dan bisa mendukung yang tadi, termasuk selesainya Manggarai secara total.

Ada dua double track nanti ada di lantai 1 untuk tahap bandara sama KRL Bekasi Line. Kemudian untuk lantai atas untuk KA jarak jauh sama KRL Bogor Line.

Kalau semua itu udah selesai dalam dua tahun ke depan itu, Insya Allah bisa sampai untuk mencapai yang 15 menit sekali.

Inovasi yang dilakukan Railink untuk terus menambah penumpang kereta bandara ?

Berbagai upaya terus kita lakukan, dari sisi peningkatan daya saing tentunya. Seperti kemarin kita terus meningkatkan kecepatan. Waktu tempuh kita perbaiki, yang tadi waktu di awal operasi secara bertahap ya masih 57 menit sekarang 46 menit.

Dan kita berharap dengan KAI Group bisa memperpendek lagi di sekitar 35-40 menit nantinya. Memang belum selesai, ini terus berjalan.

Kemudian juga dari sisi headway tadi juga memang masih 30 menit. Kami akan mengarah ke 15 menit. Kemudian juga proyek marketing, kita juga punya program-program yang cukup menarik seperti pengerjaan yang sifatnya frekuensi, itu juga bisa mendapat potongan harga yang sangat bagus.

Kemudian bagi korporasi, ada program corporate membership yang bisa kita lakukan. Kemudian group booking. Itu kalau beli tiket untuk tiga orang ke atas, minimal tiga orang. Itu juga harganya ada potongan yang cukup menarik.

Kemudian bisa dari sisi marketing dan lainnya, kita akan terus menyelesaikan pekerjaan rumah yang belum selesai seperti Manggarai.

Kemudian juga dari sisi Bandara induk kami. AP II juga sudah terus mengejar untuk memperpendek headway skytrain, karena saat ini memang masih per 13 menit. Tapi nanti kalau sudah benar-benar driverless headway akan turun drastis menjadi hanya per 5 menitan.

Ini nanti akan sangat membantu, sehingga penumpang kita, ketika beralih di stasiun bandara ke shelter skytrain itu diharapkan tidak menunggu terlalu lama. Ini juga sedang dikerjakan.

Ada rencana penambahan rute KA bandara, seperti di Bekasi?

Bekasi sudah sejak 19 Juni sebenarnya sudah kita operasikan. Namun dengan keterbatasan kapasitas prasarana, disepakati di KAI group itu baru beroperasi di antara jam sibuk KRL. Sehingga baru ada empat keberangkatan dari Bekasi itu, jam 10.05, jam 11.10, jam 13.00 dan jam 14.00. 

Kita juga sudah mengajukan rencana, di Kereta Api Group sudah kita bahas dengan KCI. Sangat memungkinkan ditambah lagi yang pagi sebelum jam sibuknya KRL dan malam setelah jam sibuknya KRL.

Jadi kita tetap untuk lintas Bekasi ini, tetap kita masih utamakan KRL. Kalaupun ada tambahan KA Bandara sifatnya lebih ke arah di luar jam sibuknya KRL.

Lokasi stasiun dengan jumlah penumpang naik terbesar?

Ratu Ceper bagus, Sudirman Baru bagus, Bekasi pun juga saya yakin ketika nanti akan tambah yang pagi itu akan bagus. Dan mungkin kita akan menjajakan juga ke arah yang Bogor, tapi semua itu tergantung pada kondisi kapasitas trek kita.

Atau yang tadi saya sebutkan peremajaan persinyalan, penerapan teknologi ATP, segala macam jika sudah dilakukan masih sangat mungkin untuk menambah.

Dalam waktu dekat kalaupun yang itu belum dilakukan, mungkin penambahan tetap di luar jam sibuk KRL, karena kita enggak akan ganggu KRL.

 

 

Kunjungan Dirut Railink Heru Kuswanto ke Kantor KLY
Direktur Utama PT Railink Heru Kuswanto saat berkunjung ke kantor Kapan Lagi Youniverse di Jakarta, Kamis (15/11). Kunjungan tersebut untuk bersilaturahmi dan melakukan wawancara seputar kereta bandara. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sejauh ini apa kendala yang dirasakan untuk kereta bandara beroperasi maksimal?

Kendala lebih ke arah yang memang pekerjaan belum selesai. Jadi itu yang paling utama, kemudian kalau itu selesai dalam 1 sampai 2 tahun saya yakin daya saing KA Bandara juga semakin bagus. Lebih ke banyak itu sebenarnya.

Selain di Soekarna Hatta, ada rencana untuk mengoperatori kereta bandara lain? 

Sebenarnya kalau dari hitungan awal, yang sangat masuk itu Yogyakarta itu bagus. Ketika nanti sudah beralih ke bandara baru. Kemudian Denpasar juga bagus, kemudian Juanda juga bagus.

Tapi ini memang kita perlu penjajakan lebih detail lagi. Kemudian yang dekat kami juga dengan BJB sudah punya Mou. Namun nanti realisasinya juga masih tergantung perkembangan dari BJB, sampai terpenuhi sekian pax (jumlah penumpang) per tahunnya.

Kami berharap kalau sudah mencapai 10 juta pax penumpang pesawat di BJB per tahun, mungkin kami pertimbangkan buat bisa masuk.

Bagaimana perkembangan KA Bandara di Medan?

Di Medan terus bagus. Kemarin 2011 juga sudah mulai hijau (kinerja) terus bertumbuh. Itu KA Bandara kita pertama kita yang di Medan.

Bila membandingkan antara Medan dengan Jakarta, KA bandara mana yang pertumbuhannya lebih cepat?

Medan sudah beroperasi dari 2013 sejak Juli, berarti sudah 5 tahun ya. Lima tahun kemarin di tahun keempatnya sudah mulai hijau.

Kalau di sini karena lebih banyak ke arah pekerjaan rumah kami yang belum selesai infrastrukturnya. Kalau dihitung saat ini ya belum bagus. Tapi saya yakin dalam 2 tahun ke depan lonjakannya akan semakin bagus.

Bagaimana kondisi keuangan Railink sampai kuartal III?

Kita belum BEP. Kalau proyek-proyek infrastruktur kan memang masa itunya panjang. Butuh waktu panjang.

Berapa lama prediksi Railink bisa meriah untung?

Kalau yang Medan kan sudah. Kalau Soetta kalau dalam prediksinya feasibility study paling enggak tahun ke-6 itu sudah (untung).

Itu pun dengan catatan sebenarnya semua pekerjaan rumah sudah selesai. Memang hari ini kita sudah beroperasi tapi kan pekerjaan rumah belum selesai. Nah, itu menjadi catatan sendiri.

Boleh dibagikan pengalaman berkesan Bapak selama memimpin Railink?

Pengalaman lebih ke arah tantangan mungkin ya. Tantangan luar biasa terutama ketika fase pembangunan fisik, terutama pemangkasan lahan. Itu pengalaman yang berharga bagi kami dan teman-teman dari PT Kereta Api, karena benar-benar menguras energi.

Tapi pada akhirnya fase itu bisa kita lalui, kemudian menginjak pada pembangunan fisik yang lain dan sekarang tantangannya lebih ke arah bagaimana terus mengambil demand ini karena demand sebenarnya besar.

Penumpang pesawat di Soetta ini kan luar biasa sebenarnya. Jadi besar, cuma bagaimana untuk menarik masyarakat naik KA itu memang butuh waktu dan perjuangan dari kami.

Salah satunya kami dalam waktu dekat harus selesaikan dulu pekerjaan rumah yang belum selesai. Kemudian program-program marketing yang sudah kami rancang, juga kemudian ticketing yang kami sudah siapkan.

 

 

 

 

Kereta Bandara Mulai Beroperasi
Rangkaian kereta Bandara Soekarno-Hatta yang mulai beroperasi memasuki peron stasiun Sudirman Baru, Jakarta, Selasa (26/12). Pada 2 Januari, kereta bandara Soekarno Hatta akan diberlakukan tarif normal yaitu Rp 70.000. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Seberapa besar potensi penumpang kereta bandara Soekarno Hatta?

Terbaru 2017 kemarin, penumpang pesawat di Soekarno Hatta sudah sampai 65 juta setahunnya. Itu belum termasuk masyarakat dengan kepentingan yang lain seperti para pengantar, kemudian orang-orang bisnis, tenant-tenant di sana.

Saya pikir mungkin dari angka 70 juta- 80 juta setahun yang beraktivitas di bandara itu, kalau kita mau ambil 5 persen cukup besar.

Sudah siapkan masyarakat Indonesia itu menggunakan alat transportasi kereta dengan sistem yang modern? Apa imbauan Railink agar masyarakat mau memakai kereta?

Kita bisa belajar dari negara lain, mereka sudah lama memanfaatkan kereta sebagai transportasi. Saatnya kita, masyarakat saatnya beralih pada angkutan umum. Terutama angkutan umum yang massal seperti kereta api.

Karena di situ ada banyak keunggulan yang bisa kita peroleh bersama secara nasional seperti penghematan energi, kemudian pengurangan waktu yang hilang karena kemacetan, saatnya naik KA.

Terutama naik KA bandara. Harus, harus segera dimulai. Masalah kekurangan yang ada akan terus kita evaluasi, perbaiki, evaluasi, perbaiki.

Kalau Railink ada program mungkin edukasi atau mengenalkan kereta bandara ke masyarakat?

Oh terus, jalan terus. Ini tim kita juga terus melakukan. Kita ada Program Edu Wisata juga. Kemudian sekolah-sekolah kemudian juga, itu jalan. Dari Medan sudah mulai dari tahun 2013 udah jalan juga. Di sini juga udah mulai banyak. Itu juga penting ya, mengedukasi masyarakat.

 

Simak wawancaranya dalam video berikut ya:

Live Streaming

Powered by