Klaim Surplus Jagung Kementan Dipertanyakan

Oleh Septian Deny pada 19 Nov 2018, 12:14 WIB
Diperbarui 20 Nov 2018, 12:14 WIB
Panen Raya, Petani Tuban Hasilkan 33,7 Ton Jagung

Liputan6.com, Jakarta Langkah Kementerian Pertanian (Kementan) yang memilih meminjam jagung dari 2 perusahaan pakan ternak besar (feedmill) dinilai sebagai bukti jika Indonesia mengalami masalah pada produksi jagung nasional.

Diketahui, Kementan telah mengajukan pinjaman jagung kepada ‎Charoen Pokphand dan Japfa sebanyak 10 ribu ton.

Pengamat Pertanian Dwi Andreas Santosa menyatakan, adanya peminjaman ini sebenarnya memperlihatkan buruknya tata kelola jagung. Padahal sebelumnya Kementan telah mengklaim adanya surplus jagung sebanyak 12 juta ton. ‎

"Ini kan terungkap ke publik bagaimana tata kelola jagung kita kelihatan sekali buruknya. Antara klaim produksi dan kenyataan berbeda jauh sekali. Ketika Kementan bilang ada surplus 12 juta ton jagung, itu sama saja kita eksportir jagung terbesar se-dunia," ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (19/11/2018).‎

Akibat produksi yang bermasalah, lanjut dia, harga jagung untuk pakan ternak juga melonjak. Menurut Dwi, saat ini harga jagung mencapai Rp 6.000 per kilogram (kg) dan sangat memberatkan peternak.

"Bulog kan disuruh pemerintah impor jagung 100 ribu ton. Nah ini kebutuhan bukan sebulan dua bila lagi. Tapi saat ini juga. Akhirnya terpaksa pinjam sana sini termasuk ke swasta," tutur dia.

Dwi menjelaskan, volume 10 ribu ton pun sebenarnya bukan jumlah yang besar. Pasalnya, 10 ribu ton setara dengan produksi 1 hektare (ha) jagung. Jika jumlah ini saja dilakukan dengan meminjam, maka klaim surplus jutaan ton perlu dibuktikan.

Dia juga memprediksi defisit stok jagung akan terjadi sampai Februari 2019 mendatang. Oleh sebab itu, pemerintah juga harus melakukan antisipasi kebutuhan jagung hingga tahun depan.

"Ini awal masalahnya adalah pada 2016 ketika Kementan mengeluarkan kebijakan pembatasan impor jagung dan kemudian melonjak impor gandum. Itu kalau ditotal-total kita malah rugi. Karena gandum pakan lebih mahal dari jagung, dan di Indonesia tidak bisa kita tanam gandum," tandas dia.

 

2 dari 2 halaman

Pengusaha Sebut Gudang Pabrik Pakan Ternak Tak Cukup Tampung Produksi Jagung

Kementan
Bambang Sugiharto menyatakan bahwa berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) disimpulkan produksi dan pasokan jagung tahun 2018 surplus sebesar 12 juta ton pipilan kering (PK).

Pengusaha membantah jika gudang pabrik pakan ternak (feedmill) menyimpan banyak pasokan jagung pakan sehingga menjadi salah satu penyebab kenaikan harga di pasar. Kenaikan harga jagung pakan saat ini murni dinilai akibat kurangnya pasokan di tingkat peternak.

Ini diungkapkan Ketua Bidang Peternakan dan Perikanan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anton J Supit saat dikonfirmasi Liputan6.com, Kamis (15/11/2018).

"Pertanyaan kami di mana (disimpan jagung). Jadi jangan mengalihkan masalah jika (harga naik) karena logistik dan juga dialihkan jagung langka karena disimpan pengusaha besar," tutur dia.

Dia mengakui jika pabrik harus memiliki jaminan stok sejak kapanpun. Ini karena pabrik memerlukan stok untuk produksi. Namun stok yang disimpan sulit dalam jumlah besar.

Menurut dia, saat ini ada dua permasalahan yang tengah dihadapi peternak di Indonesia. Yakni perihal kenaikan harga pakan yang tinggi dan pasokan yang kurang. 

Selama ini peternak membutuhkan sekitar 800 ribu ton jagung pakan per bulan atau sekitar 8 juta per tahun.

Hal ini dikatakan sesuai hukum pasar. "Kalau lihat pasar tidak bisa dibohongi. Kalau jagung makin naik artinya suplai jagung kurang dan pasti naik seperti yang terjadi di Banten mencapai Rp 6.000 per kg," jelas dia. 

Dia turut mempertanyakan terkait dengan adanya surplus pasokan jagung sebesar 12,9 juta ton. Angka ini dinilai terlampau besar dan membutuhkan gudang yang sangat besar untuk menampungnya. Jagung juga tidak dapat disimpan terlalu lama dalam satu gudang jika mengacu pada kondisi kualitasnya.

Dia pun meminta Kementerian Pertanian (Kementan) segera mengambil langkah sebagai solusi menghadapi kelangkaan pakan ternak. Ini agar tak mempengaruhi produk lanjutan dari ternak seperti telur dan lainnya.

"Risikonya pakan mahal adalah ayam dan telur naik. Padahal harga sulit dinaikkan karena menyangkut daya beli masyarakat," tegas dia.

Ketua Presidium Peternak Layer Nasional Ki Musbar Mesdi membenarkan jika saat ini harga jagung sudah melonjak hingga Rp 5.700—Rp 5.800 per kg, rata-rata secara nasional. Padahal, harga yang direkomendasikan untuk jagung pakan hanyalah Rp 4.000-an per kilogram.

 

 

 

Lanjutkan Membaca ↓