BEI Optimistis 65 Perusahaan Bakal IPO hingga Akhir 2018

Oleh Bawono Yadika pada 16 Nov 2018, 14:54 WIB
20151102-IHSG-Masih-Berkutat-di-Zona-Merah-Jakarta

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) optimistis target 65 perusahaan yang akan melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) bisa tercapai hingga akhir tahun ini. 

Hingga hari ini, sebanyak 51 perusahaan telah tercatat atau resmi melantai perdana di BEI. PT Pool Advista Financa Tbk (POLA) resmi menjadi pendatang baru di pasar modal pada Jumat pekan ini.

"Mudah-mudahan sekitar 65 (perusahaan) akhir tahun ini, karena kita juga sudah melakukan konfirmasi ke perusahaannya, persiapan mereka dan progress bagaimana persiapannya," ucap Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna di Gedung BEI, Jumat (16/11/2018).

Nyoman melanjutkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan para emiten guna mencegah kegagalan rencana IPO dalam waktu dekat ini. Ia menegaskan, target tersebut cukup realistis untuk dipenuhi.

"Seperti saya sampaikan dari jadwal memang untuk tahun ini, kami juga melakukan komunikasi dan konfirmasi dengan mereka untuk mengetahui apakah bahwa do-able di tahun 2018," tutur dia.

Nyoman pun berharap, sampai akhir tahun 2018, para perusahaan yang berencana IPO itu dapat terealisasi dengan baik.

"Mudah-mudahan tidak ada yang berubah. Data yang paling akurat nanti, tapi kita sudah konfirmasi kepada perusahaannya," terang dia.

 

2 of 2

7 Saham Emiten RI Terdepak dari MSCI, Ini Tanggapan Bos BEI

Akhir tahun 2017, IHSG Ditutup di Level 6.355,65 poin
Pekerja tengah melintas di bawah papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Perdagangan saham di penghujung tahun ini ditutup langsung Presiden Joko Widodo (Jokowi). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi angkat suara seputar terdepaknya tujuh saham Indonesia dari daftar Morgan Stanley Capital International (MSCI) Global Small Cap Index.

Dia menuturkan, itu merupakan hal yang wajar terjadi saat MSCI kembali mengeluarkan daftar komposisi saham atau rebalancing saham yang menjadi pembentuk perhitungan indeks MSCI pada November 2018.

"Biasa itu. Biasanya itu selalu ada rebalancing. Apalagi kalau misalnya ada termasuk dari negara lain, terutama China yang dalam pembobotannya naik, berarti yang lain-lainnya emerging marketitu akan menyesuaikan," ujar dia di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu 14 November 2018.

Adapun tujuh saham Indonesia yang didepak dari daftar MSCI antara lain PT Bank Bukopin Tbk (BBKP), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT MNC Investama Tbk (BHIT), PT Siloam International Hospitals (SILO), dan PT Visi Media Asia Tbk (VIVA).

Menanggapi itu, Inarno tak mengelak keputusan MSCI ini turut berpengaruh terhadap pergerakan saham tujuh emiten itu. Namun demikian,  hal itu hanya bersifat jangka pendek.

"Biasanya itu kalaupun ada pengaruh, pengaruhnya enggak akan lama. Kalau misalnya itu pun ada pengaruh, itu bisa jadi kesempatan kita untuk ambil," ungkap dia.

"Ada kalanya kalau rebalancing itu agak overshoot ya, jadi agak terlalu dalam. Itu jadi kesempatan kita untuk ambil sebetulnya," tambah dia.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait

Live Streaming

Powered by
Tragedi Kabut Asap