Hari Belanja Online Nasional Kembali Digelar, Cek Jadwalnya

Oleh Septian Deny pada 13 Nov 2018, 16:30 WIB
Ilustrasi Harbolnas

Liputan6.com, Jakarta Pesta belanja online terbesar di Indonesia, Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) kembali digelar. Pada tahun ini, Harbolnas berlangsung selama dua hari yaitu pada 11-12 Desember 2018.

Ketua Panitia Harbolnas 2018, Indra Yonathan mengatakan, Harbolnas tahun ini mengangkat tema Belanja untuk Bangsa. Tema ini bertujuan guna meningkatkan nilai dari produk lokal di platform e-commerce.

"Pada 11 Desember merupakan edisi produk lokal. Pemain e-commerce akan membantu penjualan produk lokal, dengan tema Belanja untuk Bangsa. Kita cobain belanja produk buatan dalam negeri. Bukan hanya kerajinan, tapi makanan, jaket. Kita juga akan roadshow di 8 kota, untuk ajak makers (UKM) di daerah untuk memasarkan ke online," ujar dia di Jakarta, Selasa (13/11/2018).

Dia juga menjelaskan, pada tahun ini, jumlah e-commerce yang akan ikut dalam program mencapai lebih dari 300 e-commerce. Angka ini meningkat dibandingkan Harbolnas tahun-tahun sebelumnya.

"Waktu awal Harbalnas di 2012 itu cuma 6 e-commerce. Tahun lalu sudah sekitar 254 e-commerce. Tahun ini akan ada lebih dari 300 e-commerce," ungkap dia.

Sementara untuk target transaksi, pada tahun ini ditargetkan mencapai Rp 7 triliun. Angka ini meningkat dari transaksi Harbolnas 2017 yang sebesar Rp 4,7 triliun.

"Tahun ini Harbolnas menargetkan nilai transaksi Rp 7 triliun, meningkat hampir 2 kali lipat dibandingkan tahun lalu," tandas dia.

 

2 of 2

Alibaba: Transaksi Online di Indonesia Bisa Capai Rp 413 Triliun di 2018

Orang belanja online
Ilustrasi Orang belanja online (iStockPhoto)

Alibaba Group menilai, pertumbuhan bisnis di sektor e-commerce Indonesia sangatlah cepat. Hal ini disampaikan Vice Chairman Alibaba Group Joe Tsai, yang mengaku terkejut dengan perkembangan pesat pelaku usaha digital di Indonesia.

Dia memprediksi, total transaksi atau Gross Merchandise Volume (GMV) di pasar online Indonesia pada 2018 ini bisa mencapai USD 28 miliar, atau sekitar Rp 413 triliun.

"Tahun ini, kami berharap Indonesia bisa meraup total GMV sebesar USD 28 miliar yang berasal dari berbagai platform. Dalam hal ini, kita melihat adanya suatu tren yang penting dan menarik," ungkap dia di Shanghai, Senin (12/11/2018).

Sebagai contoh, ia menyebutkan, media sosial memiliki dampak yang begitu besar bagi masyarakat Indonesia.

"Tapi sampai tahun ini hal itu belum begitu besar, lantaran beberapa platform e-commerce lokal sudah terlalu kuat. Misalnya Tokopedia, dimana kita punya investasi di sana," paparnya.

Oleh karenanya, Joe Tsai melanjutkan, Alibaba coba membangun kemitraan dengan beberapa pihak e-commerce besar di dalam negeri agar bisa masuk ke pasar Indonesia.

"Sekarang kami punya Lazada, yang sepenuhnya kami operasikan dan sangat bagus dalam hal bisnis B2C, khususnya logistik. Sementara dalam konteks C2C, kita bermitra dengan Tokopedia," ucapnya.

"Sedangkan untuk Alipay, kami juga punya partner yang tempo hari sudah meluncurkan mobile wallet, DANA," dia menambahkan.

Lebih lanjut, dia menyampaikan, Alibaba pun telah coba bernegosiasi dengan Bank Indonesia agar Alipay bisa digunakan sebagai alat transaksi perdagangan di Indonesia.

"Kami juga akan mulai berpartner dengan Bank Indonesia, soalnya pelaku usaha lokal berdiri di bawah payung mereka. Dengan bermitra bersamanya, Alipay punya kesempatan masuk ke merchant-merchant mereka," tutur dia.

Tonton Video Ini:

Lanjutkan Membaca ↓