Pengoperasian PLTB Tolo Jeneponto Dipercepat

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 07 Nov 2018, 11:15 WIB
Diperbarui 07 Nov 2018, 12:17 WIB
Keren, Satu Lagi Kebun Angin Raksasa di Sulsel

Liputan6.com, Jakarta - ‎Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tolo Jeneponto, Sulawesi Selatan, dipercepat. Saat ini pembangunannya telah mencapai 97 persen.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar ‎mengatakan, dari 20 Wind Turbine Generator (WTG) yang direncanakan, 17 WTG telah terpasang. Control building dan service building juga telah selesai konstruksi. Melihat kondisi tersebut, maka PLTB Tolo dapat beroperasi pada akhir  2018 lebih cepat dari target tahun depan.

"Visi kita ke depan adalah energi terbarukan. Tidak boleh terus bergantung ke energi fosil. Pembangunan PLTB ini akan memperkuat pasokan listrik nasional. Cadangan atau reserve margin listrik kita diupayakan lebih dari 30 persen," kata Arcandra di Jakarta‎, Rabu (7/11/2018)

Menurut Arcandra, pemerintah terus berupaya mempercepat pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan mendorong industri tersebut makin kompetitif. Hal ini untuk memenuhi target porsi EBT dalam bauran energi sebesar 23 persen pada 2025.

"PLTB Tolo ini adalah salah satunya. Kita juga kembangkan jenis pembangkit yang lain, seperti panas bumi, hidro, surya, biomassa, biogas. Semua potensi EBT yang ada di Indonesia kita kembangkan, sehingga kita bisa menyuplai kebutuhan energi rakyat Indonesia yang tidak tergantung kepada negara lain. Itu visi kita ke depan," papar Arcandra.

Dari segi teknis, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) PLTB Tolo mencapai sekitar 42 persen. Dengan tinggi 133 meter (m) dan panjang baling-baling 63 m, masing-masing turbin mampu mengalirkan listrik sebesar 3,6 Megawatt (MW), sehingga kapasitas totalnya mencapai 72 MW.

"Ini (PLTB TOLO) tinggi towernya lebih tinggi dari PLTB Sidrap. Blade juga lebih panjang dari Sidrap. Tower PLTB Tolo ini lebih tinggi dari Monas," katanya.