Fitch Turunkan Peringkat Kredit, Ini Kata Lippo Karawaci

Oleh Arthur Gideon pada 06 Nov 2018, 18:15 WIB
Diperbarui 06 Nov 2018, 19:17 WIB
20161110-Hari-ini-IHSG-di-buka-menguat-di-level-5.444,04-AY2

Liputan6.com, Jakarta - PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) menyesalkan keputusan Fitch yang menurunkan peringkat kredit LPKR dari B ke CCC+.  Manajemen Lippo Karawaci berkeyakinan bahwa keputusan tersebut tidak berdasar.

Senior Manager Investor Relations Lippo Karawaci William Wijaya Utama mengatakan, manajemen mengetahui adanya kekuatiran Fitch mengenai likuiditas yang telah disampaikan pada bulan Mei tahun ini. Namun, Lippo telah sukses melaksanakan rencana divestasi asetnya dengan menyelesaikan penjualan First Reit Manager serta penjualan sebagian unit First Reit senilai Rp 2,2 triliun.

Bila digabungkan dengan penjualan Lippo Mall Puri ke Lippo Mall REIT, dan penjualan sisa unit di First Reit, serta saham investasi kami di Rumah Sakit di Myanmar, Perseroan akan mengumpulkan dana tunai bersih lebih dari Rp 6 triliun.

Divestasi aset ini sedang dalam tahap penyelesaian akhir, dan meskipun risiko dalam pelaksanaannya tetap ada, kami berkeyakinan karena tingginya kualitas aset akan memberikan tingkat kepastian penyelesaian yang tinggi di tengah volatilitas pasar pada saat ini," jelas dia seperti dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (6/11/2018). 

William  melanjutkan, Lippo Karawaci akan berada dalam posisi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan likuiditasnya, dan bahkan dapat memanfaatkan peluang-peluang yang menarik yang sesuai dengan volatilitas pasar.

 

2 of 2

Neraca

Terjerat Perizinan, Pembangunan Proyek Meikarta Tetap Berjalan
Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan Apartemen Meikarta di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (18/10). Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan sejumlah pihak diduga menerima hadiah Rp 13 M terkait proyek Meikarta. (Merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Saat ini, Lippo Karawaci juga memiliki posisi neraca yang kuat dan profil jatuh tempo utang yang panjang.

Obligasi USD 75 juta yang akan jatuh tempo di Juni 2020, diikuti dengan obligasi USD 410 juta pada tahun 2022, dan sisanya obligasi USD 425 juta pada tahun 2026.

Seluruh utang sekitar Rp 14 triliun dibandingkan dengan nilai aset perseroan sebesar Rp 53 triliun , yang memiliki potensi 30 persen lebih tinggi jika dinilai kembali dengan mencerminkan harga pasar pada saat ini.

Dia menambahkan, pada aspek model bisnis, LPKR telah mengembangkan perusahaan besar dengan pangsa pasar terdepan di beberapa sektor seperti rumah sakit melalui PT Siloam International (SILO), mal termasuk Lippo Mall Puri, pengembangan kota mandiri, hotel melalui Hotel Aryaduta, dan Manajemen Aset.

Lanjutkan Membaca ↓