Kemenhub Gandeng Boeing dan GE Bantu Evaluasi Usai Jatuhnya Pesawat Lion Air

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 03 Nov 2018, 17:15 WIB
Diperbarui 03 Nov 2018, 17:15 WIB
Boeing 737 MAX 8 milik Lion Air (foto: Camelia)
Perbesar
Boeing 737 MAX 8 milik Lion Air (foto: Camelia)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah menggelar pertemuan dengan pihak Boeing selaku produsen pesawat dan General Electric (GE) selaku produsen mesin pesawat.

Hal ini terkait jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 PK-LQP pada Senin 29 Oktober 2018 di sekitar Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Pelaksana Tugas Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Pramintohadi Sukarno, mengatakan pertemuan tersebut antara lain membahas permintaan kepada Boeing dan General Electric untuk memberikan support kepada Lion Air dan Garuda Indonesia terkait operasional penerbangan jenis pesawat Boeing 737-8 MAX. 

"Kita juga minta Boeing untuk membantu dalam proses evaluasi terkait repetitive problems, pelaksanaan troubleshooting, kesesuaian antara prosedur dan implementasi pelaksanaan aspek kelaikudaraan dan juga kelengkapan peralatan (equipment) untuk melakukan troubleshooting," kata dia di kantornya, Sabtu (3/11/2018).

Selain itu, Boeing dan General Electric akan tetap berkomunikasi secara intensif dengan Ditjen Hubud. Untuk mempercepat evakuasi dan pencarian mulai hari ini jumlah personel ditingkatkan menjadi 869 dari hari sebelumnya 858 personel.

Personel itu terdiri Badan SAR Nasional (BASARNAS), TNI Angkatan Darat (AD), TNI Angkatan Laut (AL), TNI Angkatan Audara (AU), POLRI, Petugas Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Bea Cukai, Palang Merah Indonesia (PMI) serta Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla), dan ditambah Indonesia Diver, Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Semarang.

Data dari Badan SAR Nasional (BASARNAS) total kantong jenazah, yang dievakuasi hingga hari ini telah 73 kantong terdiri dari delapan kantong pada 2 November, 1 November ada sembilan kantong, 31 Oktober delapan kantong, 30 Oktober 24 kantong, 29 Oktober 24 kantong. (Yas)

 

2 dari 2 halaman

Lion Air Jatuh, Kemenhub Lanjut Periksa Pesawat Seluruh Maskapai

Boeing 737 MAX-8 pertama di Indonesia yang dioperasikan oleh Lion Air.
Perbesar
Boeing 737 MAX-8 pertama di Indonesia yang dioperasikan oleh Lion Air.

Sebelumnya, menindaki insiden kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin 29 Oktober 2018 silam, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan lanjut menguji kemampuan terbang pesawat dari seluruh maskapai penerbangan.

Pengujian ini dilakukan kepada sekitar 30-40 persen dari seluruh pesawat udara yang dimiliki masing-masing maskapai Lion Air.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, M Pramintohadi Sukarno, menyampaikan, pihaknya sebenarnya rutin melakukan pemeriksaan setiap bulan terkait pengoperasian pesawat udara.

"Namun untuk kali ini memang kita meningkatkan mengintensifkan proses pengawasan dan pemeriksaan. Ini juga kita lakukan terhadap pesawat-pesawat yang beroperasi. Tidak hanya khusus untuk jenis pesawat Boeing 737 Max 8 saja," ucap dia di Jakarta, Jumat 2 November 2018.

Kementerian Perhubungan juga sudah meneliti sebanyak 11 pesawat Boeing 737 Max 8, dimana satu diantaranya dioperasikan Garuda Indonesia, dan 10 sisanya merupakan milik Lion Air. Hasilnya, tidak ditemui gangguan teknis sehingga 11 unit pesawat itu tetap dapat dioperasikan.

"Dalam pemeriksaan (11 pesawat), ada satu pesawat yang memiliki temuan, namun berkategori minor. Itu sudah diselesaikan dalam kondisi baik," sambung Pramintohadi.

Tidak hanya Boeing 737 Max 8, Pramintohadi melanjutkan, Kemenhub akan lanjut memeriksa sekitar 30-40 persen unit pesawat yang dimiliki oleh tiap pihak maskapai penerbangan.

"Soal proses pemeriksaan pada semua maskapai yang sedang berjalan, rata-rata kita lakukan sekitar 30 persen sampai 40 persen per maskapainya," ujar dia.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓