Haruskah Bandara Husein Tutup demi Kebangkitan Kertajati?

Oleh Tommy Kurnia pada 03 Nov 2018, 18:30 WIB
Diperbarui 03 Nov 2018, 18:30 WIB
Bandara Kertajati
Perbesar
Bandara Kertajati. Dok: Tommy Kurnia/Liputan6.com

Liputan6.com, Majalengka - Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka berusaha dioptimalkan. Sejumlah tantangan seperti jalur penghubung telah ditangani pihak bandara dengan membangun jalan tol Cileunyi Sumedang Dawuan (Cisumdawu).

Masalah lainnya adalah terjadinya "persaingan" dengan Bandara Husein Sastranegara. Rencana menutup bandara di Bandung itu pun muncul sebagai satu dari tiga opsi yang disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Sugihardjo.

Tiga opsi tersebut ialah ditutup sama sekali untuk dijadikan bandara militer, dibiarkan beroperasi penuh, atau ada pembatasan operasi. Menurut dia, perlu ada kebijakan dan keputusan mengenai Bandara Husein Sastranegara.

Apabila Bandara Husein ditutup dan dioperasikan untuk militer, Sugihardjo mengakui akan ada dampak besar bagi Bandara Kertajati.

"Tapi harus dikalkulasi dampak terhadap masyarakat, karena masyarakat ada yang tujuannya Bandung, ini apakah nanti ada layanan terusan dan sebagainya?" ujar dia pada lokakarya Kementerian Perhubungan, Sabtu (3/11/2018) di Lembang.

"Jadi, ini Bandara Kertajati jangan sampai merugikan masyarakat," imbuh dia.

Membiarkan Bandara Husein beroperasi penuh, mengikuti opsi kedua, juga termasuk kategori ekstrim karena tidak memberi iklim kondusif bagi perkembangan Bandara Kertajati. Tujuan pembangunan dari Bandara Kertajati pun tidak tercapai.

Sugihardjo menjabarkan opsi ketiga yang dipandangnya sebagai jalan tengah. "Ada opsi yang jalan tengah. In-between. Jadi memang harus ada sebagian operasi (di Bandara Husein) yang dibatasi," ujarnya.

Mengenai keputusan mana yang terbaik untuk Bandara Kertajati, Sugihardjo menyerahkannya pada pihak pengambil keputusan. Dijelaskan olehnya, perlu ketegasan dalam mengambil arah kebijakan terkait Husein-Kertajati.  Ia berharap kepada Menteri Perhubungan dan Dirjen Udara, sehingga semua pihak dapat membuat planning.

2 dari 2 halaman

Insentif untuk Tenant dan Maskapai

Bandara Kertajati
Perbesar
Bandara Kertajati. Dok: Tommy Kurnia/Liputan6.com

Pada hari sebelumnya, Direktur Operasional dan Pengembangan PT BIJB Agus Sugeng Widodo menerangkan ada masalah "telur dan ayam" di Bandara Kertajati. Yakni, maskapai menolak beroperasi karena tidak ada penumpang, dan penumpang tak bisa mengandalkan Bandara Kertajati karena tiadanya pesawat.

Hal yang sama terjadi pada tenant. Sugihardjo memberi saran agar memberikan insentif pada para tenant agar berminat di bandara Majalengka itu.

"Di samping fasilitas, maka ada insentif. Kalau baru lalu charge seperti biasa, ya enggak akan jadi. Supaya tenant tumbuh paling tidak yang di-charge biaya kebersihan dan listrik. Yang lainnya digratiskan dulu sampai tumbuh," kata dia.

Ia pun mengajak adanya keberpihakan dari pihak bandara agar maskapai yang lebih dulu beroperasi di Bandara Kertajati mendapat insentif berupa proteksi. Sehingga, mereka yang awalnya merugi dapat diprioritaskan ketika bandara telah berkembang sampai kerugian mereka di tahap awal bisa terlunasi.

"Bukan berarti kita memproteksi rute yang merintis itu. Tapi kita menghargai jasa airline yang merintis itu, jadi sementara diproteksi. Begitu penderitaannya sudah dibayar, dia enggak boleh jadi monopoli," ujar Sugihardjo.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓