Kenapa Maskapai Dunia Borong Boeing 737 Max?

Oleh Tommy Kurnia pada 01 Nov 2018, 18:00 WIB
Boeing 737 MAX 8 milik Lion Air (foto: Camelia)

Liputan6.com, Jakarta - Pesawat Lion Air JT 610 yang terjatuh di perairan Tanjung Karawang pada Senin pagi, 29 Oktober 2018. Maskapai memakai pesawat keluaran terbaru yaitu Boeing 737 Max 8.

Pesawat Boeing 737 Max merupakan andalan Boeing dan penjualannya paling laku sepanjang sejarah perusahaan asal Seattle itu. Berkali-kali, Boeing membandingkan keunggulan mekanis Boeing 737 Max dengan pesawat buatan Airbus.

Kecanggihan yang dipamerkan Boeing juga diimbangi besarnya pesanan pembelian yang diterima perusahaan. Dilansir dari The Telegraph, total pemesanan Boeing 737 Max sampai dengan 30 September 2018 adalah 4.783 unit. Jumlah itu naik 477 unit dari tahun sebelumnya.

Boeing Max merupakan generasi keempat dari pesawat 737, dan dikembangkan dari pertengahan tahun 2000-an. Salah satu keunggulan Boeing 737 Max adalah menjanjikan perawatan yang memakan waktu lebih singkat ketimbang Airbus a320.

Faktor lingkungan turut diperhitungkan dalam pengembangan Boeing 737 Max. Polusi suara dipastikan berkurang dan juga lebih hemat konsumsi bahan bakar.

Boeing 737 Max pun menarik minat maskapai penerbangan biaya rendah alias low-cost. Menurut data The Telegraph per 30 September 2018, ada 70 maskapai pemesan Boeing 737 Max. Maskapai low-cost seperti Southwest Airlines asal Amerika Serikat (AS) memesan sebanyak 280 Boeing 737 Max.

Selanjutnya, maskapai Flydubai memesan 251 pesawat tersebut. Kemudian diikuti Lion Air yang memesan 201 pesawat Boeing 737 Max. Angka itu sedikit berbeda dari klaim Lion, yakni 218 pesawat.

Pasca-kecelakaan pesawat Lion Air JT 610, Kementerian Perhubungan memberi instruksi pemeriksaan kelayakan pesawat jenis Boeing 737 Max 8 di Indonesia. Hasilnya, semua pesawat yang diperiksa dinyatakan laik terbang.

2 of 2

Kemenhub Sebut Lion Air JT 610 Jatuh di Karawang Layak Terbang

Pencarian Lion Air JT 610 Dilanjutkan hingga Malam Hari
Personel TNI saat akan mencari puing serta korban pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10). Lion Air JT 610 teregistrasi dengan PK-LQP dan berjenis Boeing 737 MAX 8. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Mohamad Pramintohadi Sukarno mengatakan, pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh diperairan Karawan layak terbang.

Meskipun, kata dia, sebelumnya sempat diperbaiki oleh tim teknisi. 

"Sebenarnya sudah ada pesawat dengan kondisi layak terbang. Di posisikan dari Bali ada beberapa indikator yang mengalami gangguan dan sudah diperiksa oleh engineer dilakukan perbaikan dan dinyatakan sudah oke rilis," kata Pramintohadi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 30 Oktober 2018.

Pesawat Lion Air rute Jakarta-Pangkal Pinang dengan nomor penerbangan JT 610 jatuh di sekitar Tanjung Karawang, Jawa Barat sekitar.

"Laporan dari petugas di Tanjung Karawang," kata operator VTS Tanjung Priok, Suyadi saat dihubungi merdeka.com, Senin 29 Oktober.

Pesawat tipe B737-8 Max tersebut dilaporkan telah hilang kontak pada 29 Oktober 2018 pada sekitar pukul 06.33 WIB. Pesawat ini berangkat pada pukul 06.10 WIB dan sesuai jadwal akan tiba di Pangkal Pinang pada Pukul 07.10 WIB.

"Pesawat sempat meminta return to base sebelum akhirnya hilang dari radar," kata Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Dirjen Perhubungan Udara, Sindu Rahayu.

Lanjutkan Membaca ↓