Lion Air Jatuh, Malaysia dan Singapura Tawarkan Bantuan Investigasi

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 29 Okt 2018, 17:43 WIB
Diperbarui 29 Okt 2018, 17:43 WIB
Evakuasi korban Lion Air JT 610 yang jatuh di Tanjung Karawang. (Merdeka.com)

Liputan6.com, Jakarta - Pesawat Boeing 737 MAX 8 yang dioperasikan oleh PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) dengan kode penerbangan JT-610 dari Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta menuju Bandar Udara Depati Amir, Pangkal Pinang jatuh di perairan Laut Jawa.

Di dalam pesawat terdapat 188 orang yang terdiri dari dua pilot, lima awak kabin, dan 181 penumpang. Pesawat take off dari Bandar Udara Soekarno sesuai informasi dari Jakarta Air Traffic Controller (Jakarta Control).

Wakil Ketua KNKT Haryo Satmiko menyatakan, saat ini pihaknya telah mengirimkan tim ke lokasi jatuhnya pesawat.

Jatuhnya pesawat ini juga menjadi perhatian negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Bahkan mereka menawarkan bantuan untuk investigasi kecelakaan ini.

"Dalam investigasi ini KNKT menerima tawaran kerjasama dan bantuan dari pihak Singapura TSIB (Transport Safety Investigation Bureau) dan Malaysia AAIB (Air Accident Investigation Bureau)," kata Haryo kepada wartawan, Senin (29/10/2018).

Dia menjelaskan kronologis kecelakaan itu terjadi. Dimana pada jam 06.20 WIB, pesawat berangkat dari Jakarta dan diperkirakan tiba di Pangkal Pinang pada jam 07.20 WIB.

Pada jam 06.22 WIB, pilot menghubungi Jakarta Control dan menyampaikan permasalahan flight control saat terbang di ketinggian 1.700 ft dan meminta naik ke ketinggian 5.000 ft. Jakarta Control mengizinkan pesawat naik ke 5.000 ft.Pada jam 06.32 WIB, Jakarta Control kehilangan kontak dengan pesawat PK-LQP.

Pada sekitar jam 08.00 WIB, KNKT menerima informasi dari pihak Lion Air mengenai kejadian dimaksud.

 

2 dari 3 halaman

Bentuk Command Center

Lion Air Jatuh, Bandara Soetta Bersiap Kumpulkan Data Antemortem Korban
Petugas ARFF membawa tandu lipat di Gedung VIP Terminal 1B, Bandara Soetta, Tangerang, Senin (29/10). Tanda lahir, tato, bekas luka, cacat tubuh, foto diri, berat dan tinggi badan, serta sampel DNA juga jadi data antemortem. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

KNKT membentuk command center di kantor KNKT, untuk berkoordinasi dengan pihak Lion Air, BASARNAS, AirNav Indonesia, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, BPPT, PELINDO II, BMKG, Otoritas Pelabuhan Tanjung Priuk dan pihak lain.

Jam 08.30 WIB, Ketua KNKT dan investigator KNKT bergabung dengan Kepala BASARNAS di Posko BASARNAS, Kemayoran, Jakarta.

Jam 09.40 WIB, tim investigator KNKT menuju ke Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara untuk berkoordinasi dengan BPPT guna pemakaian Kapal Baruna Jaya IV dalam pencarian lokasi jatuh pesawat dimaksud, dimana Kapal Baruna Jaya IV memiliki peralatan Multi Beam Sonar.

Jam 10.00 WIB, Ketua KNKT bersama Kepala BASARNAS melakukan konferensi press mengenai kepastian informasi pesawat jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Jam 10.30 WIB, tim investigator KNKT menuju ke Bandar Udara Soekarno Hatta untuk mengumpulkan data penerbangan di AirNav Indonesia dan Lion Air.

Jam 10.56 WIB, KNKT melakukan koordinasi dengan pihak BMKG terkait kondisi cuaca.

Jam 13.30 WIB, KNKT mengirimkan occurrence notification kepada pihak ICAO (International Civil of Aviation Organization), Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Amerika Serikat NTSB (National Transportation Safety Board) dan India AAIB (Aircraft Accident Investigation Bureau).

Jam 14.00 WIB, tim investigator KNKT menuju ke Pelabuhan Tanjung Priuk untuk berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut guna pemakaian KN. Enggano, dengan membawa pinger locator milik KNKT untuk mencari lokasi jatuh pesawat dimaksud.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓