Menhub Sebut Ada Indikasi Pesawat Lion Air Tak Bisa Lanjutkan Penerbangan

Oleh Arthur Gideon pada 29 Okt 2018, 15:20 WIB
Diperbarui 29 Okt 2018, 15:20 WIB
Menteri Perhubungan Budi karya Sumadi memberi keterangan pers kasus kandasnya KM Lestari Maju (Liputan6.com/Eka Hakim)

 

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan adanya indikasi bahwa pesawat Lion Air JT610 yang jatuh di Perairan Tanjung Karawangh terindikasi tak bisa melanjutkan penerbangan.

"Dari pengamatan yang ada memang ada indikasi bahwa pesawat tidak bisa lanjut terbang, tapi kami masih klarifikasi dan tetap berharap kemungkinan terbaik," kata Budi seperti dikutip dari Antara, Senin (29/10/2018). 

Budi menyampaikan keprihatinan atas pesawat Lion Air yang jatuh di perairan Tanjung Karawang tersebut, seraya menugaskan pihak terkait untuk melakukan pengamatan lebih jauh.

"Saya tentu prihatin dan menugaskan beberapa pihak stakeholder dalam menangani itu Dirjen udara, KNKT, Basarnas untuk melakukan suatu pengamatan lebih jauh," ujarnya.

Budi sendiri mendengar kabar bahwa pesawat jenis Boeing 737 tersebut kehilangan kontak sejak pukul 06.00 WIB.

Untuk itu, BUdi menyampaikan pihak Kemenhub membuat pusat informasi terkait pesawat Lion Air yang jatuh di di terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta.

"Oleh karena kami membuat crisis center di Terminal 1 Bandara Soekarno Hatta. Saya akan ke sana sekarang," ujarnya sesaat ketika menuju Bandara Soekarno-Hatta.

2 dari 3 halaman

Pertamina Bantu Basarnas Evakuasi Serpihan Pesawat Lion Air JT-610

Puing-puing Pesawat Lion Air
Awak kapal Pertamina mengamati serpihan pesawat Lion Air bernomor penerbangan JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10). (HO/NATIONAL DISASTER MITIGATION AGENCY/PERTAMINA HULU ENERGY / AFP)

Kapal operasi milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) terus membantu upaya evakuasi jatunya pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang.

PHE ONWJ juga sudah menyerahkan sejumlah temuan serpihan dan barang bawaan pribadi yang diduga berasal dari pesawat Lion Air JT-610

Sebanyak 3 kapal milik PHE ONWJ diketahui ikut membantu Basarnas. "Ya kapal kita juga sekarang sudah 3 yang di lokasi, kapal fulmar, victory dan prabu," jelas Juru Bicara Pertamina Hulu Energi, Ifki Sukarya kepada Liputan6.com di Jakarta, Senin (29/10/2018). 

Pada tanggal 29 Oktober 2018 sekitar pukul 06.33 WIB diketahui pesawat Lion Air JT-610 dengan kode pesawat PK-LQP kehilangan kontak di perairan antara Bekasi dan Karawang. Lokasi hilang kontaknya pesawat tersebut cukup jauh dari fasilitas anjungan yang dioperasikan PHE ONWJ.

Begitu mendapat informasi tersebut, PHE ONWJ yang salah satu anjungannya berada di perairan Karawang menugaskan kapal operasionalnya, yaitu Prabu untuk melakukan patroli ke lokasi guna melakukan pengecekan dan pencarian informasi serta memastikan keamanan operasi perusahaan. Terkait kejadian tersebut, operasi perusahaan masih berlangsung aman tanpa gangguan.

Sekitar pukul 10.30 WIB, Kapal Prabu menemukan dan menyerahkan temuan serpihan dan barang pribadi yang ditemukan di sekitar lokasi hilang kontaknya pesawat Lion Air ke kapal Basarnas untuk diserahterimakan.

Sesuai prosedur yang berlaku di PHE ONWJ, sejak diterimanya informasi mengenai hilang kontaknya Lion Air JT-610 di sekitar perairan Tanjung Karawang, segera dilakukan aktivasi Incident Management Team (IMT) untuk memonitor situasi di lapangan.

Atas peristiwa kecelakaan Pesawat Lion Air JT-610 tersebut, Pertamina turut prihatin dan duka cita mendalam.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓