Sri Mulyani Sebut RI Harus Berhati-hati Hadapi Kenaikan Suku Bunga AS

Oleh Merdeka.com pada 22 Okt 2018, 16:42 WIB
Menteri Keuangan Of The Years 2018

Liputan6.com, Jakarta Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian dunia saat ini kepada jajaran eselon Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Sri Mulyani.

Ini disampaikan Sri Mulyani saat menjadi pembicara dalam acara Leadership Training Kementerian Perhubungan (Kemenhub) di Kantor Kemenhub, Jakarta, Senin (22/10/2018).

Sri Mulyani mengatakan, kondisi perekonomian global sekarang ini dihadapkan dengan situasi yang sulit. Hal ini mulai dirasakan sejak terjadinya krisis ekonomi di Amerika Serikat (AS) pada 2008 hingga 2009 lalu yang kemudian merambah ke tanah Eropa.

"Itu krisis di perbankan tapi melebar krisis ekonomi. Waktu itu AS dan Eropa melakukan kebijakan moneter untuk mengurangi dampak krisis yang sangat dalam. Maka mereka melakukan perlawanan terhadap kebijakan moneter," kata dia.

Selama waktu itu upaya yang dilakukan Negeri Paman Sam tersebut yakni menurunkan tingkat suku bunga hingga berada di level 0 persen. Sementara tingkat suku bunga di Eropa berada diangka 0,25 persen.

"Dengan suku bunga begitu rendah Bank Sentral AS dan Eropa memompa uang lebih banyak. Jadi ini obatnya double suku bunga diturunkan uang dicetak. Itu yang sebabkan ekonomi AS Eropa mulai tumbuh lagi digelontorin degan uang dituruni suku bunganya," jelas Sri Mulyani.

Bendahara Negara ini menyampaikan dengan kondisi tersebut maka perekonomian di AS saat ini perlahan berangsur pulih. Perekonomian AS bahkan sudah berada di atas 2 persen, kemudian pengangguran juga diklaim menurun.

Dengan kondisi seperti itu, kata Sri Mulyani maka Indonesia perlu berhati-hati. Sebab dengan keadaan perekonomian yang semakin pulih membuat Bank Sentral AS akan melakukan kebijakan sebaliknya.

Artinya dari yang sebelumnya menurunan suku bunga, maka AS akan menaikan tingkat suku bunganya.

"Sekarang dengan adanya ekonomi (AS) berubah reverse policy-nya maka kita harus hati-hati suku bunga cenderung naik. Pernah gak naik 20 tahun lalu pernah. Suku bunga dia pernah 5 persen. Kalau di AS 5 persen maka di Indoensia lebih tinggi," pungkasnya.

2 of 2

Naikkan Bunga Terlalu Cepat, Trump Sebut The Fed Ancaman Terbesarnya

Presiden Amerika Serikat ke-45 Donald Trump (AP/Nicholas Kamm)
Presiden Amerika Serikat ke-45 Donald Trump (AP/Nicholas Kamm)

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan serangan terhadap the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS. Trump menyebut the Fed sebagai ancaman terbesarnya.

"Karena the Fed menaikkan suku bunga terlalu cepat. Itu independen, jadi saya tidak berbicara dengannya,” ujar Trump dalam wawancara dengan Fox Business seperti dikutip dari laman CNBC, Rabu (17/10/2018).

"Tapi saya tidak senang dengan apa yang dia lakukan karena itu terlalu cepat. Karena Anda melihat inflasi terakhir sangat rendah," tambah dia.

Sebelumnya Donald Trump menyerang the Fed dengan mengatakan bank sentral AS telah "gila". Ia menyalahkan the Fed akibat bursa saham AS atau wall street yang tertekan. Dia "tidak senang" dengan Ketua The Fed Jerome Powell yang terus menaikkan suku bunga.

"Saya tidak menyalahkan siapa pun. Saya menempatkannya di sana, itu mungkin benar dan salah," kata dia.

Trump menyatakan tidak akan pecat Powell meski berulang kali the Fed membuat kesalahan dengan kebijakan moneternya. Dalam sebuah wawancara pada 11 Oktober 2018, dia hanya "kecewa" dengan keputusan Powell.

Serangan terakhir Trump terhadap bank sentral terjadi hanya beberapa jam setelah Departemen Ketenagakerjaan AS melaporkan jumlah lowongan kerja melompat hingga sentuh rekor 7,1 juta pada Agustus.

Itu usai pemerintah melaporkan tingkat pengangguran turun menjadi 3,7 persen pada September 2018. Tingkat pengangguran itu terendah dalam hampir 50 tahun.

Adapun baik the Fed dan pasar antisipasi kenaikan suku bunga untuk keempat kalinya pada Desember 2018. Namun, Trump terus menyuarakan ketidaksetujuannya dengan the Fed. Hal itu membuat sebagian pihak khawatir independensi lembaga itu dalam bahaya.

Pejabat AS mengatakan, Trump menghormati kemampuan the Fed untuk membuat keputusan di luar campur tangan politik.

Mantan Ketua The Fed, Janet Yellen, menuturkan the Fed akan melanjutkan strategi ekonominya bahkan dengan ada kritik terbuka Trump. "The Fed jelas tidak gila dalam hal apa yang dilakukannya," ujar Yellen dalam the World Knowledge Forum.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓