Jack Ma: Lebih Baik Mati di Pantai Daripada di Kantor

Oleh Liputan6.com pada 21 Okt 2018, 07:00 WIB
Diperbarui 23 Okt 2018, 02:13 WIB
Jack Ma Bicarakan Digital Ekonomi di Depan Delagasi IMF-Bank Dunia

Liputan6.com, Beijing - Miliarder asal China Jack Ma bulan lalu menggemparkan industri teknologi saat mengumumkan pengunduran dirinya dari Alibaba Group Holding, raja e-commerce di Asia.

Dalam surat kepada stafnya, Ma menulis ingin membuka jalan bagi generasi yang lebih muda untuk meneruskan industri teknologi. Jack Ma juga beberapa kali berbicara mengenai rencana pensiunnya dalam berbagai acara.

Sang miliarder beberapa kali mengungkapkan ketidakpuasannya dengan gaya hidup yang sibuk dan kerinduannya untuk kembali menjadi seorang guru.

Dilansir dari South China Morning Post, berikut sejumlah rencana Jack Ma untuk masa pensiunnya.

 

2 dari 4 halaman

Mati di pantai, bukan di kantor

Bekerja di Kantor
Ilustrasi Foto Bekerja di Kantor (iStockphoto)

Ma beberapa kali berbicara tentang jadwal penerbangannya yang sibuk sejak pensiun dari posisi CEO Alibaba.

“Ketika saya mundur dari CEO, saya memberi tahu tim CEO saya akan lebih banyak bermain golf di pantai,” jelas Ma dalam sebuah wawancara. Namun kenyataannya, Ma tahun lalu menghabiskan 870 jam di pesawat, dan 1.000 jam untuk tahun ini.

“Yang jelas, saya tidak mau mati di kantor. Saya ingin mati di pantai,” tambah Ma.

Walaupun Ma tidak lagi mengelola operasional harian Alibaba, ia tetap menjadi wajah dari perusahaan yang didirikannya, berkunjung ke berbagai negara untuk bertemu kepala pemerintahan serta memberikan pidato tentang keuntungan globalisasi dan kemajuan teknologi.

3 dari 4 halaman

Menyesal dirikan Alibaba

Kantor Alibaba Group di Hangzhou, Tiongkok.
Kantor Alibaba Group di Hangzhou, Tiongkok. (Liputan6.com/Sunariyah)

Di saat Alibaba menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia bersandingan dengan Apple, Microsoft, dan Amazon, Ma malah sempat mengungkapkan kesalahan terbesarnya adalah mendirikan perusahaan tersebut. 

Ini disebabkan tekanan dan tanggung jawab besar yang harus ia tangani untuk menjelankan perusahaan senilai USD 420 miliar (Rp 6.389,6 triliun) dengan 86 ribu pegawai.

“Saya hanya berusaha membangun bisnis kecil dan tidak bermaksud untuk mengembangkannya hingga sebesar ini, menanggung begitu banyak tanggung jawab dan mendapat banyak masalah,” ungkap Ma dalam International Economic Forum 2016 lalu.

Ia meneruskan, ia harus menjalani hari-harinya sesibuk presiden dan merasa tidak punya kuasa atas hidupnya sendiri.

“Jika saya memiliki hidup kedua, saya tidak akan membangun bisnis seperti ini. Saya akan menjadi diri saya sendiri. Saya ingin menikmati hidup,” tambah Ma.

4 dari 4 halaman

Ingin kembali mengajar

Kisah CEO Alibaba Jack Ma, Dari Guru Miskin Kini Miliarder
Jack Ma pernah menjadi seorang guru Bahasa Inggris dengan bayaran hanya sekitar US$ 12 - US$ 15 per bulan.

Ma beberapa kali menyatakan kerinduannya untuk kembali mengajar. Dalam sebuah talk show, ia mengatakan momen terbahagia dalam hidupnya adalah saat ia hanya menghasilkan 91 yuan atau sekitar Rp 200 ribu per bulan sebagai guru sekolah.

Ma mengajar Inggris di sebuah perguruan tinggi di kota Hangzhou 6 tahun setelah lulus dari Hangzhou Teacher’s Institute pada 1988. Ia banyak disukai karena kelasnya yang seru dan gaya mengajar yang lucu.

“Saya tidak pernah mendapat pelatihan di bidang bisnis, juga tidak pernah menjadi akuntan atau programer. Satu-satunya yang saya lakukan adalah belajar dan berbagi. Saya bekerja sebagai pebisnis dengan cara yang sama seperti seorang guru,” kata Ma.

Ma seringkali menyebut dirinya sebagai “Chief Education Officer” Alibaba, dan ingin eksekutif dari genreasi muda menggantikannya, seperti seorang guru selalu ingin muridnya melebihi dirinya. (Felicia Margaretha)

 

Lanjutkan Membaca ↓