Di Negara Ini, Pelat Nomor Kendaraan Bisa Laku Rp 1,5 Miliar

Oleh Tommy Kurnia pada 09 Okt 2018, 21:01 WIB
Ilustrasi uang dolar

Liputan6.com, Davos - Minat koleksi pelat kendaraan memang tidak biasa, tetapi nyatanya terjadi di Swiss. Sebuah kota di Swiss menjual pelat mobil dengan harga mencapai 100 ribu franc atau setara Rp 1,52 miliar(1 franc: Rp 15.266).

Kota tersebut tak lain adalah Davos, yang terkenal sebagai tuan rumah World Economic Forum (WEF) pada tiap penghujung Januari.

Kota di area pegunungan itu menjual pelat dengan tulisan GR15. Plat itu memiliki makna wilaya timur dari canton (wilayah administrasi) daerah Grisons.

Sebelumnya, nomor tersebut hanya dimiliki kendaraan pemerintah. Di Swiss tidak ada pelat nomor yang tulisannya didesain sendiri atau yang lazim disebut vanity plates.

Keunikan lainnya, pelat GR 35 hanya memiliki dua angka. Sementara, pelat kendaraan di Swiss biasanya memiliki dua huruf yang menadakan canton dan diikuti enam angka.

Oleh karena itu, pelat kendaraan yang memiliki sedikit nomor dan angka signifikan seperti GR 35 ditaksir bisa mencuri perhatian para kolektor. Dan hasilnya bisa memberikan banyak uang. Satu hal lagi, pelat nomor di Swiss juga bisa diwariskan.

Pada awal tahun ini saja, sebuah pelat bernomor ZG 10 laku terjual miliaran rupiah, yakni sampai 233 ribu franc atau setara Rp 3,55 triliun.

Penjualan pelat GR 35 tersebut juga diharapkan bisa membantu menambah anggaran untuk pertemuan WEF selanjutnya di Davos yang dihadiri para pejabat penting keuangan seluruh dunia.

2 of 2

Uang Lama Laku Dilelang Puluhan Miliar

Ilustrasi uang koin (iStock)
Ilustrasi uang koin (iStock)

Bila hobi koleksi plat kendaraan mahal itut terdengar tidak biasa, ada lagi pelelangan yang terbilang wajar serta tak kalah menarik. 

Suka mengoleksi uang lama? Sebuah uang koin lima sen berhasil laku terjual sebesar USD 4,56 juta atau setara Rp 69,2 miliar (USD 1 = 15.180). Penjualan tersebut diadakan di World's Fair of Money di Philadelphia, Amerika Serikat (AS).

Dilansir Metro, uang koin tersebut memiliki harga selangit karena memang hanya ada lima yang tersisa di dunia, yaitu 1913 Liberty Head Nickel.

"Ini sungguh adalah penjualan yang penting dan cocok untuk buku-buku sejarah," ucap Brian Kendrella, presiden dari Stack's Bowers Gallery sebagai pihak pelelang. "Pemilik baru dari Eliasberg nickel ini sekarang memiliki salah satu koin AS yang paling langka dan paling berharga."

Dengan pelelangan tersebut, artinya ada tiga koin tersebut yang dimiliki orang individual. Sementara, dua lainnya dimiliki museum.

Bukan hanya koin, uang kertas lama keluaran tahun 1861 juga laku terjual dengan harga tinggi. Uang USD 50 itu dibanderol seharga USD 1,02 juta atau Rp 14,8 miliar.

Selain pelelangan uang, World's Fair of Money juga menampilkan koleksi uang-uang antik sepanjang sejarah AS. Acara ini diorganisir oleh American Numismatic Association.

Jenis-jenis uang yang dihadirkan adalah koin-koin dari Negara Konferderasi AS dan koin emas seharga USD 1 juta dan emas-emas batangan yang ditemukan saat kapal SS Central America tenggelam pada 1857.

Lanjutkan Membaca ↓