Rupiah Menguat ke 14.892 per Dolar AS

Oleh Arthur Gideon pada 06 Nov 2018, 11:05 WIB
Diperbarui 06 Nov 2018, 11:05 WIB
Rupiah Tembus 13.820 per Dolar AS
Perbesar
Teller menghitung mata uang dolar di penukaran uang di Jakarta, Jumat (20/4). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak menguat pada perdagangan Selasa pekan ini. Penguatan rupiah ini menuju 14.700 per dolar AS. 

Mengutip Bloomberg, Selasa (6/11/2018), rupiah dibuka di angka 14.947 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.976 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.892 per dolar AS hingga 14.947 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 9,11 persen.

Sedangka berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.891 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 14.972 per dolar AS.

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, laju dolar AS melemah seiring dengan aksi lepas dolar oleh investor jelang adanya pemilu tengah semester AS, sehingga berimbas pada penguatan rupiah.

"Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah menguat dengan memanfaatkan pelemahan dolar AS," ujar Reza dikutip dari Antara.

Reza memperkirakan pada Selasa ini rupiah akan bergerak di kisaran 14.983 per dolar AS hingga 14.969 per dolar AS.

Meski dirilisnya angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dianggap di atas ekspektasi, namun, tidak cukup kuat mengangkat rupiah. Bahkan berbalik melemahnya laju dolar AS setelah penguatan selama beberapa hari sebelumnya juga tidak direspon positif.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis PDB kuartal III 2018 naik 5,17 persen, di atas ekspektasi sejumlah pengamat yang memperkirakan di angka 5,14 persen. Pertumbuhan ekonomi itu dinilai tertinggi secara tahunan sejak 2014 atau di masa kepemimpinan Presiden RI Joko Widodo.

Konsumsi pemerintah pada kuartal III 2018 cukup memberikan kontribusi lebih bagi pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut yang tumbuh 5,17 persen.

Meski dinilai di atas ekspektasi, namun angka tersebut jauh lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang mencapai 5,27 persen. Oleh karena itu, pelaku pasar memanfaatkan penguatan rupiah sebelumnya untuk kembali melemah.

2 dari 3 halaman

Penguatan Rupiah Diprediksi Hanya Berlaku Jangka Pendek

Tukar Uang Rusak di Bank Indonesia Gratis, Ini Syaratnya
Perbesar
Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Sebelumnya, ekonom menilai jika penguatan mata uang rupiah hanya bersifat jangka pendek. Salah satu sentimen yang akan membawa rupiah kembali tersungkur ialah kondisi global.

"Penguatan rupiah saat ini, saya yakini tidak akan jangka panjang. Penguatan sekarang lebih karena adanya beberapa data ekonomi domestik yang positif di saat tidak adanya tekanan baru dari global," tutur Direktur Riset Centre of Economic Reform (CORE) Piter Abdullah kepada Liputan6.com, Senin (5/11/2018). 

Piter menambahkan, rupiah berpotensi melemah kembali pada akhir bulan November ini. "Jadi penguatan terjadi ketika tidak ada tekanan global baru. Saya perkirakan akhir bulan November ini rupiah akan kembali mengalami tekanan pelemahan," kata dia.

Momentum penguatan ini harus dimanfaatkan secara optimal oleh Bank Indonesia (BI). Itu guna menjaga nilai tukar rupiah tetap berada pada posisi 15.000 per Dolar AS hingga akhir tahun ini.

Sementara itu, ekonom Insitute For Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira mengungkapkan, perang dagang dan potensi kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS The Fed pada akhir tahun berpeluang besar menggiring rupiah untuk kembali terdepresiasi.

"Sentimen perang dagang bisa berbalik memanas di mana Trump saat ini tengah menyiapkan draft trade deal dengan China. Sementara dari dalam negeri pelaku pasar mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III 2018 sebesar 5,17 persen lebih rendah dari pertumbuhan kuartal II sebesar 5,27 persen," terang Bhima.

Adapun penurunan pertumbuhan ekonomi ini, kata Bhima, disebabkan rendahnya konsumsi rumah tangga paska Lebaran, industri manufaktur yang tertekan kenaikan biaya bahan baku dan pelemahan kurs rupiah.

"Dengan ini, menanggapi rilis data pertumbuhan ekonomi, investor rentan melakukan penjualan bersih atau net sales. Rupiah pekan ini diproyeksi bergerak dikisaran Rp 14.920-15.150," pungkasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Video Pilihan Hari Ini

BERANI BERUBAH: Sayur Online Rezeki Puasa