Rupiah Sentuh 15.100 per USD, Pemilik Dolar AS Tahan Penjualan

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 05 Okt 2018, 17:00 WIB
Diperbarui 05 Okt 2018, 17:00 WIB
Rupiah Tembus 14.600 per Dolar AS
Perbesar
Petugas melayani nasabah di gerai penukaran mata uang di Ayu Masagung, Jakarta, Senin (13/8). Pada perdagangan jadwal pekan, senin (13/08). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh posisi tertingginya Rp 14.600. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sentuh 15.100 sejak Kamis 4 Oktober 2018. Kondisi ini menguntungkan bagi pemilik dolar Amerika Serikat (AS) yang menukarkan ke rupiah.

Namun, fenomena rupiah melemah terhadap  dolar AS tidak membuat pemilik mata uang negeri Paman Sam tersebut terpancing langsung mejual dolar AS. Hal ini diungkapkan seorang petugas penukaran uang di Mall Of Indonesia (MOI) yang tidak ingin disebutkan identitasnya.

Dia menuturkan, saat dolar AS berada di level Rp 15 ribu, transaksi penjualan dolar as ke rupiah di tempat penukarannya justru jauh lebih sepi, ketimbang saat pelemahan rupiah di kisaran level 14 ribu.

"Sekarang jauh lebih sepi, enggak seperti  waktu itu rupiah di 14 ribuan,"‎ kata dia kepada Liputan6.com, di tempat penukaran uang asing Valuta Inti Prima (VIP), kawasan Cikini, Jakarta, Jumat (5/10/2018).

Ia menilai, saat ini masyarakat lebih memilih menahan untuk menjual dolar AS, sebab ada kemungkinan rupiah kembali melemah sehingga harga jual j‎auh lebih tinggi sehingga nominal rupiah yang didapat jauh lebih besar.

"Jadi banyak yang nahan dolar nunggu naik lagi, soalnya pelanggan sepi," kata dia.

Dia mengungkapkan, meski masyarakat yang menjual dolar AS menurun, tetapi jika dibandingkan antara pe‎njualan dengan pembelian dolar AS, dia lebih banyak membeli dolar AS. Nilai transaksi dolar AS ditempatnya mencapai USD 30 ribu per hari.

"Pembeli juga ada. Kalau dibandingkan lebih banyak yang jual, tapi sekarang sepi mereka nahan," kata dia.

Dia mengaku, hasil transaksi valuta asingnya dijual ke pusat ‎penukaran valuta asing VIP, berdasarkan pengalaman yang sudah rutin melakukan penukaran di tempat tersebut saat ini jumlah penukar jauh lebih sedikit.

"Kalau di sini (VIP) pusatnya, jadi money changer dan per orangan juga pada menukar di sini. Ini kondisinya jauh lebih sepi," ujar dia.

 

 

* Update Terkini Asian Para Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di Sini.

 

 

2 dari 2 halaman

Rupiah Sentuh 15.182 per Dolar AS pada Jumat Pagi

Rupiah Menguat 12 Poin atas Dolar
Perbesar
Teller menunjukan mata uang dolar AS di penukaran mata uang, Jakarta, Kamis (13/4). Nilai tukar rupiah terpantau menguat 0,09% atau 12 poin ke Rp13.263 per dolar AS di pasar spot. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih betah di kisaran 15.100 per dolar AS. Sentimen eksternal mendominasi menekan laju nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat pagi 5 Oktober 2018, rupiah dibuka melemah tipis 10 poin ke posisi 15.189 per dolar AS dari penutupan perdagangan kemarin 15.179.Pada pukul 08.48 WIB, rupiah berada di kisaran 15.182 per dolar AS. Jumat pagi ini, rupiah bergerak di kisaran 15.182-15.193 per dolar AS.Rupiah sudah melemah 12,01 persen sepanjang tahun berjalan 2018.

Melihat data Reuters, rupiah menguat tipis terhadap dolar AS. Rupiah berada di kisaran 15.175 per dolar AS dari penutupan kemarin di posisi 15.178 per dolar AS.

Rupiah merosot terhadap dolar AS dinilai dipengaruhi sentiment eksternal yang mendominasi. Hal itu terutama dari kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve. The Federal Reserve menaikkan bunga acuan 25 basis poin menjadi 2,25 persen pada 26 September 2018. Selain itu, dolar AS makin menguat terhadap mata uang negara lain.

Meski demikian, ada sejumlah faktor membuat rupiah makin tertekan pada beberapa hari ini. Ekonom Senior Raden Pardede menuturkan, ada dua faktor membuat rupiah merosot terhadap dolar AS.

Pertama, perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China belum ada penyelesaian. Kedua negara dinilai tetap teguh dengan pendiriannya. Ditambah ada sentimen China melakukan maneuver di Laut China Selatan. "Selain perdagangan, politik (AS-China) tidak baik," ujar Raden saat dihubungi Liputan6.com.

Raden mengatakan, akibat perang dagang AS-China dikhawatirkan dapat menekan pertumbuhan ekonomi China. Hal itu juga berdampak terhadap ekonomi Indonesia.

"Dampak ke Indonesia cukup signifikan. Penurunan pertumbuhan ekonomi China dapat menekan ekonomi Indonesia 0,27 persen,” kata Raden.

Kedua, harga minyak dunia makin menguat. Meski harga minyak turun pada Rabu waktu setempat, harga minyak mentah Brent sudah sentuh posisi USD 84,58 per barel dan harga minyak WTI di posisi USD 74,33 per barel. Raden mengatakan, harga minyak dunia menguat menjadi sentimen negatif untuk negara pengimpor minyak termasuk Indonesia.

Akan tetapi, menurut Raden, rupiah tidak melemah sendirian. Dolar AS menguat berdampak terhadap sejumlah mata uang negara lainnya. “Bukan hanya rupiah tetapi juga mata uang negara lain. Kita tidak bisa melawan mata uang dunia yang menguat,” tutur dia.

Oleh karena itu, Raden mengharapkan Bank Indonesia dan pemerintah dapat waspada dan berjaga-jaga untuk menjaga nilai tukar rupiah. Salah satunya, Pemerintah diharapkan dapat menjaga anggaran dengan baik. Sedangkan BI bisa menjaga volatilitas pergerakan rupiah.

"Pemerintah disiplin jaga anggaran dengan tidak mengeluarkan anggaran yang tidak perlu. Jaga kepercayaan investor luar negeri apalagi dalam negeri," kata dia.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓