UOB Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5,4 Persen pada 2019

Oleh Merdeka.com pada 03 Okt 2018, 16:10 WIB
Diperbarui 03 Okt 2018, 16:10 WIB
2018, Menko Perekonomian Patok Pertumbuhan Ekonomi Harus 5,4 Persen
Perbesar
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta, Sabtu (28/4). Pemerintah menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di angka 5 persen belum memadai. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank UOB Indonesia (UOB Indonesia) memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) alias pertumbuhan ekonomi akan di kisaran 5,2-5,4 persen pada 2019. Hal itu didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat.

Proyeksi tersebut mengemuka dalam forum UOB Indonesia 'Economic Outlook 2019: Riding the wave of progressive economic growth' pada Rabu (3/10/2018), yang merupakan bagian dari rangkaian 2018 IMF and World Bank Annual Meetings yang akan diselenggarakan di Denpasar, Bali.

"Kami memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh antara 5,2 hingga 5,4 persen pada tahun 2019," kata Ekonom UOB Indonesia, Enrico Tanuwidjaja, dalam Konferensi Pers, di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu (3/10/2018).

Dia menuturkan, pertumbuhan ekonomi ini didukung oleh beberapa faktor, antara lain konsumsi rumah tangga yang terjaga, harapan akan pemulihan ekspor yang berkelanjutan, terutama komoditas, dan belanja pemerintah yang stabil.

"Selain itu, posisi cadangan devisa yang lebih tinggi dan deflsit transaksi berjalan yang terkendali diharapkan akan terus menjadi faktor-faktor pendukung utama bagi pertumbuhan ekonomi," ujar dia.

 

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tantangan Eksternal

2018, Menko Perekonomian Patok Pertumbuhan Ekonomi Harus 5,4 Persen
Perbesar
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta, Sabtu (28/4). Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, pertumbuhan ekonomi wajib meningkat hingga 6 persen lebih mulai 2019. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Terkait tantangan eksternal, dia mengatakan, meskipun dalam jangka pendek investor memangkas investasi ke pasar negara berkembang, Indonesia tetap menjadi tujuan investasi asing Iangsung yang menarik berdasarkan potensi pertumbuhan ekonomi dan fundamental yang kuat.

Enrico menambahkan, perekonomian dan reformasi struktural Indonesia yang memiliki daya tahan tinggi juga menciptakan landasan yang kuat bagi kemajuan di masa depan.

"Kenaikan suku bunga Federal Reserve AS dan ketegangan perdagangan global antara AS dan mitra dagangnya, terutama Tiongkok, telah mengakibatkan banyak investor membatasi posisi portofolio investasi mereka. Hal ini akan menyebabkan lebih banyak tekanan pada mata uang dari pasar negara berkembang, termasuk rupiah," kata dia.

Meskipun demikian, fundamental Indonesia yang kuat, ekonomi yang tangguh, potensi pertumbuhan ekonomi digital, dan komitmen tinggi pemerintah dalam meningkatkan dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi akan terus menarik investasi ke Indonesia.

 

Reporter: Wilfridus Setu Embu

Sumber: Merdeka.com

 

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓