Menko Luhut Dorong BMKG Perbarui Sistem Peringatan Dini

Oleh Merdeka.com pada 01 Okt 2018, 18:44 WIB
Diperbarui 02 Okt 2018, 20:14 WIB
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan. (Yayu Agustini Rahayu/Merdeka.com)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengaku prihatin atas kejadian gempa dan tsunami yang menimpa Kabupaten Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.

Atas kejadian itu, Luhut mendorong Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memperbaharui peralatan seperti radar cuaca, system peringatan dini (early warning system).

"Jadi kita yang penting contingency kita ada dan memperbaiki BMKG kita. Tadi kita sepakati bahwa alat-alat dari BMKG harus diperbarui," kata Menko Luhut di Kantornya, Jakarta, Senin (1/10/2018).

Luhut juga menyayangkan, ada beberapa sistem peringatan seperti bouy-bouy atau alat pendeteksi gempa dan tsunami yang telah dicuri oleh orang tak bertanggung jawab.

"Kita juga harus mengingatkan masyarakat agar jangan buoy-buoy (pelampung) sebagai early warning system itu jangan dicuri seperti yang terjadi di Aceh dan wilayah lain. Karena akan fatal akibatnya dan dapat menimbulkan banyak korban jiwa. Saya kira masyarakat harus mengetahui itu," sebut Luhut.

Diketahui, Kabupaten Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah hingga kini masih menjadi kota mati usai diguncang gempa 7,4 SR, Jumat (28/9) lalu. Tak hanya ratusan jiwa melayang, tercatat ratusan bangunan serta fasilitas umum luluhlantak hingga nyaris rata dengan tanah.

Hingga Minggu, 30 September kemarin, sebanyak 832 korban tewas telah ditemukan dan teridentifikasi. Dan di hari itu juga, warga yang meninggal dunia dikuburkan secara massal.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

 

* Liputan6.com yang menjadi bagian KapanLagi Youniverse (KLY) mengajak Anda untuk peduli korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala. Yuk bantu Sulawesi Tengah bangkit melalui donasi di bawah ini.

 

 

Semoga dukungan Anda dapat meringankan beban saudara-saudara kita akibat gempa dan tsunami Palu di Sulawesi Tengah dan menjadi berkah di kemudian hari kelak.

2 of 2

Alat Deteksi Tsunami di Sulteng Rusak Sejak 2012, Ini Penyebabnya

Tsunami di Kota Palu
Orang-orang melihat kerusakan pantai yang terkena tsunami setelah gempa kuat disusul tsunami menghantam Kota Palu di Sulawesi Tengah, Sabtu (29/9). Dampak dari bencana tersebut melulunlantakkan bangunan dan ratusan jiwa meninggal dunia. (AFP/Bay ISMOYO)

Alat deteksi tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) rusak sejak 2012. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyayangkan atas tak berfungsinya alat tersebut.

"Untuk mengukur parameter rusak, silakan berkoordinasi ke Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT). Tanyakan ke mereka. Bukan BMKG dan BNPB," kata Sutopo di Kantor BNPB Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Senin (1/10/2018).

Rusaknya alat deteksi tsunami itu, ungkap Sutopo, karena ulah masyarakat yang berperilaku vandalisme.

"Kenapa (alat deteksi tsunami) rusak? Banyak mengalami vandalisme seperti sensor diambil, lampu kedap kedip diambil. Buat tambatan kapal. Biaya maintenance berkurang. Sejak 2012 rusak," ujarnya.

 

Lanjutkan Membaca ↓